Latihan Meditasi: Cara Mengenali Potensi Diri dari Dalam

Latihan Meditasi

Setelah memahami apa itu Latihan Meditasi Holistik NSE, lalu bagaimana pengalaman menjalaninya? Apa yang sebenarnya kita temukan ketika mulai mengenali diri dari dalam?

 

 

PADA ARTIKEL SEBELUMNYA, saya telah memperkenalkan apa itu Meditasi Holistik NSE, mengapa manusia perlu melakukan Latihan Meditasi, serta bagaimana metode ini mengajak kita mengenali dan memberdayakan lima lapisan kesadaran kita. Kali ini, saya ingin mengajak Pembaca melihatnya dari sisi pengalaman pribadi. Apa yang sebenarnya kita temukan ketika menjalani latihan tersebut secara teratur?

Dalam pengalaman saya mempraktikkan Metode Holistik NSE – yang dirancang dan diramu oleh Guru Yoga Meditasi Nusantara, Maharishi Anand Krishna, salah satu pengalaman menarik saya adalah mulai menyadari keberadaan sang Penyaksi di dalam diri. Siapa atau apa sang Penyaksi itu? Pertanyaan inilah yang sering diulang oleh Guruji Anand Krishna ketika menuntun latihan Sight Culturing, salah satu latihan dalam metode NSE. Saat itu, Guruji masih menuntun langsung latihan NSE atau SEMEDI (SEni MEmberdaya DIri) ini.

Pertanyaannya sederhana. Ketika mata terpejam, ternyata ada sesuatu yang tetap bisa menyaksikan dari dalam. Jika mata tidak melihat, lalu siapa yang menyaksikan?

Seluruh persiapan dan latihan yang kita lakukan membantu mengarahkan perhatian untuk menyadari hal tersebut. Namun, untuk mulai mengenalinya, kita perlu terlebih dahulu menjalani proses pembersihan diri.

Mengapa pembersihan diri penting? Karena berbagai obsesi, keinginan, ingatan, imajinasi, dan halusinasi yang tidak tepat masih dapat memengaruhi cara kita melihat sesuatu. Semua itu merupakan bagian dari program bawaan Mind (Gugusan Pikiran dan Perasaan) yang dapat mengelabui kita. Jika tidak dibersihkan, pengalaman yang muncul pun bisa tercampur dengan berbagai keinginan dan bayangan kita sendiri.

Melihat diri dari dalam, siapa yang menyaksikan? Berkenalan dengan sang Penyaksi bukan berarti bertemu dengan makhluk gaib atau sesuatu dari luar diri. Dalam pengalaman saya, ia bukanlah entitas asing. Ada sesuatu yang lebih dalam dari diri yang selama ini kita kenali melalui pikiran dan perasaan. Sesuatu yang memungkinkan kita menyaksikan apa yang sedang terjadi, termasuk gerak Mind itu sendiri.

Dari proses inilah rasa percaya diri mulai tumbuh. Saya tidak lagi ingin sepenuhnya bergantung pada pendapat orang lain untuk menentukan siapa diri saya. Bukankah kita sendiri yang semestinya belajar mengenali diri secara langsung, dan bukan hanya menerima penilaian orang lain?

 

Baca juga: Apa Itu Meditasi Holistik NSE?

 

Pengalaman Masa Kecil yang Kembali Saya Temukan dalam Latihan Meditasi

Ada pengalaman masa kecil yang tiba-tiba teringat ketika saya mengikuti latihan meditasi di Anand Ashram (silakan ikuti berbagai program Yoga dan Meditasi reguler di sini.)

Dahulu, ketika masih anak-anak, kami pernah melakukan semacam permainan berlomba menutup mata. Masing-masing bercerita tentang apa yang terlihat ketika mata terpejam. Kadang kami melakukannya cukup lama, bahkan berlomba siapa yang paling lama mampu menutup mata sambil menceritakan apa yang dilihat.

Aneh juga jika dipikirkan sekarang. Kok bisa ada permainan semacam itu dilakukan anak-anak? Siapa yang pertama kali mengajarkannya?

Ada yang bercerita melihat cahaya. Ada pula yang mengatakan hanya melihat kegelapan. Namun, ada satu hal menarik: meskipun mata tertutup, ternyata ada sesuatu yang seolah-olah tetap melihat dari dalam. Tentu saja, ketika masih anak-anak, kami belum mampu menjawab siapa atau apa yang menyaksikan itu.

Pengalaman tersebut kembali saya ingat ketika mengikuti salah satu latihan meditasi NSE. Pertanyaan yang sama ternyata muncul lagi, tetapi kali ini saya mulai memahaminya melalui proses yang berbeda.

Lalu, apa perbedaannya?

Ketika masih anak-anak, saya hanya mengalami sesuatu yang terlihat ketika mata terpejam. Namun, setelah menjalani latihan-latihan pembersihan diri dengan metode NSE, saya mulai merasakan bahwa sang Penyaksi itu bukanlah Mind. Akan tetapi, ada sesuatu yang melampaui Mind itu sendiri.

Mind lama telah melalui proses pembersihan, pemurnian, dan transformasi. Dengan demikian, saya mulai menyadari bahwa Mind bukanlah satu-satunya lapisan yang ada dalam diri. Bahkan, Mind itu sendiri dapat disaksikan.

Artinya, bukan Mind yang menjadi Penyaksi.

Bagi saya, ini merupakan salah satu penemuan menarik dalam perjalanan hidup. Selama ini, kita begitu mudah menganggap pikiran dan perasaan sebagai diri kita sendiri. Namun, melalui pengalaman latihan meditasi, saya mulai menyadari adanya perbedaan antara apa yang sedang dipikirkan dengan sesuatu yang menyaksikan pikiran tersebut.

Lalu, siapa atau apakah sang Penyaksi itu?

Menurut pemahaman dan pengalaman saya, sang Penyaksi berkaitan dengan sesuatu yang lebih tinggi daripada lapisan Mind, yakni dimensi spiritual. Ada yang menyebutnya Atma, Kesadaran, atau Jati Diri. Meskipun demikian, lapisan Inteligensi dan Spiritual yang kita kenali dalam perjalanan NSE tidak serta-merta identik dengan sang Penyaksi itu sendiri.

Saya memilih untuk tidak terburu-buru menyimpulkan pengalaman tersebut. Apakah pengalaman ini benar-benar riil? Saya masih terus mengamatinya. Ada pengalaman pribadi yang tidak perlu dilebih-lebihkan atau diumumkan kepada orang lain. Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman tersebut membantu saya semakin mengenali diri.

 

Latihan Meditasi
Tujuan Latihan Meditasi adalah untuk mempersiapkan diri kita mengenali potensi diri dari dalam.

 

Menelusuri Lapisan Mind: Perjalanan yang Tidak Berhenti pada Satu Pengalaman

Setelah mulai menyadari bahwa Mind bukanlah keseluruhan diri, saya semakin tertarik menelusuri lapisan-lapisan kesadaran lainnya yang ada di dalam diri.

Dalam pemahaman Meditasi Holistik NSE, manusia memiliki lima lapisan kesadaran: fisik, energi, Mind, Inteligensi atau Buddhi, dan Spiritual. Kelima lapisan ini saling berkaitan. Namun, mengenali dan mengalami masing-masing lapisan tentu membutuhkan proses.

Pengalaman setiap orang tidak harus sama. Ada yang mungkin lebih dahulu merasakan perubahan pada tubuh dan energi. Ada pula yang mulai menyadari pola pikir dan perasaannya. Untuk menelusuri lapisan Inteligensi atau Buddhi, dibutuhkan proses yang lebih mendalam.

Bagi saya, Buddhi bukanlah sekadar bagian dari Mind atau konsep yang cukup dipahami melalui bacaan. Ia merupakan lapisan Inteligensi yang lebih tinggi daripada Mind, yang perlu dikenali melalui pengalaman dan proses latihan.

Jika kita terus disiplin berlatih, pengalaman mengenali diri dapat berkembang semakin dalam. Ada keheningan, kebahagiaan, dan rasa takjub yang muncul. Namun, terkadang ada pula kegelisahan baru yang sebelumnya tidak kita sadari.

Beragam pengalaman tersebut merupakan bagian dari perjalanan latihan meditasi. Karena itu, Guruji sering mengingatkan bahwa semua lapisan perlu dilewati. Jangan berhenti hanya karena pernah mengalami suatu keadaan yang terasa luar biasa.

Mengapa demikian? Karena kita bisa saja terjebak pada pengalaman tertentu, kemudian menganggapnya sebagai tanda bahwa perjalanan telah selesai. Padahal, pengalaman itu mungkin baru salah satu bagian yang perlu dilewati.

Guruji juga mengingatkan agar kita tidak membatasi pengalaman diri atau membandingkannya dengan pengalaman orang lain.

Saya merasakan bahwa nasihat tersebut sangat penting. Sebab, setiap orang memiliki perjalanan yang unik. Apa yang saya alami belum tentu dialami orang lain dengan cara yang sama. Demikian pula, pengalaman orang lain tidak dapat dijadikan ukuran untuk menilai perjalanan diri sendiri.

Kalaupun kita mengalami sesuatu yang unik atau merasa telah mencapai pemahaman baru, semua itu tetap merupakan bagian dari perjalanan. Masih ada banyak hal yang dapat dipelajari dan disadari saat melakukan latihan meditasi.

Karena itu, kesabaran dan keterbukaan Mind sangat diperlukan. Jangan terburu-buru memproklamirkan diri telah mencapai sesuatu. Jangan pula menjadikan satu pengalaman sebagai patokan akhir. Dalam perjalanan mengenali diri, kita perlu terus belajar dan mengamati.

 

Mengapa Latihan Dasar Metode NSE Tetap Dibutuhkan?

Ada satu hal yang menurut saya perlu dipahami oleh siapa pun yang mempraktikkan Meditasi Holistik NSE. Latihan NSE bukan sekadar latihan dasar yang hanya dibutuhkan oleh pemula. Justru latihan ini dapat menjadi fondasi yang terus diperlukan oleh siapa pun yang ingin menjalani perjalanan pengenalan diri sepanjang hidupnya.

Mengapa latihan dasar tetap diperlukan meskipun seseorang sudah bertahun-tahun berlatih?

Karena selama ego, kesadaran rendah, dan berbagai program bawaan yang tidak relevan masih dapat memengaruhi diri, selama itu pula kita membutuhkan proses pembersihan diri yang menjadi jiwa dari metode ini.

Tidak ada jaminan bahwa seseorang yang telah puluhan tahun melakukan latihan meditasi otomatis terbebas dari pengaruh kesadaran rendah, dominasi insting hewani. Selama indra ragawi masih dapat memperbudak Mind, kita tetap perlu berhati-hati.

Kadang-kadang, tanpa disadari, Mind kembali dipenuhi hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Misalnya, hanya membicarakan makanan terus-menerus, sibuk membicarakan orang lain, merasa paling benar, atau terus-menerus memikirkan penampilan fisik.

Ada pula yang terus mengejar pendidikan dan mengumpulkan pengetahuan tanpa pernah mempraktikkannya. Ada yang sibuk mengumpulkan uang tanpa terpikir untuk berbagi, padahal begitu banyak potensi diri yang sebenarnya dapat diberdayakan.

Bahkan, pekerjaan yang mengharuskan seseorang mengakses banyak informasi dan melakukan berbagai analisis pun tidak otomatis membuat Mind lebih bijaksana. Jika tidak disertai pengolahan diri, pengetahuan yang banyak justru dapat membuat seseorang kurang peka atau merasa lebih unggul daripada orang lain.

Contohnya, ketika seseorang diajak mengikuti latihan meditasi, ia menjawab, “Saya sudah tidak melakukan latihan meditasi dasar lagi. Yang saya lakukan hanya latihan tingkat lanjut.”

Wah, hebat sekali!

Namun, apakah benar pemahaman dan kesadaran dirinya sudah berkembang hanya karena merasa telah menjalani latihan tingkat lanjut? Inilah yang perlu kita periksa kembali. Mind bisa merasa paling tahu, tetapi pada saat yang sama menjadi kaku, arogan, dan sulit menerima koreksi.

Jadi, kita mesti tetap berhati-hati, kawan.

Pengetahuan, pengalaman, dan wewenang yang kita miliki jangan sampai disalahgunakan. Tidak ada gunanya mengagung-agungkan doktrin sendiri atau terus-menerus merasa pengalaman pribadi paling benar.

Baik ego yang kasar maupun yang halus tetap perlu diperhatikan dan dibersihkan. Melalui latihan NSE, berbagai hambatan yang bersumber dari memori pengetahuan, pengalaman, obsesi, keinginan, ingatan, halusinasi, ego, dan perasaan negatif dapat diolah melalui proses pembersihan diri.

Jika semua itu masih memengaruhi pikiran, ucapan, dan perilaku kita, bukankah latihan dasar tetap diperlukan? Apakah kita bisa begitu saja berhalusinasi bahwa diri sudah tercerahkan? Apakah kita juga bisa menganggap bahwa kondisi kesehatan dan kesadaran yang baik hari ini akan selalu bertahan selamanya tanpa perlu merawat diri lagi?

Tentu tidak demikian.

Menurut pengalaman saya, salah satu keistimewaan metode ini adalah membantu kita tetap rendah hati. Latihan meditasi NSE ini mengajak kita agar terus membersihkan diri, meruntuhkan ego, serta mengakses kewarasan, keheningan, kedamaian, dan kebahagiaan yang ada di dalam diri.

