Pikiran Mengubah Pikiran: Ketika Kita Mulai Melihat Cara Kita Berpikir

Pikiran Mengubah Pikiran

Pikiran Mengubah Pikiran melalui latihan meditasi: mengamati cara berpikir dengan semakin teliti hingga memahami dan memperbaiki pola respons.

 

 

MAKSUD DARI Pikiran Mengubah Pikiran di sini bukanlah sekadar mengganti pikiran yang dianggap buruk dengan pikiran yang lebih positif. Ada proses yang lebih dalam, yakni: kita mulai melihat bagaimana Pikiran bekerja, bagaimana sebuah pikiran muncul, bagaimana pikiran tersebut berkembang menjadi penilaian, dan bagaimana akhirnya memengaruhi cara kita merespons.

Pernahkah Anda mengalami hal seperti ini? Anda sudah tahu bahwa seharusnya tidak perlu marah. Anda tahu bahwa suatu persoalan akan lebih mudah diselesaikan jika dibicarakan dengan tenang. Anda bahkan sudah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengulangi respons yang sama.

Tetapi ketika keadaan serupa datang kembali, Anda tetap bereaksi seperti sebelumnya. Setelah semuanya berlalu, barulah muncul pertanyaan: “Mengapa saya seperti itu lagi?”

Pertanyaan tersebut menunjukkan sesuatu yang menarik. Kita bisa mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, tetapi pengetahuan itu belum tentu membuat kita mampu melihat apa yang sedang berlangsung di dalam diri ketika suatu pengalaman benar-benar terjadi.

Di sinilah perubahan cara berpikir perlu dimulai. Bukan dengan memaksa Pikiran untuk berpikir lain. Melainkan dengan belajar mengamati Pikiran.

 

Mengetahui Pikiran Tidak Sama dengan Mengamati Pikiran

Kita dapat mengetahui banyak hal tentang diri sendiri. Kita tahu bahwa kita mudah tersinggung. Kita tahu bahwa ada keadaan tertentu yang membuat kita cemas. Kita tahu bahwa kita mempunyai kebiasaan tertentu dalam menghadapi persoalan.

Namun mengetahui semua itu belum tentu berarti kita dapat melihat proses yang berlangsung ketika kecenderungan tersebut muncul. Misalnya, seseorang mengatakan sesuatu kepada kita. Kita merasa tersinggung.

Pikiran segera memberikan kesimpulan: “Dia meremehkan saya.”

Kesimpulan itu terasa begitu nyata sehingga kita mungkin tidak sempat memeriksanya. Apakah benar ia bermaksud meremehkan? Ataukah kita sedang menafsirkan ucapannya berdasarkan pengalaman sebelumnya? Ataukah ada sesuatu dalam diri kita yang membuat ucapan tersebut terasa lebih menyakitkan?

Untuk menjawab pertanyaan seperti ini, kita perlu kemampuan untuk tidak hanya mengetahui isi Pikiran, tetapi juga mengamati bagaimana Pikiran sampai pada suatu kesimpulan. Di sinilah perbedaannya.

Mengetahui mengatakan: “Saya memang mudah tersinggung.”

Mengamati mulai bertanya: “Apa yang terjadi dalam diri saya sebelum rasa tersinggung itu muncul?”

Pertanyaan kedua membawa kita lebih dekat kepada proses.

 

Ketika Mata Terpejam, Kita Mulai Menemukan Aktivitas Pikiran

Latihan meditasi memberi kesempatan untuk melakukan pengamatan tersebut secara lebih terarah. Ketika mata terpejam dan perhatian diarahkan ke dalam, kita tidak selalu menemukan keadaan yang kosong dari Pikiran dan Perasaan.

Justru kita dapat menemukan betapa aktifnya kompleksitas pikiran dan perasaan kita. Satu pikiran muncul. Kemudian pikiran lain menyusul. Sebuah ingatan muncul. Perasaan ikut bergerak. Sebuah keinginan datang. Penilaian terhadap sesuatu muncul tanpa kita rencanakan. Kadang kita baru menyadari semua itu ketika kita berhenti sejenak dari kesibukan di luar. Dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas tersebut sering berlangsung begitu cepat sehingga kita langsung mengikutinya.

Pikiran muncul, kita percaya. Perasaan muncul, kita ikuti. Dorongan muncul, kita bertindak. Dalam latihan meditasi, kita belajar mengamati. Bukan untuk memusuhi Pikiran. Bukan untuk memaksanya berhenti. Bukan pula untuk menciptakan keadaan seolah-olah tidak ada Pikiran sama sekali. Kita belajar melihat apa yang sedang berlangsung.

Di sinilah gagasan Pikiran dapat Mengubah Pikiran mulai mempunyai makna yang lebih nyata. Pikiran tidak hanya menjadi sesuatu yang kita ikuti, tetapi aktivitas yang dapat kita amati dan pahami.

 

Pikiran Mengubah Pikiran
Pikiran Mengubah Pikiran adalah salah satu teknik meditasi yang dapat kita tempuh untuk mengubah mindset lama kita yang tidak relevan lagi.

 

Latihan Membuat Pengamatan Semakin Detail

Pengamatan tidak langsung menjadi mendalam. Pada awalnya, mungkin kita hanya menyadari: “Saya sedang marah.”

Kemudian, dengan latihan yang terus dilakukan, kita dapat mulai memperhatikan lebih banyak hal. Ada kejadian yang mendahuluinya. Ada ingatan yang mungkin ikut tersentuh. Ada rasa tidak dihargai. Ada penilaian tertentu. Ada kesimpulan.

Kemudian muncul dorongan untuk memberikan respons. Pengamatan yang semakin teliti membuat rangkaian tersebut mulai terlihat.

Kita tidak lagi hanya mengatakan: “Saya marah.”

Tetapi dapat mulai melihat: “Saya marah karena merasa tidak dihargai.”

Kemudian muncul pertanyaan: “Mengapa saya langsung merasa bahwa saya tidak dihargai?”

Lalu mungkin kita menemukan sesuatu yang lebih jauh: “Ternyata saya mempunyai kebiasaan tertentu dalam menafsirkan situasi seperti ini.”

Di sini terjadi perkembangan yang penting. Kita tidak hanya melihat apa yang kita pikirkan. Kita mulai melihat bagaimana kita berpikir. Inilah salah satu hal yang dapat berkembang melalui latihan meditasi yang dilakukan dengan disiplin.

Semakin kita belajar mengamati, semakin banyak detail yang sebelumnya berlangsung terlalu cepat untuk kita sadari mulai dapat dikenali. Bukan karena Pikiran menjadi semakin sedikit. Melainkan karena pengamatan kita menjadi semakin teliti.

 

Pikiran Dapat Mengubah Pikiran dengan Melihat Cara Kerjanya

Kalau begitu, apa yang sebenarnya berubah? Bukan selalu isi Pikiran. Misalnya seseorang berpikir: “Saya gagal.”

Kemudian ia mencoba menggantinya dengan: “Saya pasti berhasil.”

Kalimat kedua memang lebih menyenangkan. Tetapi belum tentu menyentuh cara berpikir yang menghasilkan kesimpulan pertama. Kita dapat melangkah lebih jauh dengan bertanya: “Mengapa saya langsung menyimpulkan bahwa saya gagal?”

Mungkin satu kesalahan dianggap sebagai bukti bahwa seluruh usaha gagal. Mungkin pengalaman masa lalu membuat kita terbiasa menilai diri sendiri dengan ukuran tertentu. Mungkin kita terlalu cepat menyamakan hasil yang belum sesuai harapan dengan kegagalan.

Di sini kita tidak sekadar mengganti pikiran. Kita mengamati cara Pikiran membentuk kesimpulan. Karena itu, Pikiran Mengubah Pikiran bukan berarti satu pikiran harus mengalahkan pikiran lainnya.

Yang lebih penting adalah kemampuan untuk melihat, memeriksa, dan memahami proses berpikir itu sendiri.

 

Tidak Semua Pikiran Harus Langsung Dipercaya

Kita sering menganggap apa yang muncul di dalam Pikiran sebagai kenyataan. Padahal sebuah pikiran dapat berupa ingatan. Dapat berupa perkiraan. Dapat berupa penilaian. Dapat pula berupa kesimpulan yang dibuat berdasarkan informasi yang sangat terbatas.

Contohnya sederhana. Seseorang tidak membalas pesan kita. Pikiran segera mengatakan: “Dia tidak menghargai saya.”

Kalimat tersebut dapat terasa seperti fakta. Padahal yang kita ketahui sebenarnya hanya satu hal: pesan kita belum dibalas.

“Dia tidak menghargai saya” adalah penafsiran.

Ketika kita mulai dapat membedakan antara apa yang terjadi dan apa yang kita simpulkan mengenai kejadian tersebut, cara kita berpikir mulai mempunyai ruang untuk diperiksa. Ini bukan berarti setiap penafsiran kita salah. Kita hanya belajar untuk tidak selalu menerima kesimpulan pertama sebagai kebenaran terakhir.

 

Pengalaman Menjadi Ujian bagi Cara Kita Berpikir

Pengamatan yang dilatih dalam meditasi kemudian bertemu dengan kehidupan sehari-hari. Kita kembali bekerja. Berbicara dengan orang lain. Menghadapi persoalan. Mengalami keberhasilan maupun kekecewaan. Di sanalah cara berpikir kita diuji.

Kita mungkin pernah meyakini bahwa seseorang selalu mengabaikan kita. Karena itu, ketika ia tidak segera menjawab pesan, kita langsung menganggapnya sebagai bukti. Namun kemudian kita mengetahui bahwa ia sedang menghadapi persoalan yang tidak kita ketahui. Pengalaman tersebut dapat membuat kita meninjau kembali pemahaman sebelumnya.

Bukan berarti pemikiran lama harus langsung dianggap salah. Kita belajar bertanya: “Apakah saya sudah melihat keadaan ini secara utuh?”

Dengan demikian, pengalaman bukan hanya sesuatu yang kita jalani. Pengalaman juga dapat menjadi bahan untuk memeriksa pemahaman kita. Apa yang kita pikirkan bertemu dengan kenyataan. Dari pertemuan itu, kita dapat belajar.

 

Mengubah Cara Berpikir Tidak Berarti Menghapus Semua yang Lama

Cara berpikir kita terbentuk melalui perjalanan hidup. Ada pemahaman yang dahulu mungkin tepat, tetapi tidak lagi sesuai dengan keadaan yang kita hadapi sekarang. Ada pula keyakinan yang kita pegang begitu lama sehingga kita tidak lagi ingat mengapa kita memercayainya.

Karena itu, perubahan tidak selalu berarti membuang semua yang lama. Kadang kita hanya perlu melihatnya kembali. Apa yang dahulu saya yakini? Dari mana pemahaman itu berasal? Apakah pemahaman tersebut masih sesuai dengan kenyataan?

Apakah saya sedang melihat keadaan yang ada sekarang, atau sedang merespons berdasarkan pengalaman masa lalu? Pertanyaan seperti ini memungkinkan kita melakukan koreksi. Inilah makna Pikiran Mengubah Pikiran yakni tepatnya: mengubah pola berpikir dalam arti yang lebih mendalam. Bukan memaksa diri mempunyai pikiran tertentu, tetapi menggunakan kemampuan mengamati dan memeriksa untuk mengetahui apakah cara berpikir yang kita gunakan masih tepat.

 

Dari Pengamatan Menuju Respons yang Berbeda

Perubahan cara berpikir akhirnya dapat terlihat dalam respons kita. Situasi yang sama mungkin tetap terjadi. Orang lain belum tentu berubah. Perasaan tidak selalu langsung hilang. Pikiran lama pun dapat kembali muncul.

Tetapi sekarang kita mungkin lebih cepat mengenalinya. Misalnya rasa tersinggung muncul. Kita menyadarinya. Kemudian muncul pikiran: “Dia tidak menghargai saya.”

Kali ini kita tidak langsung menganggapnya sebagai fakta. Kita memeriksa: “Benarkah demikian?”

Pertanyaan itu sederhana. Tetapi dari pertanyaan tersebut, kita dapat melihat bahwa antara suatu kejadian dan respons kita terdapat proses yang dapat dipahami. Kita tidak perlu berpura-pura tidak marah. Kita juga tidak perlu memaksa perasaan itu hilang.

Yang penting adalah memahami apa yang sedang terjadi sehingga respons tidak selalu berjalan menurut pola lama. Di sinilah perubahan pola respons bukan berarti menekan respons. Perubahan terjadi ketika cara kita memahami suatu keadaan juga mulai berubah.

 

Pikiran Mengubah Pikiran
Semakin sering kita menggunakan cara Pikiran Mengubah Pikiran, maka kemungkinan kita menyadari bahwa Pikiran dan Perasaan adalah salah satu bagian diri kita akan semakin mudah dipahami.

 

Mengapa Latihan Perlu Dilakukan Berulang Kali?

Menyadari satu pola tidak otomatis membuat pola tersebut hilang. Kita dapat melihatnya hari ini, tetapi beberapa hari kemudian mengulanginya kembali. Ini wajar. Pola berpikir yang sudah lama terbentuk tidak selalu berubah hanya karena sekali disadari.

Karena itu latihan diperlukan. Dalam meditasi, kita kembali mengamati. Pikiran muncul. Kita menyadarinya. Perhatian mungkin terbawa. Kita menyadarinya lagi. Pikiran lain muncul. Kita kembali mengamati. Melalui pengulangan tersebut, kemampuan untuk mengenali aktivitas Pikiran dapat menjadi semakin terlatih.

Yang berkembang bukan sekadar kemampuan untuk duduk diam. Yang berkembang adalah ketelitian dalam melihat apa yang berlangsung di dalam diri. Semakin teliti pengamatan, semakin banyak detail yang dapat dikenali. Dan semakin banyak yang dapat dikenali, semakin besar kemungkinan kita memahami pola yang sebelumnya berjalan tanpa disadari.

 

Meditasi Tidak Berakhir Ketika Mata Dibuka

Apa yang kita amati dalam meditasi kemudian dibawa kembali ke kehidupan. Kita membuka mata. Kembali bekerja. Kembali berbicara. Kembali menghadapi keadaan yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Di sanalah latihan menemukan maknanya.

Kita dapat mulai memperhatikan: “Apakah pola yang tadi saya lihat muncul lagi?”

“Apakah saya kembali membuat kesimpulan yang sama?”

“Apakah saya dapat melihat sesuatu yang sebelumnya tidak saya lihat?”

“Apakah respons saya mulai berbeda?”

Dengan demikian, latihan tidak berdiri terpisah dari kehidupan. Latihan meditasi memberi kesempatan untuk mengamati. Kehidupan memberikan kesempatan untuk menguji apa yang kita lihat. Keduanya dapat saling melengkapi.

 

Pikiran Mengubah Pikiran Adalah Proses Belajar

Pada akhirnya, perubahan tidak perlu dipahami sebagai sebuah tindakan sekali jadi. Ia dapat berlangsung sebagai proses: Mengalami → Mengamati → Mempertanyakan → Memeriksa → Memahami → Mengoreksi → Mengalami kembali.

Kita mengalami sesuatu. Kita mengamati apa yang muncul. Kita mempertanyakan kesimpulan yang terbentuk. Kita memeriksa apakah pemahaman tersebut sesuai dengan kenyataan. Kita belajar. Jika ternyata ada yang perlu diperbaiki, kita mengoreksinya. Kemudian kehidupan kembali memberikan pengalaman berikutnya.

Begitu seterusnya. Perubahan cara berpikir bukan sekadar belajar mengucapkan kalimat yang lebih positif. Kita belajar melihat dengan lebih teliti. Dan kemampuan melihat itulah yang terus dilatih.

 

Ketika Cara Berpikir Mulai Berubah

Mungkin pada akhirnya bukan keadaan di luar diri kita yang pertama-tama berubah. Kitalah yang mulai melihatnya dengan cara berbeda. Bukan berarti semua persoalan menjadi mudah. Bukan berarti kita tidak akan pernah marah, kecewa, takut, atau sedih. Pikiran dan Perasaan tetap merupakan bagian dari pengalaman manusia.

Yang berubah adalah kemampuan kita untuk mengenali apa yang sedang berlangsung. Kita mulai melihat bahwa sebuah pikiran belum tentu fakta. Sebuah perasaan belum tentu harus langsung diikuti. Sebuah kesimpulan belum tentu merupakan kebenaran terakhir.

Dan suatu pola lama belum tentu harus terus digunakan hanya karena sudah lama menjadi kebiasaan. Dari pengamatan yang semakin teliti, kita mempunyai kesempatan untuk memahami apa yang terjadi di dalam diri dengan lebih jernih dan memberikan respons yang lebih sesuai dengan keadaan.

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1.Apakah Pikiran Mengubah Pikiran berarti kita harus selalu berpikir positif?

Tidak. Berpikir positif belum tentu berarti memahami cara berpikir. Yang lebih penting adalah kemampuan mengamati pikiran, memeriksa dasar suatu kesimpulan, dan melihat apakah pemahaman tersebut sesuai dengan kenyataan.

 

2.Mengapa pola lama masih muncul walaupun saya sudah menyadarinya?

Karena menyadari suatu pola tidak selalu langsung mengubahnya. Pola yang sudah lama terbentuk dapat muncul kembali. Ketika itu terjadi, kita justru mempunyai kesempatan untuk mengamatinya dengan lebih teliti.

 

3.Apakah meditasi membuat semua pikiran berhenti?

Tidak harus demikian. Dalam latihan meditasi, kita justru dapat semakin menyadari berbagai aktivitas Pikiran dan Perasaan. Yang dilatih adalah kemampuan mengamati, bukan sekadar mengejar keadaan tanpa pikiran.

 

4.Apakah meditasi harus dilakukan lama agar pengamatan menjadi lebih detail?

Yang penting bukan hanya lamanya latihan, tetapi kedisiplinan dan kualitas pengamatan. Dengan latihan yang dilakukan secara teratur, kemampuan untuk mengenali aktivitas Pikiran dapat berkembang secara bertahap.

 

5.Apakah perubahan respons berarti kita tidak boleh mengikuti perasaan?

Bukan demikian. Perasaan perlu dikenali dan dipahami. Yang penting adalah tidak selalu langsung mengikuti dorongan yang muncul tanpa memeriksa apa yang sedang terjadi dan apakah respons tersebut memang tepat.

 

Pengalaman Penulis: Mengamati Pikiran dan Perasaan dari Jarak

Saya sendiri cukup sering melakukan latihan meditasi untuk melihat aliran Pikiran dan Perasaan yang berlangsung di dalam diri. Pada awalnya, pengamatan mungkin hanya berupa kesadaran bahwa suatu pikiran atau perasaan sedang muncul. Tetapi dengan latihan yang dilakukan secara rutin, pengamatan dapat menjadi semakin menyeluruh dan semakin detail.

Saya juga sering mengamati pikiran dan perasaan yang saya rasa perlu dikoreksi. Yang menarik, dalam keadaan tertentu saya dapat mengamatinya tanpa terlibat langsung di dalamnya. Seolah-olah saya melihatnya dari luar. Kadang seperti melihatnya dari ketinggian.

Kadang ada jarak. Kadang ada jeda yang membuat saya tidak langsung terseret oleh apa yang sedang muncul. Dalam keadaan seperti itu, sesuatu yang sebelumnya terasa begitu kuat dapat mulai terlihat dengan cara yang berbeda.

Pikiran dan Perasaan yang hendak dikoreksi dapat tampil dalam bentuk yang semakin jernih. Muatan negatif yang sebelumnya membuatnya begitu reaktif mulai dapat dikenali dan dikoreksi. Ini merupakan pengalaman yang lebih dalam daripada sekadar mengetahui bahwa kita sedang marah, takut, kecewa, atau tersinggung.

Kita mulai dapat melihat keseluruhan gerakannya. Bagaimana ia muncul. Apa yang menyertainya. Bagaimana ia berkembang. Ke mana ia membawa kita. Dan bagian mana yang sebenarnya perlu dikoreksi. Namun pengalaman seperti ini, menurut pengalaman saya, tidak dapat dipisahkan dari latihan yang rutin.

Ada proses Cleansing Pikiran dan Perasaan yang perlu terus dilakukan. Ketika muatan-muatan yang membuat mind sangat reaktif mulai berkurang, kemampuan untuk mengamati tanpa langsung terseret juga dapat berkembang.

Karena itu, bagi saya, meditasi bukan sekadar latihan untuk mendapatkan ketenangan sesaat. Meditasi merupakan kesempatan untuk semakin mengenal apa yang berlangsung di dalam diri. Dari pengalaman inilah saya kemudian memahami bahwa Pikiran dapat digunakan untuk melihat Pikiran; bukan untuk memusuhi atau menghapusnya, tetapi untuk memahami cara kerjanya dengan semakin teliti.

Pengalaman dan pemahaman semacam inilah yang kemudian saya bagikan lebih luas melalui buku Meditasi Holistik NSE. Buku tersebut bukan sekadar kumpulan teori tentang meditasi, tetapi lahir dari perjalanan praktik dan pengalaman yang terus dipelajari, diamati, dan direnungkan.

 

Penutup

Mungkin selama ini kita mengira bahwa untuk mengubah Pikiran, kita harus mencari pikiran yang lebih baik. Padahal ada langkah yang lebih awal: melihat.

Melihat bagaimana pikiran muncul. Melihat bagaimana perasaan menyertainya. Melihat bagaimana suatu kejadian diberi makna. Melihat bagaimana kesimpulan terbentuk. Dan melihat bagaimana dari semua itu lahir suatu respons.

Ketika kemampuan melihat semakin terlatih, kita tidak lagi hanya mengetahui bahwa kita memiliki Pikiran. Kita mulai mengenali cara Pikiran bekerja. Dari sanalah perubahan mempunyai dasar. Pikiran Mengubah Pikiran bukan sekadar mengganti satu pikiran dengan pikiran lainnya. Ia adalah proses belajar untuk mengamati, memahami, memeriksa, dan mengoreksi cara kita berpikir.

Semakin disiplin kita mengamati, semakin banyak hal yang dapat kita lihat. Dan semakin detail kita mampu melihat, semakin terbuka kemungkinan untuk memahami makna Pikiran Mengubah Pikiran tersebut.

 

 

Artikel Relevan: