Cara Kerja Pikiran: Mengapa Satu Pikiran Bisa Membawa Kita Begitu Jauh?

Cara Kerja Pikiran

Dari satu pikiran, bisa muncul keinginan, ingatan, harapan, kekhawatiran, dan berbagai bentuk Pikiran dan Perasaan lainnya di saat bersamaan. Cara Kerja Pikiran tanpa kita sadari, semuanya dapat saling terhubung dan membentuk pola yang akan memengaruhi cara kita menjalani kehidupan.

 

TIDAK BANYAK ORANG yang menaruh perhatian untuk mengenali dan mengamati Cara Kerja Pikiran secara disiplin dan sadar. Pernahkah Anda mengalami sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi kemudian pikiran itu bisa membawa kita begitu jauh?

Suatu pagi, saat baru bangun, kita duduk di tepi tempat tidur, lalu sebuah pesan terdengar masuk ke gadget. Sepertinya seseorang yang kita tunggu-tunggu sejak kemarin. Baru membaca pesannya saja sudah muncul rasa senang. Kita membalasnya. Setelah itu kita menunggu. Beberapa menit kemudian, tanpa sadar kita melihat kembali layar telepon. Belum ada balasan.

Mulailah muncul pertanyaan. Mungkinkah dia sedang sibuk? Kemudian muncul dugaan lain. Atau jangan-jangan ada sesuatu? Dari satu pesan yang sederhana, tiba-tiba sudah muncul harapan, ingatan, dugaan, bahkan kekhawatiran. Padahal, peristiwanya baru satu.

Lalu kita mungkin bertanya dalam hati: Mengapa satu pikiran bisa membawa kita begitu jauh di pagi hari?

 

Kita Tidak Hanya Memiliki Pikiran, Kita Pun Mengikuti Gerakannya

Selama ini kita mungkin lebih sering menyadari apa yang sedang kita pikirkan daripada memperhatikan apa yang terjadi setelah pikiran itu muncul. Kita tahu sedang senang. Kita tahu sedang marah. Kita tahu sedang takut. Kita tahu sedang menginginkan sesuatu. Tetapi pernahkah kita memperhatikan perjalanan setelahnya?

Rasa suka dapat membuat kita ingin memiliki. Keinginan memiliki dapat membuat kita ingin mendapatkan lebih banyak. Setelah mendapatkannya, kita mungkin ingin mempertahankannya. Lalu muncul rasa takut kehilangan. Ketika rasa takut muncul, kita mulai menjaga, menghitung, mencurigai, atau membayangkan berbagai kemungkinan.

Begitu banyak hal dapat bergerak yang dimulai satu titik awal – sebuah pikiran sederhana. Di sinilah tindakan memahami Cara Kerja Pikiran mulai dapat kita lihat bukan lagi sebagai sesuatu yang jauh dan teoritis, melainkan sebagai sesuatu yang berlangsung dalam kehidupan kita sendiri. Sesuatu yang dapat kita lihat, amati dan rasakan langsung.

Kita tidak hanya mempunyai pikiran dan perasaan saja. Namun, kita pun sering mengikuti gerakannya tanpa sadar dan kritis.

 

Baca juga: Belajar Mengenal Pikiran dan Perasaan (Mind) bagi Pemula (Bagian 3)

 

Ada Banyak Hal yang Bergerak di Dalam Mind

Untuk melihatnya dengan lebih sederhana, kita dapat menggunakan istilah Program Bawaan Mind. Bukan program seperti pada komputer yang bekerja secara kaku, melainkan ini adalah sebuah istilah sederhana untuk menggambarkan berbagai hal yang sudah ada dan dapat bekerja di dalam Mind kita, seperti: ingatan, keinginan, pertimbangan, kesan, suka, tidak suka, perhitungan, obsesi, pengalaman, dan berbagai kecenderungan lainnya.

Satu hal dapat bertemu dengan hal lain. Sebuah ingatan dapat membangkitkan perasaan. Perasaan dapat memunculkan keinginan. Keinginan dapat mengundang perhitungan. Perhitungan dapat melahirkan kekhawatiran. Lalu, kekhawatiran dapat membuat kita kembali mengingat pengalaman sebelumnya. Begitulah berbagai isi mind dapat saling berinteraksi.