Itulah sebabnya latihan meditasi bukan hanya kebutuhan bagi mereka yang baru memulai perjalanan, melainkan juga bagi siapa pun yang ingin terus bertumbuh.

 

Latihan Meditasi
Manfaat Latihan Meditasi bagi setiap orang bisa berbeda. ada yang mengenjar kesehatan fisik semata. Ada yang mengejar fokus, memperkuat Mind. Namun ada punya yang ingin mengenali diri lebih dalam.

 

Memeriksa Kondisi Tubuh dari Dalam: Pengalaman Pribadi

Selain pengalaman mengenali sang Penyaksi dan menelusuri lapisan Mind, ada pengalaman lain yang memberikan pemahaman baru bagi saya tentang pentingnya mengenali diri. Pengalaman ini berkaitan dengan kondisi tubuh ketika saya mengalami penyakit yang menyebabkan rasa gatal di seluruh tubuh.

Kondisinya cukup parah. Pada jam-jam tertentu, seluruh tubuh bisa dipenuhi bentol-bentol yang terasa sangat sakit. Bahkan, rasa sakitnya seperti menjalar hingga ke ulu hati. Keadaan tersebut berlangsung selama berbulan-bulan.

Pada buku Meditasi Holistik NSE, Pengalaman Mempraktikkan Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE) – SEni MEmberdaya DIri (SEMEDI), Program Kreator: Maharishi Anand Krishna, saya telah menceritakan pengalaman ini lebih lengkap (silakan dapatkan bukunya). Namun, kali ini saya ingin melihatnya dari sisi yang berbeda, yaitu bagaimana latihan meditasi membantu saya lebih memperhatikan kondisi tubuh sendiri.

Karena tidak tahan lagi dengan rasa sakit tersebut, saya mencoba mempraktikkan latihan relaksasi. Latihan ini dilakukan dengan posisi berbaring telentang, yang dikenal sebagai postur Savasana atau postur tidur mayat.

Sebelumnya, saya telah melakukan latihan pembersihan diri. Setelah itu, saya memasuki latihan relaksasi dengan postur Savasana, yang membantu tubuh mencapai keadaan relaks secara maksimal. Dalam keadaan relaks, saya mencoba melakukan komunikasi dengan tubuh melalui kesadaran dari dalam. Saya mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri:

“Tubuhku, organ mana yang sedang mengalami gangguan? Bagian mana yang terdampak?”

Saya mengulang pertanyaan tersebut dalam keheningan. Kemudian, dalam pengalaman subjektif saya, perhatian seolah-olah diarahkan kepada bagian tubuh tertentu.

Saya mencoba merasakan kondisi bagian tersebut dan memperhatikan respons tubuh secara keseluruhan. Dari pengalaman itu, saya mulai memahami pentingnya mendengarkan kebutuhan tubuh sendiri.

Apa yang kemudian saya lakukan?

Saya berusaha memperbaiki pola makan dan istirahat. Saya lebih memperhatikan kelengkapan asupan makanan, termasuk kebutuhan gizi, vitamin, dan mineral – yang menurut saya diperlukan oleh organ-organ saya tersebut. Durasi serta kualitas tidur pun mulai saya perhatikan.

Pengalaman tersebut memberikan pemahaman baru bagi saya. Selama ini, kita sering kali kurang peka terhadap kondisi tubuh. Padahal, kebiasaan makan dan minum yang kurang baik, serta pola istirahat yang tidak teratur, dapat memengaruhi kesehatan apabila berlangsung terus-menerus.

Sering kali tubuh sudah memberikan berbagai tanda, tetapi kita tidak memperhatikannya. Kita baru menyadari ada masalah ketika keluhan fisik semakin terasa.

Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa latihan meditasi juga dapat membantu mengembangkan kepekaan terhadap tubuh dan kebutuhan diri sendiri. Tentu saja, pengalaman meditasi bukan pengganti pemeriksaan atau pengobatan medis. Namun, kesadaran untuk memperhatikan kondisi tubuh merupakan bagian penting dari upaya merawat kesehatan.

Dalam pemahaman saya, lapisan Mind memiliki keterkaitan dengan lapisan fisik melalui otak, jaringan saraf, dan sel-sel tubuh. Ada pula lapisan energi yang dalam metode holistik NSE menjadi bagian dari pemahaman mengenai keterhubungan berbagai lapisan diri.

Semakin sering kita belajar terhubung dengan diri sendiri, semakin besar pula kesempatan untuk mengenali bagaimana hubungan kita dengan lingkungan luar memengaruhi kondisi diri.

Dari sinilah muncul pemahaman baru bagi saya: salah satu cara penting untuk mengubah kehidupan di sekitar kita adalah dengan memulai perubahan dari dalam diri masing-masing.

Inilah yang saya pahami sebagai pemberdayaan diri secara massal. Bukan sekadar mengajak banyak orang bergerak bersama, melainkan mendorong setiap individu untuk menyadari dan memberdayakan potensi dirinya sendiri. Perubahan yang dimulai dari kesadaran masing-masing individu dapat menjadi fondasi bagi kehidupan bersama yang lebih baik.

 

Mengenal Diri Sendiri Secara Kritis

Pengalaman menjalani latihan meditasi juga mengubah cara saya memandang berbagai pemahaman yang selama ini saya terima dari lingkungan, sistem pendidikan, dan masyarakat.

Pengenalan diri membantu saya melepaskan berbagai pemahaman milik orang lain yang ternyata tidak selalu relevan dengan diri sendiri. Bahkan, ada pemahaman yang sudah diwariskan secara turun-temurun dan selama ini diterima begitu saja tanpa pernah diperiksa kembali.

Latihan ini juga membantu saya lebih berhati-hati terhadap pengaruh Mind kolektif atau yang dapat disebut sebagai hipnosis massal.

Mengapa hal ini penting?

Karena kita perlu memahami sifat dan cara kerja Mind agar tidak mudah terjebak dalam pola pikir yang sempit. Dalam pengamatan saya, Mind memiliki kecenderungan suka dan tidak suka, ego atau keakuan, kemalasan, serta sifat agresif. Ia juga mudah ingin menang sendiri dan mempertahankan pendapatnya.

Jika kita tidak menyadari kecenderungan tersebut, pembicaraan dan perdebatan mengenai agama maupun keyakinan dapat dengan mudah dipengaruhi oleh ego. Itulah sebabnya, menurut pemahaman saya terhadap peradaban Timur yang agung, dialog dan dialektika mengenai agama serta keyakinan akan lebih jujur dan dewasa apabila berangkat dari lapisan Inteligensi dan Spiritual.

Jika pembicaraan hanya didominasi oleh Mind, yang muncul bisa berupa spekulasi, manipulasi, dan keinginan untuk membenarkan diri sendiri. Mind yang masih dikuasai ego cenderung sulit menerima kebersamaan, keutuhan, harmoni, persatuan, keberagaman, perubahan, dan koreksi.

Hal yang sama juga berlaku ketika kita berhadapan dengan doktrin atau berbagai ajaran. Menurut saya, kita tidak seharusnya menerima suatu doktrin secara membabi buta.

Kita perlu menghubungkannya terlebih dahulu dengan kesadaran diri, melakukan introspeksi, serta memeriksanya melalui lapisan Inteligensi dan Spiritual. Dengan demikian, kita tidak sekadar menerima sesuatu karena orang lain mengatakannya, tetapi juga belajar mengamati, memahami, dan mengujinya melalui pengalaman serta kesadaran diri.

Apa yang saya alami ini tentu dapat pula dialami orang lain, meskipun tidak harus persis sama.

Bagi saya, metode NSE telah membantu melakukan introspeksi terhadap banyak hal yang selama ini saya peroleh dari lingkungan, sistem pendidikan, dan berbagai sumber pengetahuan lainnya. Saya tidak lagi ingin membabi buta menjadikan orang lain sebagai panutan atau idola. Bukan berarti kita tidak boleh belajar dari orang lain. Justru kita tetap perlu belajar, tetapi dengan sikap kritis.

Amati terlebih dahulu. Perhatikan keteladanan dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya terpukau oleh kata-kata, gelar, atau reputasi seseorang. Sekali lagi, pengalaman pribadi sangatlah penting. Kebiasaan melakukan introspeksi diri secara terus-menerus akan membantu mengembangkan daya kritis atau critical thinking.

Pengalaman yang saya ceritakan ini tentu masih merupakan bagian dari perjalanan pribadi saya. Tentu saya tidak bermaksud menjadikannya sebagai ukuran pengalaman bagi orang lain. Namun, satu hal yang saya syukuri adalah bahwa melalui latihan meditasi holistik metode NSE, saya memperoleh sebuah alat untuk mengenali diri, memeriksa berbagai pemahaman, dan terus melakukan pemberdayaan diri dari dalam.

Sebab, mengenali diri sendiri bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu kali latihan. Ini adalah perjalanan seumur hidup.

 

 

Artikel Relevan: