NOVEL JAYANTAKA

N1

Jayantaka harus bertemu dengan seorang Guru Sufi Misterius. Dan proses penggemblengan pun terjadi. Ia tersedot ke dalam perang tanding antara kerajaan Nagur (Suku Simalungun) dengan Samudera Pasai yang masih berkerabat.

Takdirnya belum tunai jika belum menyerahkan benda pusaka Tatar Sunda ke kerajaan Matahari Timur.

 

Untuk Pembelian Novel Sejarah Bisa Menghubungi:

Marsaulina Pandiangan: 08129855181  

David: 081384527122

NOVEL SRIWIJAYA

N2

Tidak mudah menjadi bagian keluarga Lingkar Laksman. Wira puak Melayu ini telah bersumpah senantiasa melindungi wangsa Syailendra. Sementara tugas kemaharajaan Sriwijaya melayani 108 kadatuan Banjaran Nagara sungguh penuh resiko. Setiap tindakan selalu menuai reaksi positif dan negatif. Beruntung mereka dibimbing seorang Resi dan memiliki mandala penopang agar bisa tetap berjaya – sepanjang diindahkan! Rupanya dendam tujuh turunan keluarga Kandra Kayet masih terus membayangi keluarga Tandrun Luah (Lingkar Laksman). Tak ada pilihan, penghukuman mesti dituntaskan.

Untuk Pembelian Novel Sejarah Bisa Menghubungi:

Marsaulina Pandiangan: 08129855181  

David: 081384527122

 



Inilah Penjelasan Anand Krishna tentang Makna Chakra Kelima:

PROSES PEMBERSIHAN

Anand krishna dan Makna Chakra kelima

Anand Krishna dan Makna Chakra Kelima

 

kundalini-yoga

Buku Pegangan Belajar Kundalini Yoga di Indonesia

Setelah kita membaca penjelasan Anand Krishna tentang Chakra Dasar, Kedua, Ketiga dan Keempat, maka sekarang saatnya kita menyelami makna Chakra Kelima, yang dikutip dari buku: KUNDALINI YOGA, Dalam Hidup Sehari-hari, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998halaman 98 – 107.

 

Kasih merupakan kekuatan. Kekuatan kasih mengantar “Lina” ke tingkat kesadaran berikutnya – Chakra Kelima, Chakra Vishuddha. “Vishuddha” berarti “pembersihan”. Kata “wisuda” dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “vishuddha” ini.

Seorang mahasiswa yang diwisuda dan dinyatakan sarjana sesungguhnya mengalami proses pembersihan dan dinyatakan “bersih”. Proses pembersihan apa pula yang ia lewati? Pendidikan dimaksudkan untuk membersihkan manusia dari naluri hewaninya. Wisuda bukan hanya pernyataan “lulus”, tetapi pernyataan “bersih” – bahwa siswa yang diwisuda itu sudah bersih dari naluri hewaninya. Makna ini sudah terlupakan oleh lembaga-lembaga pendidikan kita. Para dosen, para guru – yang seharusnya membantu terjadinya proses pembersihan ini – belum bersih diri.

 

Gedung sekolah animasi2Lembaga-lembaga pendidikan kita sudah melakukan tugasnya. Mereka tidak mampu melakukan pembersihan yang dimaksudkan. Siswa-siswa yang keluar dari lembaga-lembaga pendidikan kita masih buas, masih liar. Naluri hewani mereka masih utuh, belum tersaring, kalau bukannya malah semakin besar dan kuat. Itu sebabnya masyarakat kita masih kacau. Masih saja ada yang menjarah dan merampok dan memperkosa. Kebuasan dan keliaran manusia Indonesia membuktikan kegagalan lembaga-lembaga pendidikan kita.

 

“Lina” sangat beruntung. Ia bertemu dengan seorang sahabat yang akan membantu terjadinya proses pembersihan dalam diri dia. Sahabat Lina ibarat seorang Guru yang mengantar Lina ke tingkat ini, ada resikonya juga. Noda tambahan pada kain yang sudah kotor tidak akan nampak, tetapi setitik noda pada kain yang sudah bersih akan nampak jelas. Berada pada tingkat ini, Anda harus lebih berhati-hati. Sekarang lembaran hati Anda – kain jiwa Anda – sudah bersih. Noda sekecil apa pun akan nampak jelas.

 

orator ulung2

Soekarno Orator Ulung

Tingkat kesadaran ini membuat Anda menjadi lebih percaya diri. Dan semakin mempercayai diri, orang lain pun akan semakin mempercayai Anda. Itu sebabnya, mereka yang mengalami proses pembenahan pada chakra ini bisa menjadi orator, pembicara yang hebat dan meyakinkan. Tetapi pada saat yang sama, munculnya kembali ego merupakan bahaya laten yang harus disadari dan dhindari. Anda menjadi egois, senang mendengarkan suara Anda sendiri, tidak ingin mendengar pendapat orang lain.

 

Itu sebabnya, latihan-latihan Yoga pada tahap ini bertujuan untuk melepaskan diri dari keliaran pikiran. Patanjali meneruskan:

 

“PELEPASAN DIRI DARI KELIARAN TERJADI, APABILA PANCA INDRA TIDAK TERIKAT

PADA OBJEK-OBJEK YANG ADA DAN DAPAT DIKENDALIKAN OLEH PIKIRAN (MIND).”

~Patanjali Yoga Sutra II: 54

Patanjali belum bicara tentang pelepasan diri dari mind. Ia masih menganjurkan penggunaan mind, tetapi mind yang sekarang ini sudah berbeda kualitasnya. Pikiran yang sudah bersih, sudah jernih, sudah mengalami proses “vishuddha” dapat mengendalikan panca indra kita. Objek-objek duniawi sudah tidak dapat merangsang kita lagi. Anda tidak akan tergoda lagi. Bagian kelima Yoga ini disebut Pratyaharadengan sengaja menarik diri atau melepaskan diri dari keliaran pikiran.

 

Perhatikan kelebihan Patanjali. Agar tidak tergoda, tidak terangsang oleh objek-objek duniawi, yang dianjurkan oleh Patanjali adalah “pengendalian diri”. Sebaliknyalah yang dilakukan oleh para pemuka agama kita: mereka mengharamkan objeknya.

 

Mereka yang mengharamkan objek-objek dunia itu tidak menunjang peningkatan kesadaran dalam diri Anda. Arak dilarang, lantas Anda tidak minum arak lagi, tetapi keinginan masih ada – kalau bukannya malah semakin besar dan kuat – sehingga Anda berkhayal tentang arak. Anda tidak minum arak, tetapi mimpi tentang arak. Lantas Anda menulis puisi tentang arak, mengimpikan suatu tempat di sorga, dimana-mana ada sungai-sungai arak. Anda hanya memindahkan arak dari kesadaran jaga ke kesadaran mimpi, ke alam bawah sadar. Anda tidak terbebaskan dari arak.

 

Patanjali tidak percaya pada cara-cara seperti itu. Ia tidak mengharamkan apa pun. Ia menganjurkan pengendalian diri, pelepasan diri. Patanjali seorang jenius!

 

Politik dan Spiritualitas tidak dapat berjalan paralel (lihat juga Reformasi, Gugatan seorang “Ibu” oleh penulis yang sama – Ed.). Politik menuntut pengembangan ego, sedangkan spiritualitas menuntut pelepasan ego. Dalam bidang poltik harus ada yang dipimpin, harus ada yang memimpin, tidak ada yang dipimpin. Seseorang yang menyatakan dirinya sebagai Guru dan pembimbing spiritual, sedang berpolitik-ria. Dia sendiri belum kenal spiritualitas. Spiritualitas menuntut kebersamaan.

 

Peningkatan kesadaran sampai pada tingkat ini membuka peluang baru bagi Anda – memilih ketenaran, menjadi seorang pemimpin, atau memilih kepuasan batin lewat jalan kasih. Banyak di antara kita yang tergoda lagi. Mereka menjadi pemimpin. Mereka menjadi orang besar. Banyak di antara kita yang berupaya untuk memperoleh dua-duanya, ketenaran juga, kasih juga – alhasil, mereka hidup setengah-setengah.

 

Undangan meditasi

Undangan Meditasi di Yayasan Anand Ashram

Pilihan berada di tangan Anda – pilih nama besar dan ketenaran atau pilih kasih dan kepuasan batin. Jangan hidup di antara keduanya. Pilih salah satu. Namun, apabila Anda ingin melanjutkan perjalanan spiritual, pilihan Anda harus kasih dan kepuasan batin.

Pelepasan diri dari keliaran akan mengantar Anda ke Chakra beriktunya, yaitu Chakra Keenam – Agya Chakra, Chakra Pengendali. 

 

————————————————————————–

Bila tertarik ingin mengiktui kelas Ananda’s Neo Kundalini Yoga, terlebih dahulu Anda harus mengikuti kelas persiapannya, yaitu Kelas Ananda’s Neo Stress Management. Teman-teman dapat mengikutinya di kota:

JAKARTA:

Sukmawati: 08788 108 5601

Imus: 08788 511 1979

Joehanes: (SMS Only) 0811 14 4959

JOGJA, SOLO, SEMARANG:

Kiky: 0811258648

Mira: 081805844014

BALI:

Made Mulia: 087 861 228 171

————————————————————-

Silahkan membaca arsip sebelumnya:

1.Anand Krishna dan Makna Chakra Pertama/Dasar

2.Anand Krishna dan Makna Chakra Kedua

3.Anand Krishna dan Makna Chakra Ketiga

4.Anand Krishan dan Makna Chakra Keempat