Kita mungkin tidak menyadari seluruh prosesnya, tetapi dampaknya dapat kita rasakan dalam cara berpikir, berbicara, memilih, bahkan dalam cara kita menjalani sebuah hari.

 

Cara Kerja Pikiran
Begitu banyak hal dapat bergerak yang dimulai satu titik awal – sebuah pikiran sederhana. Di sinilah tindakan memahami Cara Kerja Pikiran mulai dapat kita lihat bukan lagi sebagai sesuatu yang jauh dan teoritis, melainkan sebagai sesuatu yang berlangsung dalam kehidupan kita sendiri. Sesuatu yang dapat kita lihat, amati dan rasakan langsung.

 

Begitu Ini Muncul, Sering Kali Itu Mengikuti…

Coba kita lihat sesuatu yang lebih dekat. Kita menyukai sebuah makanan. Karena suka, kita ingin menikmatinya lagi. Karena ingin lagi, kita mulai mencarinya. Setelah mendapatkannya, kita mungkin ingin mencoba yang lebih enak. Sederhana.

Tetapi pola yang sama dapat bekerja pada banyak hal lain. Kita menyukai seseorang. Kita ingin dekat dengannya. Ketika sudah dekat, kita ingin hubungan itu tetap seperti yang kita harapkan. Ketika muncul kemungkinan kehilangan, rasa suka tadi dapat bertemu dengan rasa takut.

Dari rasa takut, muncul keinginan untuk mempertahankan. Dari keinginan mempertahankan, dapat muncul kecemasan. Satu bentuk pengalaman dapat berubah menjadi bentuk lainnya. Karena itu, ketika kita memperhatikan Cara Kerja Pikiran, kita sebenarnya sedang melihat sebuah gerakan yang saling terhubung dan memengaruhi.

Bukan hanya apa yang muncul, tetapi apa yang sering mengikuti setelahnya – selalu alirannya mengalir, tidak terputus. Mungkin ada semacam pola sederhana: Begitu ini muncul, sering kali yang lainnya mengikuti.

Bukan hukum yang selalu berlaku. Bukan pula pola yang sama untuk setiap orang. Tetapi ketika kita mulai memperhatikan, kita mungkin menemukan bahwa beberapa gerakan di dalam diri kita ternyata cukup familiar.

 

Baca juga: Pikiran dan Perasaan (Mind): Eksplorasi Lebih Jauh Berdasarkan Pengalaman (Bagian 2)

 

Mind Tidak Selalu Bergerak dalam Garis Lurus

Kita juga perlu berhati-hati agar tidak membayangkan mind sebagai sesuatu yang sederhana. Bukan hanya pikiran yang positif atau negatif. Bukan hanya rasa suka atau tidak suka. Mind itu lebih seperti sebuah spektrum – berlapis, tumpang-tindih, saling memengaruhi dan dapat bertransformasi.

Rasa suka dapat bercampur dengan takut. Keinginan dapat bertemu dengan ingatan. Harapan dapat berdampingan dengan kekhawatiran. Keberanian dapat muncul bersamaan dengan keraguan. Bahkan sesuatu yang kita anggap “positif” dapat membawa gerakan lain di belakangnya.

Keberhasilan, misalnya, dapat melahirkan rasa percaya diri. Tetapi pada saat yang sama dapat pula muncul keinginan untuk mempertahankan keberhasilan tersebut. Atau rasa was-was mulai muncul, takut kita tidak bisa mempertahankannya. Karena itu, pengalaman manusia tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus.

Berbagai pikiran dan perasaan dapat bertemu, saling memengaruhi, berubah bentuk, lalu menghasilkan gerakan berikutnya. Di sinilah Pola dan Cara Kerja Mind menjadi menarik untuk diamati dan dipahami. Bukan untuk menghakimi diri sendiri. Bukan pula untuk mengatakan bahwa pola tertentu benar atau salah. Tetapi untuk melihatnya sebagaimana adanya.

 

Mengapa Pola Saya Berbeda dengan Pola Orang Lain?

Kita mungkin pernah heran melihat seseorang begitu takut terhadap sesuatu yang menurut kita biasa saja. Sebaliknya, sesuatu yang membuat kita khawatir mungkin justru dianggap ringan oleh orang lain. Mengapa?

Karena perjalanan setiap orang tidak sama. Keluarga, pendidikan, lingkungan, budaya, pengalaman, kebiasaan, informasi yang kita terima, bahkan berbagai doktrin, dogma, dan kesan kehidupan dapat ikut membentuk serta memperkuat pola dan cara kerja pikiran tertentu.

Apa yang pernah kita alami dapat meninggalkan kesan. Kesan itu dapat bertemu dengan pengalaman berikutnya. Pengalaman baru kemudian terasa familiar karena mengingatkan kita pada sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. Begitu seterusnya.

Karena itu, Penyebab Pola Kerja Pikiran tidak selalu dapat ditemukan pada satu kejadian saja. Sering kali ada perjalanan panjang di belakangnya. Dan mungkin itulah sebabnya kita tidak selalu mudah memahami mengapa diri kita bereaksi dengan cara tertentu.

 

Baca juga: Mengenal Pikiran dan Perasaan (Mind): Sifat dan Cara Kerjanya (Bagian 1)

 

“Memang Saya Orangnya Seperti Ini”

Ada satu kalimat yang mungkin cukup sering kita ucapkan: “Memang saya orangnya seperti ini.”

Saya mudah khawatir. Saya sulit percaya kepada orang lain. Saya, kalau sudah suka sesuatu memang susah berhenti. Saya tidak tahan kalau dikritik. Saya memang orang yang cepat marah. Kalimat-kalimat tersebut terasa begitu wajar karena pola itu mungkin sudah berkali-kali kita alami.

Tetapi bagaimana kalau sesekali kita tidak langsung mengatakan, “memang saya seperti ini”?

Bagaimana kalau kita berhenti sebentar dan melihat: Apa yang sebenarnya terjadi sebelum saya sampai pada keadaan ini? Bukan untuk menyalahkan diri. Bukan pula untuk mencari siapa yang salah. Hanya melihat.

Mungkin kita menemukan bahwa kemarahan tidak muncul begitu saja. Ada perkataan yang kita dengar. Ada kesan yang muncul. Ada ingatan yang ikut terbawa. Ada keinginan agar sesuatu berjalan sesuai harapan. Ada rasa tidak suka ketika kenyataan tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Semua itu mungkin saling bertemu. Dan tiba-tiba kita marah. Ketika mulai melihat rangkaian tersebut, sesuatu yang sebelumnya terasa seperti “saya” mulai dapat kita amati sebagai sebuah proses.

 

Dari Mengalami Menjadi Melihat

Di sinilah perubahan kecil tetapi penting dapat terjadi. Dulu mungkin kita hanya berkata: “Saya sedang marah.” Sekarang mulai muncul pertanyaan: “Apa yang terjadi sebelum kemarahan ini muncul?”

Dulu: “Saya sangat menginginkan ini.” Sekarang: “Apa yang terjadi setelah keinginan ini muncul?”

Dulu: “Saya takut kehilangan.” Sekarang: “Bagaimana rasa takut ini berkembang di dalam diri saya?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini tidak akan langsung menyelesaikan apa pun. Tetapi pertanyaan tersebut telah mengubah posisi kita. Yakni, kita sudah mulai dapat “melihat”. Dan ketika mulai dapat melihat, kita tidak lagi sepenuhnya terseret oleh apa yang sedang berlangsung. Telah tercipta sedikit ruang yang sebelumnya tidak bisa dlakukan atau disadari. Ada sedikit jarak. Ada jeda.

 

Cara Kerja Pikiran
Jika selama ini kita menganggap Pikiran dan Perasaan (Mind) demikian adanya, sesuatu yang tidak dapat diamati, dikenali dan diperhatikan, maka sesungguhnya Cara Kerja Pikiran itu bisa kita kenali dan amati juga.

 

Jarak dan Jeda

Ini bukanlah hal yang sederhana. Jarak bukan berarti kita menjadi dingin terhadap kehidupan. Jeda juga bukan berarti kita harus menghentikan pikiran. Jarak dan jeda muncul ketika kita mulai mampu melihat bahwa cara kerja pikiran dan perasaan yang sedang berlangsung bukanlah seluruh diri kita.

Namun kita sudah melihatnya sebagai sesuatu yang sedang terjadi di dalam diri kita. Dan kita mulai menyadarinya. Mungkin hanya beberapa detik. Mungkin hanya sesaat. Tetapi dalam sesaat itu kita dapat melihat: “Oh… ternyata tadi saya mulai dari sini, kemudian pikiran saya bergerak ke sana.”

Kesadaran seperti ini membuat pengalaman yang tadinya terasa begitu otomatis menjadi sedikit lebih terlihat. Dan ketika sesuatu sudah terlihat, kita tidak lagi sepenuhnya berada di dalam arusnya. Kita sudah mulai memiliki kesempatan untuk mengenalinya, terpisah darinya.

 

Memahami Cara Kerja Pikiran dari Apa yang Kita Alami

Mungkin pada akhirnya, yang paling menarik bukanlah seberapa banyak teori yang kita pahami tentang mind. Namun yang lebih penting adalah ketika suatu hari kita mengalami sesuatu yang biasa, lalu tiba-tiba menyadari: “Oh… ternyata saya selama ini bukan hanya mengalami pikiran dan perasaan. Saya juga mengikuti gerakannya tanpa selalu menyadarinya.”

Satu pikiran muncul. Kemudian bertemu dengan ingatan. Ingatan bertemu perasaan. Perasaan bertemu keinginan. Keinginan bertemu harapan. Harapan bertemu kekhawatiran. Dan seterusnya. Dan tidak selalu sama. Tidak selalu berurutan.

Tetapi ada gerakan yang dapat kita lihat jika kita mulai memperhatikannya. Lalu mungkin muncul satu kesadaran yang sederhana: “Oh… ternyata begini cara kerja pikiran dan perasaan saya.”

Bukan berarti semuanya sudah selesai. Justru mungkin, dari sinilah perjalanan berikutnya dimulai. Karena ketika kita sudah mulai bisa melihat apa yang berlangsung di dalam diri, mungkin akan muncul sebuah pertanyaan yang lebih dalam: Lalu, apa yang dapat saya lakukan dengan apa yang sudah saya lihat? (Silakan baca pengalaman Penulis: Resensi Buku Meditasi Holistik NSE Penulis DP Ezsar)

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1.Apakah pikiran dan perasaan selalu mengikuti pola tertentu?

Tidak selalu. Setiap orang memiliki pengalaman, kesan, kebiasaan, lingkungan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Karena itu, pola yang terlihat pada seseorang belum tentu sama dengan pola pada orang lain.

Yang penting bukan mencari pola yang pasti berlaku untuk semua orang, melainkan mulai memperhatikan kecenderungan yang berulang dalam diri kita sendiri.

 

2.Apa yang dimaksud dengan Program Bawaan Mind?

Program Bawaan Mind adalah istilah sederhana untuk menggambarkan berbagai isi dan kecenderungan yang terdapat dalam mind, seperti ingatan, keinginan, kesan, pertimbangan, suka, tidak suka, perhitungan, dan sebagainya.

Berbagai hal tersebut dapat saling berinteraksi dan memunculkan gerakan berikutnya. Istilah ini tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa manusia bekerja seperti komputer atau bahwa setiap orang sudah memiliki pola yang tidak dapat berubah.

 

3.Apa manfaat mengenali cara kerja pikiran sendiri?

Mengenalinya bukan berarti kita harus segera mengubah atau menghilangkan setiap pikiran dan perasaan yang muncul. Langkah awalnya justru lebih sederhana: melihat apa yang sedang terjadi di dalam diri.

Ketika kita mulai melihat bahwa satu pikiran dapat membawa pikiran lain, atau satu perasaan dapat memunculkan keinginan dan kekhawatiran, kita kemudian memiliki kesempatan untuk tidak selalu mengikuti semuanya secara otomatis.

Dari pengamatan ini, perlahan dapat muncul jarak dan jeda. Dan mungkin, dari sinilah perjalanan memahami diri menjadi lebih jernih.

 

 

Artikel Relevan: