Cara Mengendalikan Emosi: Mengapa Kita Sering Salah Bicara dan Bertindak?

Cara Mengendalikan Emosi

Pikiran dan Perasaan Dapat Muncul Tanpa Kita Pilih. Tetapi Ucapan dan Tindakan Masih Dapat Kita Tentukan. Di Antara Keduanya Terdapat Sebuah Ruang—Ruang untuk Mengenali Diri. Inilah Cara Mengendalikan Emosi dengan Memberi Kesempatan kepada Buddhi. Dengan Cara Memberdaya Diri.

 

PERNAHKAH KITA MENGATAKAN sesuatu ketika sedang marah, lalu beberapa saat kemudian menyesal? Pernahkah kita mengambil keputusan ketika sedang kecewa, takut, atau tersinggung, kemudian bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa tadi saya melakukan itu? Mengapa saya tidak tahu cara mengendalikan emosi saya sendiri?”

Pengalaman seperti ini sangat manusiawi. Kita bahkan sering berkata, “Saya sedang emosi,” atau “saya terbawa perasaan.” Seolah-olah ketika emosi muncul, kita otomatis kehilangan kemampuan, kendali untuk menentukan respons. Tetapi benarkah selalu demikian?

Mungkin ini saatnya kita perlu melihat kembali apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri kita.

 

Ketika Emosi Muncul, Apakah Kita Harus Mengikutinya?

Amarah dapat muncul. Kecewa dapat muncul. Takut dapat muncul. Keinginan untuk membalas juga dapat muncul. Dan kita tidak selalu memilih kemunculan pikiran dan perasaan itu. Seseorang mengatakan sesuatu, lalu kita tersinggung. Kita melihat sesuatu, lalu muncul keinginan. Kita mengingat suatu pengalaman, lalu perasaan lama kembali hadir.

Semua kemunculan perasaan itu dapat berlangsung sangat cepat. Namun, ada perbedaan antara sesuatu yang muncul dan respons yang kemudian kita berikan. Amarah boleh muncul tiba-tiba. Tapi, kita tidak harus langsung membalas, kan? Kecewa boleh muncul. Namun, kita tidak harus langsung menyalahkan sesuatu atau orang lain, kan?

Keinginan apapun boleh muncul. Dan kita tidak harus selalu mengikutinya. Di sinilah pertanyaan tentang Cara Mengendalikan Emosi mulai memiliki makna yang berbeda. Mengendalikan emosi dalam konteks ini bukan berarti membuat emosi tidak muncul. Bukan.

Mungkin yang lebih penting adalah tidak membiarkan apa yang muncul otomatis langsung menentukan ucapan dan tindakan kita. Tentu kita mengharapkan kondisi mental seperti ini bukan?

 

Apapun yang Muncul pada Mind Bukanlah Perintah

Untuk memahami hal ini, kita perlu kembali mengenali Mind. Dalam pemahaman yang kita bangun melalui tulisan seri Pendidikan Mengenal Diri Sendiri – dan ini adalah tulisan ke-19, Mind bukan sekadar satu pikiran. Di dalamnya terdapat berbagai pengalaman, ingatan, kesan, suka dan tidak suka, keinginan, ketakutan, kemarahan, ambisi, obsesi, serta berbagai gugusan pikiran dan perasaan lainnya.

Bentuk-bentuk gugusan pikiran dan perasaan tersebut akan selalu muncul dan bergerak. Sebuah pengalaman hari ini dapat membangkitkan pengalaman lama. Satu kalimat seseorang dapat memunculkan kemarahan. Apa yang kita lihat atau dengar dapat membangkitkan keinginan tertentu. Begitulah cara kerja mind kita. Pernahkah Anda mengamatinya?

Karena itu, sesuatu yang muncul di dalam Mind belum tentu merupakan keputusan yang mesti kita ambil. Ada banyak bentuk, dan konten gugusan pikiran dan perasaan kita. Ada yang positif dan negatif. Ada yang kita sukai atau tidak. Ada yang kita tolak dan terima, dan lain sebagainya. Lalu, kita dapat berkata: “Saya sedang marah nih.”

Tapi, tanpa harus langsung menyimpulkan: “Karena itu saya harus membalas sekarang.”

Kita dapat berkata: “Saya sedang takut.” Tanpa harus langsung memutuskan: “Saya harus menghindar.”

Inilah perubahan penting dalam mengenal diri. Apa yang muncul di dalam mind dapat kita sadari tanpa harus selalu kita ikuti. Artinya, mind tetap ada. Pengalaman tetap ada. Perasaan akan tetap ada. Tetapi, kita mulai memahami bahwa kita tidak harus hidup sepenuhnya berdasarkan setiap dorongan yang muncul di dalam mind kita.

 

Ada Ruang di Antara Dorongan dan Tindakan

Biasanya proses berlangsung sangat cepat: Pikiran → perasaan → dorongan → reaksi. Namun, sesungguhnya kita dapat belajar membuat ruang atau jarak di antaranya. Ketika tersinggung, misalnya, kita dapat berhenti sejenak. Lalu perhatikan atau rasakan siklus napas. Tarik napas, buang napas. Santai relaks… Dengan tips sederhana ini, kita mulai menyadari bahwa kemarahan sedang muncul. Saksikan dan amati beberapa saat. Kemudian bertanya: “Apakah saya perlu membalas sekarang?”

Jeda itu mungkin hanya beberapa detik. Tetapi beberapa detik tersebut dapat mengubah hasil seluruh situasi. Kita mungkin tetap berbicara, tetapi kata-kata yang keluar bisa berbeda. Kita mungkin tetap bertindak, tetapi tindakannya bisa lebih tepat.

Jadi, Cara Mengendalikan Pikiran dan Perasaan bukan terutama dengan memaksa pikiran dan perasaan berhenti, melainkan dengan belajar mengenali apa yang sedang terjadi dan tidak langsung menjadikannya sebagai Keputusan mutlak. Kita mulai berpindah dari: bereaksi, menjadi: menyadari → melihat → mempertimbangkan → merespons.

Dan di dalam ruang atau jeda seperti inilah kemungkinan Pemberdayaan Diri mulai terbuka.

 

Mengapa Kita Masih Mudah Terseret?

Lalu mengapa proses sederhana ini sering sulit dilakukan? Mengapa Sulit Mengendalikan Emosi? Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah adanya muatan, konten di dalam mind tersebut. Pengalaman, kesan, ingatan, dan berbagai emosi yang belum terselesaikan dapat membuat respons tertentu menjadi sangat kuat setiap harinya karena selalu mendapat ‘asupan’ makanan dari luar dan dalam diri.

Karena itu, seseorang mungkin hanya mendengar satu kalimat sederhana, tetapi reaksinya jauh lebih besar daripada yang diperkirakan. Bukan semata-mata karena kalimat tersebut. Bisa jadi kalimat itu telah menyentuh sesuatu yang selama ini sudah tersimpan sangat rapi.

Maka kita tidak cukup hanya berkata: “Jangan marah.”

“Jangan berpikir negatif.”

“Berpikir positif saja.”

Nasihat seperti itu mungkin berguna dalam keadaan tertentu, dan jangka waktu tertentu pula. Tetapi belum tentu menyentuh muatan yang terkandung di dalam mind yang dapat membuat kita mudah terseret, terpicu. Rahasia yang selama ini tertutupi adalah bahwa konten, muatan gugusan pikiran dan perasaan itu dapat dkurangi, dibersihkan – dan bukan dihilangkan.

 

Cleansing: Melepaskan untuk Menciptakan Ruang

Dalam Meditasi Holistik NSE dikenal adanya proses cleansing, atau katarsis. Cleansing bukanlah usaha mengganti pikiran negatif dengan pikiran positif. Bukan pula membuat mind menjadi kosong atau tidak bergerak dan mengalir lagi.

Namun cleansing merupakan proses yang dapat membantu kita melepaskan dan mengurangi muatan, beban, mental-emosional kita, sehingga tercipta ruang atau jeda antara satu pikiran dengan pikiran lainnya. Satu rasa dengan perasaan lainnya. Dan ada jarak antara ‘kita’ yang menyaksikan gugusan pikiran dan perasaan yang muncul itu. Untuk menciptakan keadaan ini tentu butuh latihan yang intens. Dalam praktik yang tepat, proses ini dapat melibatkan teknik pernapasan, gerakan tubuh, getaran suara, atau teriakan yang dilakukan secara sistematis, sadar dan terarah dalam ruang yang aman – dipandu fasilitator yang berpengalaman.

Bukan dengan melampiaskan amarah kepada orang lain. Bukan dengan curhat-curhatan. Bukan pula membiarkan emosi itu menguasai diri. Namun, kita mulai berlatih memberi kesempatan kepada proses pelepasan beban-beban mental-emosional negatif yang selama ini telah membuat kita mudah terseret olehnya. Tujuannya, membuat bentuk-bentuk gugusan pikiran dan perasaan negatif yang selalu membebani itu berkurang. Sehingga kita mengalami kelegaan, kejernihan pikiran dan kestabilan emosi.

Ketika muatan mind berkurang, maka jarak antara satu pikiran dan perasaan yang lain dapat bertambah. Semakin mudah menciptakan jarak, atau jeda di dalam mind, kemungkinan kita dapat berpikir jernih dan tenang akan semakin intens. Apa yang sebelumnya terasa sangat mendesak mulai dapat dilihat. Dorongan yang sebelumnya terasa seperti perintah mulai terlihat sebagai sekadar dorongan saja. Dan dari sana muncul kemungkinan baru: kita tidak harus langsung bereaksi. Kita sekarang memiliki ruang untuk melihat lebih jernih, luas, dalam dan menyeluruh.

 

Cara Mengendalikan Emosi
Sering berada dalam situasi: setiap pikiran dan perasaan muncul kita langsung bereaksi spontan dan otomatis?

 

Lalu Siapa yang Membantu Kita Menentukan?

Di sinilah kita mulai mengenal peran Buddhi atau Inteligensi yang sejatinya senantiasa ada di dalam diri. Dalam pemahaman Meditasi Holistik NSE, diri manusia dapat dikenali melalui beberapa lapisan atau dimensi: Fisik → Energi → Mind → Buddhi/Inteligensi → Spiritual (5 lapisan diri).

Buddhi/Inteligensi adalah dimensi ke-4 kita. Buddhi bukanlah mind yang lebih pintar. Dengan munculnya peran Buddhi, maka memungkinkan kita bisa melihat lebih luas, lebih dalam, dan lebih tinggi; membedakan, mempertimbangkan, serta melihat konsekuensi sebelum menentukan respons.

Mind mungkin berkata: “Balas!”

Buddhi dapat bertanya: “Apakah membalas sekarang merupakan pilihan yang tepat?”

Mind berkata: “Saya ingin mengatakan ini!”

Buddhi bertanya: “Apa akibatnya jika saya mengatakannya?”

Mind berkata: “Saya ingin melakukan ini.”

Buddhi bertanya: “Apakah ini memang tepat?”

Di sinilah Cara Berpikir Sebelum Bertindak perlu dipahami secara benar. Bukan berpikir berlebihan. Bukan overthinking. Bukan ragu tanpa akhir. Melainkan memberi kesempatan kepada instutusi yang lebih tinggi dari mind mulai bekerja. Ya, lagi-lagi pengalaman ini mesti dilatih dengan tekun atau disiplin.

 

Ucapan Adalah Tindakan yang Kita Tentukan

Salah satu bentuk pilihan yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah ucapan. Kita sering menganggap ucapan hanya sebagai sesuatu yang keluar dari mulut. Padahal satu kalimat dapat menenangkan seseorang dan membuat gusar orang lain.

Satu kalimat dapat menguatkan. Tetapi satu kalimat juga dapat melukai, memicu konflik, bahkan merusak hubungan. Karena itu, ucapan adalah salah satu bentuk tindakan. Ketika marah, mind mungkin berkata: “Katakan saja!”

Namun, Buddhi akan selalu memberi ruang untuk bertanya: “Apakah ini perlu dikatakan?”

Jika memang perlu: “Apakah yang saya katakan benar?”

Dan kemudian: “Apakah cara saya menyampaikannya tepat?”

Nah, bukan berarti kita harus selalu diam. Ada saatnya kita perlu berbicara. Ada saatnya kita perlu mengatakan tidak. Ada saatnya kita perlu menyampaikan ketidaksetujuan. Namun, berbicara karena perlu berbeda dengan berbicara karena ingin melampiaskan dorongan sesaat.

Di sinilah kebijaksanaan itu lebih unggul dari mind yang bersifat kaku, sempit, individual, kelompok dan lain sebagai. Dengan Buddhi, kita dapat melihat sesuatu yang sederhana: memilih kata sebelum kata itu keluar.

 

Tindakan yang Tepat Tidak Selalu Menyenangkan

Hal yang sama berlaku dalam tindakan. Mind mudah bergerak berdasarkan pola: Suka → ambil. Tidak suka → tolak. Marah → lawan. Takut → hindari.

Tetapi apakah semua yang kita sukai selalu baik? Apakah semua yang tidak kita sukai harus kita hindari? Tidak selalu. Kadang kita perlu menahan diri. Kadang kita perlu meminta maaf. Kadang kita perlu mengatakan tidak. Kadang kita perlu menghadapi sesuatu yang sebenarnya ingin kita hindari. Maka, ada perbedaan antara: “Saya ingin melakukan ini,” dan: “saya menentukan melakukan ini karena ini tepat.”

Inilah salah satu bentuk pemberdayaan diri. Bukan ketika kita mampu mendapatkan semua yang kita inginkan, tetapi ketika kita mampu melakukan yang tepat meskipun pilihan tersebut tidak selalu menyenangkan bagi mind, bagi ego kita.

 

Setiap Pilihan Membawa Konsekuensi

Ucapan dan tindakan tidak berhenti ketika dilakukan. Keduanya membawa konsekuensi. Kata-kata yang keluar dapat tinggal dalam ingatan orang lain. Tindakan yang dilakukan dapat mengubah keadaan.

Keputusan yang diambil dapat membawa kita ke pengalaman berikutnya. Karena itu, Cara Mengendalikan Diri agar Tidak Salah Bertindak bukan berarti menjadi manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Kita tetap dapat melakuan kesalahan. Yang penting sekarang adalah belajar melihat sebelum menentukan dan belajar bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan hidup kita. Kita mungkin tidak dapat menentukan semua yang muncul di dalam diri. Tetapi kita dapat belajar menentukan: apa yang akan kita ucapkan, apa yang akan kita lakukan, dan bagaimana kita bertanggung jawab terhadap akibatnya.

 

Cara Mengendalikan Emosi
Kita tidak harus selalu kalah, lemah dan tidak berdaya atas setiap pikiran dan perasaan negatif kita. Ada caranya kok, untuk mengendalikan emosi. Dan cara mengendalikan emosi yang alami adalah dengan menggunakan teknik pernapasan, gerakan badan, getaran suara, teriakan dan lain sebagainya – sebagaimana yang di dapat pada Metode Meditasi Holistik NSE.

 

Lima Pertanyaan yang Sering Muncul

1. Mengapa saya sudah tahu bahwa marah itu tidak baik, tapi tetap sulit menghentikannya?

Karena mengetahui bahwa marah tidak baik belum tentu membuat kita mampu mengubah respons secara langsung. Ketika suatu keadaan menyentuh pengalaman, kesan, atau muatan yang sudah tersimpan di dalam mind, maka respons dapat muncul sangat cepat. Namun, kita mungkin baru menyadarinya setelah kata-kata terucap atau tindakan telah dilakukan.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar “Saya tahu bahwa saya tidak boleh marah.”

Akan tetapi yang lebih penting adalah belajar mengenali apa yang terjadi sebelum kemarahan berubah menjadi ucapan atau tindakan. Dengan mengenali proses tersebut, kita mulai terbiasa secara sadar menciptakan ruang sebelum langsung bereaksi tanpa akal sehat., dan inilah cara mengendalikan emosi yang bisa dilatih.

2. Apakah emosi harus dilawan, ditekan, atau justru dibiarkan keluar?

Tidak harus salah satu dari ketiganya. Menekan emosi tidak otomatis menyelesaikan sumber persoalannya. Sebaliknya, melampiaskan emosi tanpa kesadaran juga dapat menimbulkan persoalan baru. Dan ada kemungkinan lain, yakni: mengenali, melepaskan muatan secara sadar, sehingga ruang, jeda tercipta.

Dalam Meditasi Holistik NSE dikenal proses cleansing, yang melibatkan pengaturan napas, gerakan, suara, atau teriakan secara sadar dan terarah untuk membersihkan muatan-muatan negatif dari pikiran dan perasaan yang muncul dan tersimpan.

Tujuannya bukan melampiaskan emosi kepada orang lain, melainkan membantu mengurangi muatan sehingga kita memiliki jarak yang lebih baik terhadap apa yang muncul di dalam diri.

3. Kalau pikiran dan perasaan muncul begitu saja, apakah kita sebenarnya masih bisa memilih?

Ya. Kemunculan pikiran, perasaan, atau dorongan tidak sama dengan keputusan. Kita mungkin tidak memilih rasa marah yang tiba-tiba muncul. Kita mungkin tidak memilih ingatan yang kembali hadir. Tetapi kita masih dapat belajar menentukan apa yang akan kita lakukan terhadap semua itu.

Di sinilah pentingnya jeda. Ketika kita tidak langsung mengikuti dorongan, muncul kesempatan untuk melihat dengan lebih jernih. Pada saat itulah Buddhi atau Inteligensi dapat berperan: membedakan, mempertimbangkan, dan membantu menentukan respons yang tepat.

Jadi, kita tidak harus memilih apa yang muncul, tetapi kita dapat belajar memilih apa yang keluar dari diri kita.

4. Mengapa saya sering mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak saya inginkan?

Karena antara apa yang sebenarnya kita inginkan dan apa yang dilakukan secara spontan, sering terdapat proses yang berlangsung sangat cepat dan tanpa pertimbangan. Sesuatu muncul di dalam mind, menjadi perasaan atau dorongan, lalu segera diterjemahkan menjadi ucapan atau tindakan. Ketika proses itu berlangsung otomatis, kita seperti hanya mengikuti arus.

Namun, ketika kita mulai mengenali mind dan menciptakan jarak, rantai tersebut tidak harus berakhir pada reaksi spontan. Kita dapat berhenti sejenak dan bertanya: “Apakah ini benar-benar yang ingin saya katakan?” atau: “apakah tindakan ini tepat?”

Pertanyaan sederhana seperti itu pertanda Buddhi sudah mulai bekerja, berkat cleansing yang telah menciptakan ruang bagi Buddhi untuk bekerja.

5. Apakah mungkin kita tidak lagi dikuasai oleh emosi dan pikiran yang muncul di dalam diri?

Sangat mungkin untuk belajar menuju ke sana. Tetapi bukan berarti kita harus menjadi manusia tanpa pikiran dan perasaan. Mind tetap merupakan bagian dari diri kita. Berbagai pengalaman, ingatan, keinginan, kesukaan, ketidaksukaan, dan emosi tetap dapat muncul.

Yang berubah adalah hubungan kita dengan semua itu. Kita tidak lagi harus memperlakukan setiap pikiran sebagai kebenaran, setiap perasaan sebagai perintah, atau setiap dorongan sebagai sesuatu yang harus segera dilakukan.

Namun, kita sudah mulai belajar mengenali mind, mengurangi muatannya, mengambil jarak, dan memberi kesempatan kepada Buddhi untuk menentukan respons. Dengan demikian, kita perlahan melampaui dominasi sifat dan cara kerja mind itu sendiri, bukan pula mengalahkan atau menghilangkannya, tetapi dengan tidak lagi membiarkannya menjadi penentu utama ucapan dan tindakan kita – karena peran Buddhi telah muncul.

 

Dari Mengendalikan Emosi Menuju Memberdayakan Diri

Pada akhirnya, pertanyaan Cara Mengendalikan Emosi membawa kita jauh lebih dalam daripada sekadar bagaimana agar tidak marah. Kita tidak sedang belajar menjadi manusia tanpa emosi. Namun, kita sedang belajar mengenali apa yang muncul, dengan memahami mind, mengurangi muatannya, dan memberi ruang bagi kejernihan, membuka kesempatan bagi Buddhi untuk melihat serta menentukan respons.

Di sinilah makna Memberdayan Diri menjadi lebih dalam. Memberdaya diri bukan berarti mengalahkan mind. Bukan menghilangkan pikiran. Bukan menekan perasaan. Dan bukan pula memusuhi berbagai pengalaman yang ada di dalam diri.

Kita tetap memiliki mind dengan seluruh pengalaman, kesan, suka, tidak suka, keinginan, dan berbagai dorongannya. Namun, kita tidak lagi harus hidup sepenuhnya berdasarkan sifat dan cara kerja mind itu. Kita dapat mengenalinya. Kita dapat mengambil jarak. Kita dapat membersihkan muatannya. Kemudian kita memberi kesempatan kepada Buddhi untuk melihat, membedakan, mempertimbangkan, dan menentukan apa yang tepat.

Dengan demikian, kita mulai melampaui dominasi sifat dan cara kerja mind – sesuatu yang selama ini luput dari perenungan kita. Bukan dengan menghilangkan mind, tetapi dengan tidak lagi menjadikannya satu-satunya penentu ucapan dan tindakan kita.

Keberhasilan bukan: “Saya tidak pernah marah.”

Melainkan: “Ketika marah muncul, saya tidak harus menjadi marah itu.”

Bukan: “Saya tidak pernah memiliki pikiran yang tidak menyenangkan.”

Tetapi: “Saya tidak harus mengikuti setiap pikiran yang muncul.”

Dan akhirnya: “Saya dapat menentukan apa yang akan saya ucapkan dan lakukan.”

Inilah perjalanan dari mengenal diri menuju memberdayakan diri. Kita mungkin tidak dapat memilih semua yang muncul. Tetapi kita dapat belajar menentukan respons kita. Dan mungkin di situlah kebijaksanaan dimulai. Bukan dari jawaban yang besar. Bukan pula dari kemampuan menghilangkan seluruh emosi. Kadang kebijaksanaan hanya membutuhkan: satu tarikan napas, sebuah jeda, dan kesempatan untuk bertanya: “Apa yang tepat untuk saya lakukan sekarang?”

Karena di antara apa yang muncul di dalam diri dan apa yang keluar dari diri kita, masih ada sebuah ruang. Dengan demikian inilah cara mengendalikan emosi secara alami.  

 

 

 

Artikel Relevan: