Mengenal Pikiran dan Perasaan (Mind): Sifat dan Cara Kerjanya

Mengenal Pikiran dan Perasaan

Dapatkah Kita Memperbaiki Sesuatu yang Tidak Kita Pahami? Ya, Pikiran dan Perasaan Milik Kita Sejak Lahir. Akan Tetapi, Kita Bahkan Belum Mengenal Pikiran dan Perasaan Kita Sendiri. Itu Sebabnya, Setiap Ada Masalah Mental-Emosional, Kita Lebih Dulu Mencari Para Ahli?

 

 

KETIKA PIKIRAN DAN PERASAAN menjadi hal yang paling asing… Kita bahkan tidak mengenal Pikiran dan Perasaan sendiri. Padahal setiap hari kita hidup bersama Pikiran dan Perasaan kita. Keduanya hadir saat kita bekerja, berbincang, mengambil keputusan, bahkan ketika kita sedang beristirahat. Namun, di tengah semua aktivitas itu, kita lebih sering memperhatikan apa yang terjadi di luar diri daripada apa yang sedang berlangsung di dalam diri.

Namun saat merasa cemas, marah, kecewa, atau takut, kita biasanya segera mencari penyebab di luar. Kita berharap keadaan berubah, orang lain mengerti, atau masalah segera selesai. Jarang sekali kita berhenti sejenak untuk mengenali apa yang sedang terjadi di dalam ruang pikiran dan perasaan kita sendiri. Bukan karena kita tidak peduli, melainkan karena sebagian besar dari kita memang tidak pernah belajar melakukannya.

Sejak kecil kita diajarkan mengenal dunia: membaca, berhitung, bekerja sama, dan berbagai keterampilan lain yang penting untuk menjalani kehidupan. Namun, sangat jarang ada kesempatan untuk belajar mengenali pikiran, memahami perasaan, atau mengamati bagaimana keduanya memengaruhi cara kita memandang kehidupan.

Akibatnya, sesuatu yang kita anggap paling dekat dengan diri kita justru sering menjadi yang paling asing. Mungkin karena inilah kita kadang berkata, “Saya sendiri tidak mengerti mengapa saya bereaksi seperti ini.” Atau, “Saya tahu saya tidak ingin terus berpikir seperti ini, tetapi sulit menghentikannya.”

Artinya, kita bahkan belum mengenal pikiran dan perasaan kita sendiri. Pengalaman-pengalaman seperti ini bukanlah tanda kelemahan. Itu adalah bagian dari pengalaman menjadi manusia, pengalaman yang alami. Dan perjalanan mengenal diri selalu dimulai dari satu langkah yang sederhana, yakni: menyadari bahwa ruang pikiran dan perasaan itu layak untuk dikenali, diakrabi, dipahami secara lebih sadar oleh kita sendiri – bukan otoritas orang lain.

 

Kesadaran yang Selama Ini Terlewat

Bayangkan sejenak perjalanan hidup kita… Sejak kecil kita belajar membaca agar memahami tulisan. Kita belajar berhitung agar mampu menyelesaikan persoalan. Kita belajar berbagai keterampilan untuk menjalani kehidupan.

Namun, pernahkah kita diajarkan mengenali apa yang terjadi di dalam diri sendiri? Bagaimana memahami pikiran yang terus berputar. Bagaimana menyadari emosi yang datang dan pergi. Bagaimana membedakan antara kenyataan dan penafsiran yang dibuat oleh pikiran.

Sebagian besar dari kita tidak pernah memperoleh pendidikan semacam itu. Bukan karena hal ini tidak penting, melainkan karena perhatian kita lebih banyak diarahkan pada cara mengenal dunia di luar diri daripada kehidupan batin di dalam diri. Akibatnya, ketika menghadapi kecemasan, kemarahan, atau kesedihan, kita sering ingin segera mengubah keadaan, tanpa terlebih dahulu memahami apa yang sedang berlangsung di dalam diri.

Padahal, ada satu prinsip sederhana yang berlaku dalam banyak hal. Kita tidak mungkin merawat sesuatu yang belum kita kenal. Kita tidak mungkin mengembangkan sesuatu yang belum kita pahami. Demikian pula dengan kehidupan batin. Kita tidak dapat mengelola sesuatu yang belum kita kenal. Mungkin, langkah pertama menuju kehidupan yang lebih sadar bukanlah berusaha mengendalikan pikiran dan perasaan, melainkan mulai mengenali pikiran dan perasaan milik kita tersebut.

 

Mengenal Pikiran dan Perasaan
Sering Menghadapi situasi ketika Pikiran dan Perasaan terasa asing? Seolah benda asing yang tidak terkendali? Itu karena kita belum mengenali dan memahaminya.

 

Berkenalan dengan Mind

Pernahkah Anda berkata dalam hati, “Saya ingin berhenti memikirkan hal ini, tetapi mengapa begitu sulit?” Atau, “Saya tahu seharusnya tidak marah, tetapi emosi itu sudah telanjur mengambil alih.”

Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa di dalam diri kita ada suatu proses yang terus berlangsung. Pikiran muncul silih berganti. Perasaan datang dan pergi. Keduanya saling memengaruhi, sering kali tanpa kita sadari, sering kali tidak dapat dkendalikan.

Dalam perspektif Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE), keseluruhan proses, sifat dan cara kerja ini disebut sebagai Mind atau Gugusan Pikiran dan Perasaan yang membentuk cara kita memandang diri, orang lain, dan kehidupan.

Mind bukanlah otak. Otak adalah organ fisik yang menjalankan berbagai fungsi biologis. Sementara itu, mind adalah gugusan Program-program Bawaan, berupa: pikiran (apapun), perasaan (apapun), seperti: ingatan, penilaian, harapan, pengetahuan, imajinasi, cinta, benci, dendam, iri hati, halusinasi, keinginan, keputusasaan, rasa takut, kekhawatiran, ego, insting hewani dan lain sebagainya.

Pemahaman ini berakar pada Kebijaksanaan Timur yang memandang mind sebagai sesuatu yang dapat dikenali, dipelajari, dan dipahami. Melalui Metode NSE, Maharishi Anand Krishna – sang Kreator Program – menyusun kembali pemahaman tersebut agar lebih mudah dipraktikkan dan relevan dengan kehidupan masyarakat modern Indonesia.

Ketika kita mulai memahami mind sebagai gugusan pikiran dan perasaan yang memiliki banyak program bawaan beserta kecenderungannya, kita tidak lagi melihat apa yang terjadi di dalam diri sebagai musuh yang harus dilawan. Sebaliknya, kita mulai melihatnya sebagai bagian dari diri yang perlu dikenali, dipahami dan diakrabi dengan lebih jernih. Dan setiap pengenalan yang lebih jernih selalu membuka kemungkinan dapat menjalani hidup dengan lebih sadar tanpa dibelenggu oleh berbagai masalah-masalah mental-emosional (mind) lagi.

 

Mengapa Kita Perlu Mengenali Mind?

Sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat, kita hidup bersama mind. Melalui mind, kita menafsirkan setiap peristiwa. Kita memberi makna pada ucapan seseorang, menilai keberhasilan atau kegagalan, merasakan harapan, kecemasan, kegembiraan, maupun kekecewaan. Dengan kata lain, kita tidak hanya menjalani kehidupan. Kita juga terus-menerus memaknai kehidupan dengannya.

Di sinilah pentingnya mengenal mind: mengenali pikiran, mengenali perasaan sendiri, mengenali sifat dan cara kerjanya. Sering kali, yang membuat kita menderita bukanlah peristiwanya, melainkan cara mind memaknainya. Dua orang dapat mengalami kejadian yang sama, tetapi memberikan respons yang sangat berbeda karena cara mereka memandang pengalaman tersebut tidaklah sama.

Kesadaran ini juga mengingatkan kita bahwa tidak setiap pikiran adalah kenyataan. Tidak setiap perasaan harus segera diikuti. Pikiran dan perasaan adalah dua bagian dari satu hal yang utuh, merupakan satu kesatuan yang satu – mind.

Semakin kita mengenali cara kerja mind, semakin terbuka ruang untuk bisa berhenti sejenak – ada jeda di dalam aliran mind tersebut. Sehingga kita bisa melihat dengan lebih jernih, lalu memilih respons yang lebih bijaksana. Karena itu, mengenali mind bukan sekadar menambah pengetahuan. Namun, ia adalah langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan kehidupan.

Maka, benarlah satu prinsip sederhana yang menjadi benang merah perjalanan ini: Kita tidak dapat mengelola sesuatu yang belum kita kenal.

 

Mengenal Pikiran dan Perasaan (mind)
Hanya setelah kita berupaya untuk Memahami dan Mengenal Pikiran dan Perasaan, kita baru bisa memanajemen dan mengendalikannya.

 

Mengapa Kita Membutuhkan Sebuah Metode?

Memahami mind melalui bacaan adalah awal yang baik. Namun, mengakrabinya adalah hal lainnya, Artinya kita tidak berhenti pada tataran pengetahuan semata. Namun proses ini lahir dan tumbuh melalui pengalaman pribadi.

Kita dapat membaca banyak buku tentang berenang, tetapi kita tidak akan mampu berenang tanpa masuk ke dalam air. Demikian pula dengan mind. Mengetahui bahwa pikiran dan perasaan memengaruhi cara kita menjalani hidup tidak serta-merta membuat kita mampu mengenali keduanya ketika sedang marah, ragu, cemas, takut, atau kecewa.

Mengenali mind adalah sebuah keterampilan. Dan seperti setiap keterampilan, ia perlu dilatih. Latihan bukan untuk mengubah siapa diri kita, melainkan untuk mengembangkan kemampuan mengamati apa yang sedang terjadi di dalam diri. Dari sana, sedikit demi sedikit, tumbuh pemahaman yang lebih jernih dan kebebasan untuk memilih respons yang lebih bijaksana.

Di sinilah sebuah metode memiliki peran pentingnya. Metode memberikan arah, langkah, dan ruang untuk berlatih secara bertahap. Bukan agar kita bergantung pada metode, melainkan agar kita mampu mengenal diri dengan lebih baik melalui pengalaman yang berulang dan disadari.

Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE) dikembangkan dengan semangat tersebut. Bukan untuk mengajarkan apa yang harus dipikirkan atau dirasakan, melainkan untuk membantu seseorang belajar mengenali cara kerja mind-nya sendiri, melalui latihan yang terarah dan berkesinambungan. Karena pada akhirnya, kesadaran bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ia tumbuh melalui proses belajar yang dijalani dengan sabar, langkah demi langkah.

 

Bagaimana Metode NSE Ini Bekerja?

Dalam kehidupan sehari-hari, pikiran dan perasaan akan terus berperan atau muncul. Itu adalah bagian alami dari diri kita. Tujuan Metode NSE bukan menghilangkannya, melainkan membantu kita membangun cara berhubungan yang lebih sadar dengan cara mengenali sifat pikiran, mengenali cara kerja emosi/perasaan itu sendiri.

Karena itu, NSE tidak mengajak kita memusuhi pikiran, menekan emosi, atau memaksa batin menjadi kosong. Sebaliknya, NSE mengembangkan kemampuan untuk hadir dan memperhatikan sebagai Penyaksi di dalam diri.

Melalui latihan yang dilakukan secara bertahap, kita belajar mengenali pikiran yang sedang muncul, menyadari perasaan yang sedang berlangsung, dan mengamatinya tanpa harus segera bereaksi. Dari pengamatan itu lahir pemahaman, dan dari pemahaman tumbuh kebebasan untuk memilih respons yang tepat.

Dengan cara inilah hubungan kita dengan mind mulai berubah. Pikiran tidak lagi harus dipercaya begitu saja. Perasaan tidak lagi harus selalu diikuti. Keduanya dapat dikenali sebagai bagian dari diri kita yang dapat dibersihkan, ditata ulang dan ditransformasi.

Metode ini bukanlah mengubah dari BANYAK pikiran menjadi TIDAK berpikir. BUKAN. Bukan pula dari emosi menjadi TANPA emosi. BUKAN! Tetapi yang berubah adalah cara kita menyikapi keduanya. Dan tahapan cara kerja metode NSE bekerja:

 

Pembersihan Sampah-sampah energi dan mind → Merelakskan ketegangan → Menata Kembali Pikiran dan Perasaan → Tranformasi → Kesadaran → Respons

 

Melalui tahapan ini, cara memperlakukan mind ini, maka kita akan memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak sebelum bertindak. Sudah bisa tercipta jeda di dalam aliran pikiran dan perasaan. Kita tidak lagi sekadar bereaksi karena kebiasaan, tetapi belajar merespons dengan lebih jernih, lebih bebas, dan lebih bertanggung jawab – sekarang kita sudah sadar sebagai Penyaksi atas mind kita.

Inilah inti latihan dalam Metode NSE: bukan mengubah kenyataan di luar diri, melainkan menumbuhkan kualitas kesadaran dalam menghadapi kenyataan tersebut.

Mau tahu bagaimana Penulis DP Ezsar berupaya mengenal pikiran dan perasaannya sendiri? Sebelumnya, bahkan ia tidak memiliki referensi apa itu meditasi. Ia buta sama sekali akan topik ini. Nah, detailnya silakan baca: Meditasi Holistik NSE, Pengalaman 25 Mempraktikkan Metode Meditasi Holistik NSE, DP Ezsar, Penerbit AlfabetaIndonesia.)

 

Mengenal Pikiran dan Perasaan (mind)
Metode Meditasi Holistik NSE – Kreator Program Maharishi Anand Krishna – merupakan salah satu Sarana yang banyak dipraktikkan masyarakat untuk mengenali dan memahami Pikiran dan Perasaannya agar tidak liar.

 

Mengenal Mind, Mengenal Diri

Perjalanan mengenali mind bukanlah tujuan akhir. Ia adalah awal dari perjalanan mengenali diri sendiri. Semakin kita memahami sifat dan cara pikiran dan perasaan bekerja, semakin kita menyadari bahwa keduanya adalah bagian dari diri kita yang bisa dibersihkan, ditata ulang dan ditranformasi menjadi mind yang lebih jernih dan sadar. Bukan lewat dogma, doktrin dan pengetahuan tambahan, namun melalui pengalaman langsung yakni, lewat perjalanan ke dalam diri dengan Metode Meditasi Holistik NSE.

Kesadaran inilah yang memberi ruang untuk bisa hidup dengan lebih jernih, tanpa harus terus-menerus digerakkan oleh setiap pikiran atau emosi lama yang tidak relevan lagi – yang sudah terdoktrin, terhipnotis, terbentuk oleh lingkungan sosial dan lain sebagainya.

Mengenal mind juga mengajarkan kita untuk lebih memahami sesama. Kita menjadi lebih berhati-hati dalam menilai, lebih sabar dalam mendengarkan, dan lebih bijaksana dalam merespons. Karena apa yang kita inginkan secara sadar, juga orang lain menginginkannya – jangan mau mencubit orang lain jika tidak mau dicubit kembali.

Dan perubahan yang terjadi pun bukan hanya di dalam diri, tetapi juga akan tercermin dalam cara kita membangun hubungan dengan orang lain dan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Barangkali, inilah salah satu bentuk pendidikan yang paling mendasar, namun sering terlewatkan: belajar mengenali diri sendiri, mengenali lapisan diri, mengakses suara batin.

Kita belajar banyak hal untuk menjalani kehidupan. Namun, kehidupan yang dijalani dengan kesadaran tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang dunia di luar diri, tetapi juga pemahaman tentang dunia di dalam diri. Karena itu, mengenal mind bukan sekadar menambah wawasan. Ia adalah undangan untuk terus belajar mengenal diri, mengolah diri, membersihkan diri, setahap demi setahap, sepanjang perjalanan hidup.

Dan mungkin, perjalanan yang paling jauh bukanlah perjalanan menuju tempat yang belum pernah kita datangi, melainkan perjalanan kembali kepada diri sendiri—dengan kesadaran yang lebih jernih, lebih bebas, dan lebih bertanggung jawab.

 

Sebelum Melangkah

Sepanjang hidup, kita belajar memahami banyak hal. Kita belajar mengenal dunia, membangun karier, menjalin hubungan, dan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Namun, ada satu pelajaran yang sering terlewat: mengenali diri sendiri dari dalam atau melakukan perjalanan ke dalam diri. Perjalanan mengenal mind bukanlah upaya menjadi pribadi yang sempurna atau menghilangkan semua pikiran dan perasaan. Sebaliknya, perjalanan ini mengajak kita memahami bahwa setiap pikiran dan setiap emosi dapat dibersihkan, diubah, dikendalikan, ditransformasi menjadi lebih jernih, sehingga kita memiliki kebebasan untuk memilih bagaimana akan meresponsnya.

Kesadaran seperti inilah yang tumbuh sedikit demi sedikit melalui latihan NSE. Mungkin perubahan itu tidak selalu tampak besar. Namun, setiap kali kita berhenti sejenak sebelum bereaksi, setiap kali kita mampu memahami diri dengan lebih jernih, dan setiap kali kita memilih merespons dengan lebih bijaksana, sesungguhnya kita sedang mengambil satu langkah penting dalam perjalanan mengenal diri. Kita tidak lagi menjadi budak pikiran dan perasaan lama kita, karena ia sudah ditransformasi.

Pada akhirnya, mengenal diri bukanlah tujuan yang dicapai sekali selesai. Ia adalah proses belajar yang berlangsung sepanjang kehidupan. Dan setiap perjalanan, betapapun panjangnya, selalu dimulai dari satu langkah pertama: kesediaan untuk berkenalan dengan diri sendiri. Selanjutnya, silakan mengikuti tulisan: Lebih Jauh Mengenal Mind sebuah Eksplorasi Bersama Metode NSE.   

 

 

 

 

Artikel Relevan: