Pikiran Lapisan Ketiga: Memahami Diri Tidak Berhenti pada Pikiran dan Perasaan

Pikiran Lapisan Ketiga

Kita sering mengenali diri melalui apa yang sedang kita pikirkan dan rasakan. Tetapi ketika mulai melihat Mind sebagai salah satu lapisan diri, dan ternyata Pikiran Lapisan Ketiga kita, maka cara kita memahami manusia pun dapat menjadi lebih luas.

 

 

PERNAHKAH ANDA MENYADARI bahwa Pikiran Lapisan Ketiga dari diri kita? Adakah perbedaannya bila kita sampai pada pemahaman ini? Pernahkah Anda merasakan ketika semuanya menjadi: ini pikiran saya? Ini perasaan saya?

Pernahkah Anda mengatakan: “Saya memang orangnya pemarah.”

“Saya memang gampang cemas.”

“Saya memang banyak pikiran.”

Kalimat-kalimat seperti ini terdengar biasa. Bahkan mungkin terasa benar karena kita mengalaminya sendiri. Misalnya, ketika kemarahan muncul berulang kali, kita mulai menyebut diri sebagai orang pemarah. Ketika kecemasan sering datang, kita merasa memang begitulah diri kita.

Namun, coba perhatikan. Kemarahan dapat muncul, kemudian mereda. Kecemasan dapat datang dan pergi. Pikiran yang memenuhi kepala hari ini pun belum tentu sama dengan pikiran yang muncul beberapa waktu kemudian. Pada titik ini, kita mulai menyadari bahwa Pikiran Lapisan Ketiga kita ini ternyata memiliki sifat yang berubah-ubah dan tidak stabil juga.

Kalau sesuatu dapat berubah, apakah tepat jika sesuatu itu langsung kita jadikan definisi tentang diri kita? Dan pertanyaan sederhana semacam ini dapat membuka cara pandang yang berbeda terhadap diri.

 

Kalau yang Berubah Itu Bukan Seluruh Diri, Lalu Apa yang Sedang Kita Kenali?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenali diri melalui banyak hal: apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, pengalaman yang kita ingat, pandangan yang kita miliki, dan bagaimana kita merespon berbagai keadaan. Semua itu nyata.

Kita tidak perlu menyangkalnya. Dalam kerangka ini, mind dapat dipahami sebagai gugusan pikiran dan perasaan yang kita alami. Ya, pikiran dan perasaan memiliki sifat yang dapat berubah-ubah. Apa yang dapat Anda bayangkan memperhatikan sifat dari Pikiran Lapisan Ketiga dari kita ini?

Apa yang kita sukai sekarang dapat berbeda dari beberapa tahun lalu. Cara kita memandang suatu persoalan dapat berubah setelah mendapatkan pengalaman baru. Perasaan terhadap seseorang pun dapat berubah seiring waktu.

Maka sebuah pertanyaan dapat muncul: Jika pikiran dan perasaan merupakan bagian dari pengalaman diri, apakah keduanya sudah menjelaskan seluruh diri manusia?

Di sinilah kita mulai melihat bahwa pikiran bukan seluruhnya. Pertanyaannya kemudian bukan lagi bagaimana menghilangkan atau melawan mind, akan tetapi bagaimana memahami posisi mind dalam keseluruhan diri manusia.

 

Mind Itu Penting, Tetapi Ia Bukan Satu-Satunya Dimensi Diri

Tentu mind sangatlah memiliki peranan besar dalam kehidupan kita. Melalui mind, kita mengalami berbagai pikiran dan perasaan, mengingat pengalaman, membentuk pandangan, serta memberikan respon terhadap keadaan.

Karena itu, memahami mind tetaplah sangat penting. Namun, ketika kita mulai melihat manusia secara lebih menyeluruh, pertanyaannya akan berubah. Bukan hanya: “Bagaimana saya memahami pikiran dan perasaan saya?”

Melainkan: “Di mana posisi mind dalam keseluruhan diri manusia?”

Pertanyaan inilah yang membawa kita pada sebuah cara pemetaan diri manusia yang dikenal sebagai Lima Lapisan Diri Manusia.

 

Lima Lapisan Diri Manusia: Sebuah Cara Melihat Keseluruhan

Dalam kerangka Meditasi Holistik NSE (baca buku: Ananda’s Neo Self Empowerment – sebuah metode yang dirancang oleh Maharishi Anand Krishna), manusia dapat dipahami melalui lima lapisan: Fisik – Energi – Mind – Inteligensi atau Buddhi – Spiritual. Dalam pemetaan tersebut, mind berada pada lapisan ketiga. Tetapi makna “ketiga” di sini bukan berarti peringkat.

Mind bukan lebih rendah daripada lapisan setelahnya dan bukan pula kurang penting dibandingkan lapisan sebelumnya. Istilah Pikiran Lapisan Ketiga menunjukkan posisi mind dalam sebuah cara melihat keseluruhan diri manusia. Pemetaan ini membantu kita melihat bahwa manusia tidak hanya terdiri dari apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan.

Namun, kelima lapisan tersebut juga tidak sebaiknya dibayangkan sebagai lima bagian yang berdiri sendiri. Di sinilah pemahaman kita perlu diperluas.

 

Lapisan Bukan Sekat

Ketika mendengar istilah “lima lapisan”, kita mungkin membayangkan lima kotak yang terpisah. Padahal kehidupan manusia tidak bekerja seperti itu. Tubuh yang kurang beristirahat, misalnya, dapat memengaruhi kondisi energi dan suasana hati. Suasana hati kemudian dapat memengaruhi pikiran dan cara kita merespon keadaan.

Sebaliknya, tekanan pikiran dan perasaan yang berlangsung terus-menerus juga dapat memengaruhi kondisi tubuh. Pengalaman manusia saling berkaitan. Karena itu, “lapisan” lebih tepat dipahami sebagai cara untuk melihat berbagai dimensi diri, bukan sebagai sekat yang memisahkan satu bagian dari bagian lainnya.

Kelima lapisan juga tidak perlu dipahami sebagai tangga yang harus dinaiki satu per satu. Kita tidak sedang berbicara tentang menjadi “lebih tinggi” atau “lebih rendah”. Yang sedang kita lakukan adalah memperluas cara melihat manusia.

Lalu, apa Manfaat Memahami Lapisan Diri bagi kehidupan kita?

 

Pikiran Lapisan Ketiga
Memahami bahwa Pikiran Lapisan Ketiga diri kita adalah ibarat memegang sebuah peta yang mesti digunakan untuk mengenali diri secara keseluruhan.

 

Apa Manfaat Memahami Lapisan Diri?

Memahami lapisan diri bukan sekadar menambah pengetahuan tentang lima istilah. Yang lebih penting adalah perubahan cara melihat. Tidak terlalu cepat menyamakan pengalaman sebagai identitas.

Ketika sedang marah, misalnya, kita dapat melihat: “Saya sedang mengalami kemarahan.” dan tidak buru-buru menyimpulkan: “Saya memang orang pemarah.”

Perbedaannya mungkin terlihat kecil. Namun, cara melihat seperti ini membantu kita memberi ruang antara pengalaman yang sedang berlangsung dan kesimpulan tentang siapa diri kita. Mulai melihat keterhubungan dalam diri. Apa yang terjadi pada tubuh, energi, pikiran, dan perasaan tidak selalu dapat dipisahkan dengan mudah. Karena itu, kita tidak hanya bertanya: “Apa yang sedang saya pikirkan?”

Kita juga dapat mulai memperhatikan keadaan diri secara lebih menyeluruh. Memiliki peta untuk mengenali diri. Sebuah peta tidak menyelesaikan perjalanan. Tetapi peta membantu kita mengetahui bahwa masih ada wilayah yang mungkin belum kita perhatikan.

Begitu pula dengan lima lapisan diri. Pengetahuan ini bukan tujuan akhir. Ia dapat menjadi awal untuk mengenali diri secara lebih luas.

Lalu muncul pertanyaan berikutnya: Apakah mengetahui peta berarti kita sudah mengalami apa yang ditunjukkan oleh peta tersebut?

Jawabnya: Ternyata tidak.

 

Dari Mengetahui Peta Menuju Mengalami Perjalanan

Kita dapat mengetahui bahwa manusia memiliki lima lapisan. Kita juga dapat membaca berbagai penjelasan tentangnya. Namun, mengetahui sesuatu secara konsep berbeda dengan mengamati bagaimana sesuatu itu hadir dalam kehidupan kita sendiri.

Karena itu, ada perjalanan yang perlu dilalui: pengetahuan → pengamatan → pengalaman. Kita mulai dari mengetahui. Kemudian belajar memperhatikan diri. Lalu mengamati apa yang sungguh-sungguh terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Dari pengamatan yang jujur, pemahaman dapat berkembang menjadi pengalaman yang lebih nyata. Inilah salah satu Tujuan Mengenali Pikiran dan memahami diri secara lebih luas: bukan sekadar mengetahui istilah, tetapi mulai melihat apa yang sesungguhnya terjadi dalam diri.

Di sinilah sebuah paradigma perlu ditempatkan secara proporsional.

 

Paradigma adalah Peta, Bukan Pengganti Pengalaman

Lima lapisan diri dapat menjadi sebuah paradigma—sebuah cara untuk membantu kita melihat manusia secara lebih luas. Tetapi paradigma bukan pengganti pengalaman. Kita dapat mempelajarinya, mempraktikkannya, mengamatinya, kemudian melihat bagaimana pemahaman tersebut berhubungan dengan kehidupan kita sendiri. Dengan demikian, kita tidak sekadar menghafal: Fisik – Energi – Mind – Inteligensi atau Buddhi – Spiritual.

Kita mulai bertanya: “Apa yang saya alami?”

“Apa yang selama ini belum saya perhatikan?”

“Apakah pemahaman ini membantu saya melihat diri dengan lebih jernih?”

Sikap seperti ini membuat sebuah paradigma menjadi alat untuk mengeksplorasi diri, bukan sekadar sesuatu yang harus diterima sebagai dogma. Dan pada titik inilah pengalaman praktik menjadi penting.

 

Mengetahui dan Mengalami Ternyata Berbeda

Dalam perjalanan saya mengenal dan mempraktikkan Metode NSE sejak akhir 1999, saya semakin melihat bahwa mengetahui sesuatu secara konsep dan mengalaminya dalam kehidupan nyata adalah dua hal yang berbeda.

Sebuah pemahaman dapat terasa sangat jelas ketika kita membacanya. Tetapi ketika berhadapan dengan kehidupan sehari-hari, berbagai kecenderungan lama masih dapat muncul. Hal itu justru menjadi bagian dari proses pengamatan.

Kita belajar melihat kembali apa yang terjadi dalam diri, bukan menganggap bahwa sekali memahami sebuah konsep berarti persoalan telah selesai. Bagi saya, pengalaman seperti ini membuat pemahaman menjadi lebih hidup. Lima lapisan diri tidak lagi sekadar menjadi istilah yang diketahui, tetapi dapat menjadi sebuah cara untuk melihat pengalaman dengan lebih luas.

Dari perjalanan praktik, pengamatan, dan perenungan semacam inilah buku Meditasi Holistik NSE lahir. Buku tersebut bukan catatan dari seseorang yang menganggap perjalanannya telah selesai. Ia lebih tepat dipahami sebagai dokumentasi perjalanan praktik, pengamatan, dan perenungan dalam mengenali dan memberdayakan diri.

 

Pikiran Lapisan Ketiga
Ketika sudah memahami Pikiran Lapisan Ketiga diri, maka kita dengan sendirinya akan selalu waspada terhadap setiap isi dari pikiran dan perasaan yang muncul. Bahwa ia bukanlah keseluruhan diri kita. Dapatkah penjelasan lebih detail pada buku: Meditasi Holistik NSE, karya DP Ezsar sebagai hasil pengalaman mempraktikkannya.

 

Pikiran Lapisan Ketiga: Sebuah Awal, Bukan Akhir

Mengetahui bahwa mind merupakan lapisan ketiga dalam lima lapisan diri manusia dapat mengubah cara kita melihat pengalaman sehari-hari. Ketika pikiran dan perasaan muncul, kita tidak harus langsung menjadikannya sebagai keseluruhan identitas diri.

Kita dapat mulai melihatnya sebagai bagian dari pengalaman manusia yang lebih luas. Dan ketika mengetahui adanya lapisan-lapisan lain, kita pun tidak perlu buru-buru mencari pengalaman yang luar biasa.

Kita dapat mulai dari hal yang sederhana: mengamati diri. Apa yang sedang terjadi? Apa yang sedang saya pikirkan? Apa yang sedang saya rasakan? Bagaimana semua itu berkaitan dengan keadaan saya secara keseluruhan?

Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam inilah perjalanan ke dalam diri dapat dimulai. Jadi, Pikiran Lapisan Ketiga bukanlah kesimpulan tentang manusia. Ia justru dapat menjadi sebuah awal—awal untuk melihat bahwa diri manusia mungkin jauh lebih luas daripada apa yang selama ini kita kenali sebagai “saya”.

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1.Apa yang dimaksud dengan Pikiran Lapisan Ketiga?

Pikiran Lapisan Ketiga merujuk pada posisi Mind sebagai lapisan ketiga dalam pemetaan lima lapisan diri manusia: Fisik, Energi, Mind, Inteligensi atau Buddhi, dan Spiritual. “Ketiga” menunjukkan posisi dalam pemetaan, bukan peringkat.

 

2.Mengapa kita perlu memahami Pikiran Lapisan ketiga ini?

Karena pemahaman tersebut dapat membantu kita melihat bahwa pikiran dan perasaan merupakan bagian penting dari pengalaman manusia, tetapi tidak perlu langsung dianggap sebagai keseluruhan diri.

 

3.Apa manfaat memahami lapisan diri?

Manfaat memahami Pikiran Lapisan Ketiga diri antara lain untuk membantu kita tidak terlalu cepat menyamakan pengalaman dengan identitas, melihat keterhubungan berbagai dimensi diri, serta memiliki peta untuk mulai mengenali diri secara lebih menyeluruh.

 

4.Apa tujuan mengenali pikiran?

Tujuan mengenali pikiran bukan sekadar mengetahui apa yang sedang muncul dalam mind. Kita dapat mulai mengamati pikiran dan perasaan dengan lebih jernih serta memahami bahwa apa yang muncul dalam mind tidak selalu menjelaskan keseluruhan diri.

5.Apakah lima lapisan diri manusia harus dipercaya sebagai dogma?

Tidak seharusnya berhenti pada kepercayaan. Pikiran Lapisan Ketiga bukanlah sebagai dogma, namun pemahaman ini dapat digunakan sebagai paradigma atau peta untuk membantu melihat diri. Pemahaman tersebut kemudian dapat diamati dan dieksplorasi melalui pengalaman serta praktik.

 

6.Apa hubungan artikel ini dengan Meditasi Holistik NSE?

Artikel ini memberikan salah satu cara untuk memahami diri dalam kerangka yang lebih luas. Meditasi Holistik NSE kemudian menjadi salah satu jalan untuk melanjutkan proses pengamatan, pemahaman, dan pemberdayaan diri.

 

 

Artikel Relevan: