Sulit Melupakan Masa Lalu? Bagaimana Cara Mengatasinya?

Sulit Melupakan Masa Lalu

Mengapa Sulit Move On dari Masa Lalu yang Selalu Mengganggu? Apakah karena Memori Masa Lalu Itu Terlalu Berat untuk Dilepaskan? Adakah Cara Alami untuk Melupakan Masa Lalu yang Selalu Muncul Tersebut?

 

APAKAH ANDA MERASA sulit melupakan masa lalu? Pernahkah Anda sedang sendiri, bekerja, atau beristirahat, tiba-tiba teringat sebuah peristiwa lama yang sebenarnya tidak ingin Anda ingat lagi? Semakin ingin melupakannya, malah semakin kuat ingatan itu muncul. Pikiran menjadi kacau, perasaan bergejolak, bahkan tubuh ikut bereaksi dan kita merasa capek atau lemas.

Sulit Melupakan Masa Lalu bukan berarti kita itu lemah. Kok bisa? Ya, karena kita belum memahami sifat dan cara kerja pikiran dan perasaan itu. Pada artikel sebelumnya kita secara bertahap telah membahasnya. Sekarang, bila kita sudah mulai memahaminya lebih dalam, sudah mulai mempraktikkan pernapasan alami secara rutin, hubungan kita dengan memori masa lalu pun dapat perlahan berubah.

 

Apa Sebenarnya yang Kita Sebut Masa Lalu?

Peristiwanya memang sudah berlalu. Namun pengalaman itu dapat meninggalkan kesan, dan kesan dapat tersimpan dalam memori kita dengan rapi. Dalam pemahaman Meditasi Holistik NSE, Mind bukan hanya menghasilkan pikiran dan perasaan, tetapi juga membawa pengalaman, kesan, dan terdapat di dalamnya muatan – pengaruhnya.

Ketika sebuah pengalaman memiliki muatan kuat, ia dapat muncul kembali ketika mendapat pemicu tertentu. Karena itu, bila merasa sulit melupakan masa lalu, bukan karena persoalan memori, isi, kandungan dan muatannya saja, tetapi juga ada hubungan kita dengannya yang masih melekat – tertarik dan tidak tertarik; suka – tidak suka; terima – tidak terima. Inilah sifat dan cara kerja mind kita.

 

Cara Melupakan Masa Lalu
Pernah merasakan betapa sulitnya melepaskan memori masa lalu? Apakah Anda juga sedang mengalaminya? Ternyata ada loh caranya.

 

Apakah Pikiran Memang Lebih Sering Negatif?

Kita sering mendengar angka bahwa sebagian besar pikiran manusia adalah negatif. Namun penelitian ilmiah belum memberikan dasar kuat untuk menetapkan satu angka universal sebagai patokan yang bisa dijadikan rujukan.

Dalam ilmu Psikologi ada istilah negativity bias, yaitu kecenderungan memberi perhatian atau bobot lebih besar kepada informasi negatif dalam kondisi tertentu. Jadi, sekarang pertanyaan yang lebih penting bukan berapa persen pikiran kita negatif, tetapi: “Mengapa ketika pikiran negatif muncul, kita mudah memperhatikannya, mengingatnya, dan mengulanginya?

 

Ketika Satu Pikiran Membawa Kita ke Pikiran Berikutnya

Penelitian Julie Tseng dan Jordan Poppenk dari Queen’s University menunjukkan bahwa perpindahan dari satu keadaan pikiran ke keadaan berikutnya dapat dikenali melalui perubahan pola aktivitas otak. Penelitian tersebut tidak membaca isi pikiran, melainkan mendeteksi perubahan keadaan mental yang berkaitan dengan pergantian pikiran.

Temuan ini menarik bila kita hubungkan dengan pengalaman sehari-hari. Kita memikirkan pekerjaan, lalu teringat percakapan kemarin. Muncul rasa kesal. Kita teringat seseorang. Lalu masuk ke kejadian bertahun-tahun lalu. Satu pikiran menjadi pintu bagi pikiran-pikiran dan perasaan berikutnya.

Muncul dan bergeraknya pikiran dan perasaan bukan sesuatu yang aneh. Dalam kerangka Meditasi Holistik NSE, mind memiliki dinamika. Pikiran dan perasaan dapat saling merangsang, menguatkan, membesar, mengecil, menyukai, menolak, mengingat, dan menganalisis.

Yang perlu diperhatikan bukan munculnya pikiran itu sendiri, tetapi ketika muatan pengalaman menjadi begitu kuat sehingga rangkaian tersebut dapat mulai menguasai diri. Nah, kendali pikiran dan perasaan negatif inilah yang mesti diwaspadai – jangan sampai kita dikuasainya tanpa daya kritis.  

 

Meditasi Melupakan Masa Lalu
Pikiran dan Perasaan akan trus bergerak karena memang demikian sifat alami dan kodratnya. Kita hanya perlu memahami sifat dan cara kerja mind tersebut.

 

Ketika Masa Lalu Muncul

Memori dapat muncul tiba-tiba karena seseorang, tempat, lagu, aroma, percakapan, situasi tertentu, atau pemicu yang bahkan tidak kita sadari. Kemunculannya tidak selalu kita pilih. Karena itu, ketika masa lalu muncul, kita tidak harus langsung mengikutinya.

Namun kita dapat berhenti sejenak dan menyadari: “Saya sedang mengingat sebuah pengalaman.” Dan bukan: “Saya kembali berada di dalam pengalaman itu.”

Di antara kedua pernyataan atau keadaan tersebut terdapat ruang untuk melihat, memahami, dan memilih.

 

Mind Memiliki Dinamika, Bukan Musuh

Kita tidak perlu memaksa mind selalu positif karena ini adalah salah satu sifat dasarnya. Pikiran negatif pun bukan musuh yang harus diperangi karena ini pun sifat dasar lainya. Positif dan negatif adalah alami dan normal, merupakan pembentuk, pembangun alami kompleksitas mind itu sendiri. Ia bagian dari dinamika yang perlu dikenali dan yang paling penting adalah memahaminya. Apa yang membuatnya muncul? Apa yang membuatnya bertahan? Mengapa kita mudah mengikutinya?

Mungkin, dengan pertanyaan-pertanyaan seprti inilah kita justru mulai memahami bahw: sulit melupakan masa lalu, bukanlah persoalan menghilangkan seluruh isi pikiran, melainkan memahami mengapa sebagian pengalaman masih memiliki daya pengaruh yang kuat terhadap diri kita.

 

Ketika Pikiran Negatif Menjadi Berulang

Dalam psikologi modern terdapat istilah Repetitive Negative Thinking (RNT) atau pikiran negatif yang berulang. RNT mencakup rumination, yaitu terus memikirkan pengalaman yang telah terjadi, dan worry, yaitu kekhawatiran yang terus berputar tentang sesuatu yang mungkin terjadi – padahal belum tentu terjadi.

Penelitian tidak mengatakan bahwa semua pikiran manusia adalah negatif. Namun pada kondisi tertentu, pikiran negatif dapat menjadi berulang, menetap, dan sulit dilepaskan. Satu pikiran tidak selalu berhenti sebagai satu pikiran. Ia dapat menjadi pintu menuju pikiran dan perasaan berikutnya. Ketika yang muncul membawa muatan yang kuat, nah, saat itulah mind yang kompleks itu dapat terasa semakin sulit dihentikan.

 

Bisakah Masa Lalu Dilupakan?

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan apakah memori dapat dihapus, tetapi apakah daya yang dimilikinya terhadap diri kita dapat dikurangi. Memori boleh tetap ada. Pengalaman tetap menjadi bagian dari sejarah hidup.

Yang mungkin perlu dikurangi adalah muatan yang membuatnya terus memperbesar, memperkuat pikiran dan perasaan itu menjadi sedemikian kompleksnya. Dengan demikian, bisakah masa lalu dilupakan bukanlah pertanyaan tentang menghapus sejarah hidup, melainkan tentang apakah kita dapat mengubah hubungan kita dengan apa yang telah terjadi.

 

Yang Perlu Diperlambat Justru adalah Gerak Mind Itu

Ya, ketika mind bergerak sangat cepat, kita bisa dengan mudah terseret. Dan napas dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperlambat gerakannya. Ketika laju gerak mind mulai melambat, nah, saat itulah kemungkinan tercipta ruang, jeda untuk menyadarinya.

Ruang dan jeda itu memungkinkan ‘kita’ untuk melihat dengan lebih jernih. Ruang dan jeda ini pula yang secara perlahan menyadarkan kita, bahwa kita sejatinya bukanlah mind (pikiran dan perasaan) itu sendiri. Dengan adanya ruang atau jeda itulah kemungkinan kita bisa memahami apa yang terjadi dari perspektif yang lebih luas, dalam, dan tinggi. Dalam jeda itu kita dimungkinkan dapat memilih ucapan, tindakan yang lebih tepat atas respon dari isi mind kita tersebut. Di sinilah perjalanan ke dalam diri mulai terasa lebih menarik dan tidak terpikirkan sebelumnya.

 

Sulit Melupakan Masa Lalu
Bukan hanya memperlambat laju Mind, namun kita dapat membersihkan muatan, isi dari mind tersebut.

 

Setelah Diperlambat, Mind Perlu Dibersihkan

Dalam pendekatan Meditasi Holistik NSE, cleansing atau katarsis mind menjadi penting. Cleansing atau pembersihan muatan mind bukanlah menghapus memori tersebut. Namun lebih kepada mengurangi daya pengaruhnya dan bukan menghilangkannya. Karena memori itu akan tetap ada, namun tidak memengaruhi kita lagi secara signifikan. Persisnya, yang dikurangi adalah muatan, beban, dan daya yang melekat pada pengalaman dan kesan yang ada  di dalam memori tersebut.

Ketika dayanya berkurang, pengalaman yang sama dapat dilihat dengan jarak berbeda. Memori akan pengalaman dan kesan itu akan tetap ada, tetapi daya cengkeramnya tidak lagi mendominasi. Karena itu, cara melupakan masa lalu dapat dipahami secara berbeda: bukan memaksa diri lupa, melainkan belajar membersihkan muatannya yang sebelumnya dapat membuat kita dikuasai oleh masa lalu tersebut.

 

Setelah Itu, Buddhi atau Inteligensi akan Mengendalikan Mind

Ketika muatan mulai berkurang, peran Buddhi atau Inteligensi akan memiliki ruang atau jalan untuk muncul. Saat itulah, hanya ketika Buddhi/Inteligensi muncul kita dapat melihat dan berperasaan lebih jernih, luas, mendalam dan melampaui ego pribadi kita. Kemudian kita pun dapat bertanya: Apa sebenarnya yang terjadi? Apa yang perlu dilepaskan? Apa yang dapat dipelajari?

Pengalaman yang dahulu membebani dapat berubah menjadi pemahaman baru yang lebih luas dan jernih. Kemarahan dapat mengajarkan kedewasaan. Ketakutan dapat menjadi kehati-hatian. Penyesalan dapat menjadi pembelajaran. Bukan karena masa lalunya berubah, tetapi karena cara kita memandang dan mengolahnya berubah setelah peran Buddhi muncul.

 

Dari Kejernihan Mind Menuju Ucapan dan Tindakan

Pada akhirnya, kehidupan kita tidak hanya dibentuk oleh apa yang muncul dalam pikiran dan perasaan kita. Yang sangat menentukan arah dan kualitas kehidupan adalah: apa yang kemudian kita ucapkan dan yang kita lakukan.

Pikiran boleh muncul. Perasaan boleh muncul. Tetapi tidak setiap pikiran harus diucapkan dan tidak setiap perasaan harus ditindaklanjuti. Di antara kemunculan pikiran dan perasaan dan tindakan terdapat ruang untuk memilih – mengolah.

Cleansing dan katarsis dapat membantu mengurangi muatan mind yang membuat kita bereaksi secara spontan. Sementara, setelah kemunculan Buddhi atau Inteligensi yang sejak lahir memang ada di dalam diri kita, dan merupakan lapisan diri kita yang lebih tinggi dari mind, akan selalu memberi ruang untuk mempertimbangkan, memilih secara tepat – lebih sadar. Apakah ucapan ini perlu? Apakah tindakan ini tepat? Apa akibatnya bagi orang lain? Inilah kemanusiaan kita sebagai manusia dan yang membedakan kita dengan hewan.

Dengan demikian, perjalanan ke dalam diri bukan hanya perjalanan untuk menjadi lebih tenang saja. Ia juga merupakan perjalanan untuk belajar memilih ucapan dan tindakan dengan lebih sadar, tidak sembrono, tidak semata-mata mengikuti ego, dan lebih bertanggung jawab.

 

Sulit Melupakan Masa Lalu
Dengan Kejernihan Mind, maka muncullah peran Buddhi atau Inteligensi. Sehingga kita bisa memilih ucapan dan tindakan yang tepat.

 

Lima Pertanyaan yang Sering Muncul

Berikut ini ada 5 pertanyaan yang sering muncul terkait pemahaman dan pendapat banyak orang mengenai masa lalu, memori masa lalu.

1. Mengapa saya sudah berusaha melupakan masa lalu, tetapi justru semakin sering teringat?

Karena melupakan bukan sekadar keputusan pikiran dan perasaan. Kita dapat mulai dengan menyadari bahwa ingatan sedang muncul, tanpa melawan atau langsung mengikutinya.

2. Mengapa masa lalu tiba-tiba muncul kembali?

Memori dapat memiliki pemicu yang kita sadari maupun tidak. Kemunculan ini adalah alami dan normal. Yang penting bukan hanya mengapa ia muncul, tetapi bagaimana kita meresponsnya.

3. Kalau saya masih mengingat masa lalu, apakah berarti saya belum move on?

Belum tentu. Mengingat tidak sama dengan menjadi tawanan. Yang dapat diubah adalah daya memori tersebut terhadap diri kita.

4. Apa yang sebaiknya dilakukan ketika kenangan buruk muncul?

Berhenti sejenak, sadari napas, perlambat gerak pikiran dan rasa, dan amati. “Saya sedang mengingat pengalaman,” bukan Saya kembali berada di sana.”

5. Apakah saya harus melupakan masa lalu agar dapat melangkah?

Tidak harus. Kita dapat mengambil pelajaran tanpa terus membawa beban. Masa lalu tidak perlu hilang agar kita dapat melanjutkan perjalanan. Namun yang terutama adalah mengurangi dayanya, muatannya, isinya. Dan teknik serta metode untuk melakukan pembersihan ini ada.

 

Mungkin Sudah Saatnya Memulai Perjalanan ke Dalam Diri

Selama ini kita mungkin lebih banyak belajar mengelola kehidupan di luar diri. Tetapi bagaimana dengan apa yang terjadi di dalam diri? Ketika pikiran muncul, apakah kita mengenali alur kemunculannya? Ketika perasaan berubah, apakah kita memahami pemicunya? Ketika pengalaman lama muncul, apakah kita memahami mengapa ia masih memiliki daya?

Nah, mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak… saat ini… Tarik napas, buang napas. Santai, relaks…

Kita bukan dalam rangka untuk memerangi mind, ya. Bukan pula untuk menghapus pikiran. Dan bukan untuk memaksa diri selalu positif. Tetapi, untuk mulai mengenal apa yang terjadi di dalam diri – memahami sifat, dan cara kerja pikiran dan perasaan. Inilah yang dimaksud dengan perjalanan ke dalam diri: mengenali dinamika mind, memahami muatan yang kita bawa, membersihkannya secara intens dan rutin, lalu memberikan ruang kepada Buddhi atau Inteligensi untuk melihat dengan lebih jernih, luas, dalam, dan tinggi – melampaui sifat dan cara kerja mind. Sifat dan cara kerja Buddhi atau Inteligensi akan selalu lebih jernih, melampaui ego pribadi, luas, mendalam, tinggi, tanpa pamrih pribadi dan universal.

 

Lalu, Apa Peran Meditasi?

Meditasi melupakan masa lalu tidak perlu dipahami sebagai teknik untuk menghapus ingatan. Namun meditasi dapat menjadi jalan untuk memperlambat, mengamati, membersihkan, mengolah dan mentranformasi mind itu – dalam bahasa Maharishi Anand Krishna disebut created mind.

Dalam Meditasi Holistik NSE, cleansing atau katarsis mind menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Tujuannya bukan membuat kita kehilangan masa lalu. Tujuannya adalah agar masa lalu tidak lagi kehilangan kita.

Karena itu, Teknik Melupakan Masa Lalu yang paling memberdayakan bukanlah memaksa diri untuk tidak pernah mengingat lagi, melainkan belajar memahami apa yang terjadi di dalam diri ketika ingatan itu muncul.

 

Masa Lalu Tidak Harus Hilang Agar Kita Dapat Melangkah

Sulit melupakan masa lalu tidak harus diselesaikan dengan memaksa diri lupa atau hilang ingatan. Bukan. Yang perlu berubah adalah hubungan kita dengan masa lalu tersebut. Kita masih dapat melihat dan merasakannya, tetapi tidak mengganggu lagi. Kita dapat memahami muatannya, namun tidak dalam kendalinya lagi. Kita pun dapat membersihkannya secara rutin setiap pulang ke rumah usai beraktifitas sepanjang hari. Kita pun dapat mengambil pelajaran dari pikiran dan perasaan yang negatif dan positif tersebut. Lalu, melanjutkan perjalanan. Dan mungkin, pada akhirnya, urusan Sulit Melupakan Masa Lalu, bukan lagi sekadar persoalan yang harus kita lawan. Namun bisa menjadi pintu untuk mengenal diri lebih dalam lagi.

Fenomena sulit melupakan masa lalu ternyata dapat mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: pikiran dan perasaan boleh muncul, tetapi kita tidak harus menjadi tawanan keduanya. Kita dapat belajar memberi ruang kepada kejernihan muncul. Dari sana, kita belajar memilih ucapan yang tepat. Kita belajar memilih tindakan yang tepat. Dan bukan malah diperbudak oleh setiap pikiran dan perasaan yang muncul.

Dan perlahan, kita belajar memberdayakan diri. Inilah makna Seni Memberdaya Diri yang diperkenalkan oleh Maharishi Anand Krishna: bukan menghapus pengalaman hidup, tetapi mengenali dinamika mind, membersihkan muatannya, memahami pelajarannya, dan memberi ruang bagi kehadiran Buddhi/Inteligensi untuk memilih ucapan dan tindakan dengan lebih sadar dan bertanggung jawab.

Mungkin kita tidak perlu melupakan masa lalu untuk melangkah ke depan. Tetapi, kita hanya perlu mulai mengenal diri sendiri, mulai sekarang.

 

 

 

Artikel Relevan: