Pikiran Negatif Sulit Dihilangkan? Mengapa Bisa Demikian?

Pikiran Negatif Sulit Dihilangkan

Bukan karena Kita Tidak Berdaya. Tetapi karena Pikiran Negatif yang Sulit Dihilangkan Itu Memiliki Pola dan Cara Kerja yang Dominan dan Perlu Kita Pahami.

 

APAKAH ANDA SERING BERTANYA: mengapa pikiran negatif begitu sulit dihilangkan? Ya, kemungkinan hampir setiap orang pernah mengalaminya. Kita sudah berusaha berpikir positif, tetapi tiba-tiba muncul kembali kekhawatiran, kecurigaan, penyesalan, kemarahan, khayalan buruk, atau bayangan tentang sesuatu yang belum tentu terjadi.

Kadang kita bahkan berkata kepada diri sendiri, “Jangan berpikir begitu!”

Anehnya, semakin berusaha menyingkirkannya, pikiran justru terasa semakin kuat. Lalu kita mulai bertanya: Apa sih penyebab pikiran negatif? Mengapa pikiran negatif terus muncul, padahal kita sendiri tidak menginginkannya? Apakah ini normal? Apakah ini alami?

Mungkin persoalannya bukan karena kita kurang kuat. Jangan-jangan, karena kita memang belum memahami bagaimana pikiran dan perasaan itu bekerja….

 

Pikiran Negatif Bukan Berarti Kita Orang Negatif

Satu hal penting yang perlu kita pahami adalah bahwa kemunculan sebuah pikiran negatif tidak otomatis menggambarkan siapa diri kita. Pikiran dapat muncul karena pengalaman masa lalu, kebiasaan, kekhawatiran, lingkungan, pekerjaan, maupun berbagai kesan yang sudah tersimpan dalam diri. Atau karena reaksi dan respon kita terhadap hal, kondisi yang terjadi di sekitar kita.

Karena itu, ketika pikiran negatif muncul, kita tidak perlu buru-buru mengatakan pada diri sendiri, “Saya memang orang yang negatif.” Jangan. Fakta baru menurut peneliti, bahwa komposisi pikiran dan perasaan positif dan negatif itu, selalu didominasi oleh pikiran dan perasaan yang negatif. Wah… Ya, di antara 6.200 topik pikiran dan rasa yang bisa muncul setiap hari, sekitar 85% darinya adalah yang negatif (sumber: https://rri.co.id/wamena/iptek/1741555/otak-manusia-memproses-ribuan-pikiran-setiap-harinya ).  Ini fakta yang mesti kita renungkan.

Pikiran dan perasaan adalah merupakan salah satu lapisan kesadaran yang kita miliki, kita juga menyebutnya: mind. Dan kita memiliki 5 lapisan kesadaran diri yang kita miliki sejak lahir dan mind adalah salah satu darinya (baca juga arti sebelumnya: Arti dan Makna Meditasi Holistik: 5 Terapi untuk 5 Lapisan Diri.) Ya, pikiran dan perasaan akan selalu muncul dan lenyap selama kita hidup.

Dan kita dapat mengalami sebuah pikiran dan perasaan (mind) tanpa harus menjadi pikiran dan perasaan tersebut. Pemahaman sederhana ini penting, karena sering kali yang membuat kita semakin berat bukan hanya pikiran negatifnya, tetapi penilaian kita terhadap diri sendiri karena memiliki pikiran tersebut.

Sampai pada titik ini, pertanyaan akan: mengapa pikiran negatif sulit dihilangkan, akan kita kupas lebih dalam lagi.

 

Pikiran Negatif Sulit Dihilangkan
Langkah pertama yang dapat kita lakukan untuk menjawab: Mengapa Pikiran Negatif Sulit Dihilangkan, adalah mencari pemahaman yang kuat yang dapat dipelajari, dipraktikkan dan dirasakan hasilnya.

 

Mengapa Pikiran Negatif Terus Muncul?

Ya, karena pikiran dan perasaan atau mind itu sendiri memiliki polanya sendiri (baca juga artikel sebelumnya: Mengapa Pikiran Sulit Dihentikan? Apa Sebabnya?). Pernahkah Anda menyadarinya? Renungkan hal ini: apa yang sering dipikirkan dapat menjadi semakin mudah muncul kembali. Seperti sebuah jalan yang semakin sering dilalui, jalurnya menjadi semakin dikenal, semakin mudah muncul.

Pengalaman tertentu dapat meninggalkan kesan tertentu pula. Lalu, kesan tersebut kemudian memengaruhi cara kita melihat keadaan berikutnya. Sebuah kejadian kecil hari ini mungkin mengingatkan kita pada pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu. Dari sana muncul pikiran negatif tertentu, kemudian perasaan negatif mengikuti, dan akhirnya kita kembali memikirkan hal yang sama secara berulang-ulang. Nah, itulah sebabnya pikiran negatif sulit dihilangkan, bahkan tidak mugkin. Kok bisa?

Inilah salah satu alasan mengapa pikiran negatif terus muncul, karena sudah ada pengalaman dan kesan tertentu yang disimpan pikiran dan perasaan kita – inilah yang disebut kecenderungan, karakter bawaan itu. Jadi, bukan karena pikiran sedang sengaja mengganggu kita, tetapi karena ada polanya yakni: mind itu sudah cukup akrab bagi kita. Ia memiliki sifat dasar suka-tidak suka; positif-negatif yang tidak bisa dihilangkan. Kemunculan ini jelas adalah alami dan normal, karena memang demikian kodratnya. Mengalir, bergerak… Tentu, terlepas dari reaksi dan respon kita terhadap pikiran dan perasaan negatif tersebut.

 

Pikiran Negatif dan Emosi Sering Berjalan Bersama

Pikiran dan emosi tidak selalu dapat dipisahkan dengan mudah. Sebuah pikiran negatif pun dapat membangkitkan perasaan tertentu – bisa menghasilkan perenungan yang baik, positif. Terdengar bertentangan, namun bisa terjadi demikian. Bakan pikiran positif bisa menghasilkan perasaan negatif pula. Kedua kutub atau sifat dasar yang bertentangan ini bisa berjalan bersama.

Betul, ketika sedang takut, kita lebih mudah melihat kemungkinan buruk. Ketika sedang marah, kita lebih mudah mengingat hal-hal yang membuat kita tersinggung. Ketika sedang kecewa, pikiran dapat terus kembali kepada apa yang tidak berjalan sesuai harapan.

Karena itu, pikiran negatif dan emosi negatif sering memperkuat satu sama lain. Dan bila pikiran positif muncul dan bereaksi terhadap pikiran atau perasaan negatif maka akan membentuk sebuah lingkaran, energi mind yang lebih kuat lagi. Sekali lagi, pikiran memengaruhi perasaan. Perasaan kembali memengaruhi pikiran.

Lalu, pikiran negatif memicu pikiran positif; perasaan negatif memicu perasaan positif selalu demikian – berjalan beriringan. Dan energi yang tercipta semakin kuat karena adanya dua kutub ini: positif dan engatif. Jika kita tidak menyadari pola ini, maka kita dapat terbawa semakin jauh tanpa mengetahui kapan sebenarnya kita mulai masuk ke dalamnya. Pernahkah kita menyadari hal ini terjadi saat sendiri? Sedang mengkhayalkan sesuatu yang negatif? Atau ketika kita sedang dikritik atau dimarahi seseorang saat mengerjakan tugas di kantor? Inilah salah satu alasan kenapa pikiran negatif sulit dihilangkan, semakin diberi angin, makanan berupa respon potitif, negatifitas itu justru bisa semakin menguat.

 

Pikiran Negatif Sulit Dihilangkan
Solusi awal dan mudah yang dapat kita lakukan adalah dengan cara meregulasi siklus napas. Dengan cara ini aliran dan laju Pikiran Negatif yang Sulit Dihilangkan, ternyata dapat diperlambat lajunya, kemunculannya.

 

Mengapa Melawan Pikiran Negatif Tidak Selalu Berhasil?

Secara alami kita ingin menyingkirkan sesuatu yang tidak menyenangkan. Begitu pikiran negatif muncul, secara intuitif kita ingin segera menghilangkannya dengan menghadirkan pikiran postif sebagai imbangan atau lawannya. Namun ada perbedaan nyata antara: tidak mengikuti sebuah pikiran dan berusaha keras memusnahkannya.

Ketika kita berkata, “Saya tidak boleh memikirkan ini,” perhatian kita sebenarnya masih tertuju pada pikiran tersebut. Kita malah memberinya asupan baik positif dan negatif. Itulah sebabnya keluhan banyak orang tentang pikiran negatif kenapa sulit dihilangkan sering muncul.

Kita mungkin tidak menyukainya, tetapi kita tetap memberinya perhatian, tanggapan bahkan penghakiman terhadap pikiran negatif yang sulit dihilangkan tersebut. Begitulah pola yang sering terjadi sehingga pikiran negatif sulit dihilangkan. Itulah sebabnya melawan pikiran negatif secara terus-menerus tidak selalu menjadi cara mengatasi pikiran negatif yang paling membantu.

Pernahkah Anda mendengar atau membaca bahwa ada pendekatan yang lebih sederhana? Apa itu? Yakni dengan cara: mengenalinya. Pikiran negatif sulit dihilangkan namun kita dapat mengenali pola dan cara kerjanya lewat memperlambat lajunya, kemunculannya. Bukan berarti kita membenarkan semua isi pikiran negatif tersebut. Bukan pula membiarkannya menguasai diri. Melainkan menyadari bahwa pikiran negatif itu sedang muncul dengan segala isinya dan kita bukanlah ia. Pikiran negatif itu bukanlah diri sejati kita dan kita bisa menciptakan jarak antara pikiran negatif dan aku yang menyaksikannya.

Beralih dari pemahaman “Menghilangkan” menjadi “Memahami”. Di sinilah perjalanan mengenali diri mulai menjadi menarik. Kita tidak selalu dapat menentukan pikiran apa yang akan muncul. Namun kita dapat belajar membuat jarak, jeda ketika pikiran negatif itu muncul.

Aku bukanlah pikiran negatif itu… Sadari. Amati. Pahami. Jangan langsung mengikutinya. Beri ruang…

Kemudian latihlah pernapasan Anda menjad lebih teratur dan panjang. Dengan begitu, kesadaran akan aku bukanlah pikiran akan muncul. Dengan cara seperti ini, kita perlahan belajar membedakan antara pikiran yang muncul dan keputusan yang akan kita ambil. Sebuah pikiran boleh datang. Tetapi kita tidak harus selalu mengikutinya.

Sebuah emosi boleh terasa. Tetapi kita tidak harus selalu bertindak berdasarkan emosi tersebut. Ada ruang di antara kemunculan pengalaman dan respons kita terhadapnya. Pada ruang inilah kesadaran mulai bekerja – pikiran negatif melambat, lalu buddhi/inteligensi yang berada di dalam diri akan muncul, berperan.

 

Lalu, Bagaimana Meditasi Membantu?

Meditasi bukan sekadar usaha untuk membuat pikiran kosong. Karena anggapan, pemahaman seperti ini sangat mustahil memperhatikan sifat dan cara kerja mind itu sendiri (baca juga artikel sebelumnya: Mengenal Pikiran dan Perasaan (Mind): Sifat dan Cara Kerjanya.) Justru dalam latihan meditasi, kita mulai berkenalan dengan apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri. Kita bisa mengalami perlambatan aliran pikiran dan perasaan negatif itu dengan cara mengatur pola, ritme napas yang lebih panjang dan alami.

Dengan latihan pernapasan rutin, membuat kita bernapas panjang dan alami, kemudian kita bisa melihat aliran pikiran dan perasaan yang datang dan pergi – tanpa dikuasai olehnya. Meski samar-samar kesan dan penilaian masih ada, namun jarak dan jeda sudah tercipta. Pengalaman ini tidak serta merta dapat terjadi, namun bisa dilatih. Kita pun dapat merasakan perubahan perasaan. Sedikit demi sedikit, setahap demi setahap kita belajar menjadi pengamat dari pengalaman dan kesan yang terjadi.

Dalam perspektif Meditasi Holistik NSE (baca juga: Apa Itu Meditasi Holistik NSE?), latihan bukan diarahkan untuk memusuhi Mind. Mind tidak perlu dikalahkan. Yang perlu dikembangkan, dilatih adalah memunculkan peran Buddhi/Inteligensi – salah satu lapisan kesadaran kita (ada 5 lapisan kesadaran: fisik, energi, mind, buddhi/inteligensi, kesadaran) yang lebih berkuasa dari mind – secara terus-menerus. Agar kita tidak menjadi tawanan dari apa yang muncul di dalam Mind – gugusan pikiran dan perasaan.

Karena itu, meditasi untuk pikiran negatif bukan terutama tentang memaksa pikiran menjadi positif. Latihan meditasi justru bertujuan membantu kita meregulasi napas agar kemunculannya melambat dan membersihkan muatan, isi pikiran dan perasaan negatif yang bisa membelenggu kita, bisa memengaruhi cara kita bereaksi dan merespon dalam hidup.

 

Perubahan Tidak Selalu Berarti Pikiran Negatif Hilang

Kondisisi mental seperti inilah mungkin menjadi bagian yang paling penting untuk kita pahami. Setelah berlatih, bukan berarti kita tidak akan pernah memiliki pikiran negatif lagi – karena kemunculan dan bibit pikiran dan perasaan negatif itu adalah normal. Yang tidak normal itu adalah membiarkannya menguasai dan membelenggu kita. Sehingga tindakan kita bisa negatif pula.

“Kita kan manusia,” kalimat ini sering kita utarakan. Sadarkah kita, bahwa kalimat ini bisa menjadi alat pembenaran atas pikiran dan perasaan negatif yang telah kita wujudkan dalam tindakan nyata? Kemanusiaan kita justru mampu membuat kita merespon dengan lebih dewasa, bertanggung jawab dan bijak. Kita bukan budak atas segala dan pikiran dan perasaan yang muncul.

Ada hari ketika pikiran terasa ringan. Ada hari ketika pikiran kembali ramai. Perbedaannya dapat muncul pada cara kita menghadapinya. Dulu sebuah pikiran mungkin langsung membawa kita ke dalam kekhawatiran dan rasa takut. Sekarang kita mulai menyadari, “Oh, pikiran itu muncul lagi.” Dan sudah terlihat ada jarak bukan?

Kesadaran sederhana ini sudah menciptakan jarak. Kita tidak langsung percaya lagi. Kita tidak langsung bereaksi. Tetapi, kita sudah mengamati terlebih dahulu. Dengan demikian, ukuran perubahan bukan selalu dilihat dari berapa banyak pikiran negatif yang berhasil kita hilangkan. Bukan. Namun ukuran yang lebih penting adalah: seberapa jauh kita bisa menciptakan jarak, jeda agar tidak dikuasai oleh pikiran dan perasaan negatif tersebut.

 

Pikiran Negatif Sulit Dihilangkan
Setelah laju Pikiran Negatif yang Sulit Dihilangkan dapat kita perlambat, maka pelajaran selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah dengan membersihkan muatan dan isi pikiran dan perasaan negatif itu. Cara dan metodenya ada.

 

Saya Juga Masih Belajar

Selama perjalanan, praktik, saya pun belajar bahwa mengenal diri bukan sebuah pekerjaan yang selesai dalam satu atau dua latihan. Karena pola lama pikiran dan perasaan itu tidak mau dikoreksi, dibersihkan, dan dikurangi muatannya. Mind mau pola lama itu tetap demikian adanya.

Dalam perjalanan memahami diri sendiri ini, kenapa pikiran negatif sulit dihilangkan karena ada kalanya pengalaman terasa mudah diamati. Dan ada pula pengalaman yang masih mampu menarik perhatian dan emosi kita begitu kuat. Tetapi dari sana justru ada pelajaran penting. Kita pun bisa belajar, atau mendapatkan pelajaran positif dari pikiran negatif tersebut. Kita tidak perlu menuntut diri menjadi sempurna. Kita dapat mulai dari hal yang sederhana: menyadari apa yang sedang terjadi.

Ketika pikiran negatif muncul, lihat. Ketika emosi bergerak, rasakan. Ketika kita mulai terbawa, sadari kembali. Tarik napas pelan, dan buang napas pelas, relaks, santai… Latihan seperti ini perlahan akan membuat kita bisa membuat jarak dengan setiap pikiran dan perasaan yang muncul, memberi ruang pada buddhi atau inteligensi yang keberadaannya melampaui sifat dan cara kerja mind.

Jadi, bukan dengan menciptakan diri yang baru, tetapi dengan melihat diri yang selama ini sudah ada dengan lebih jernih – mengakses buddhi/inteligensi. Bukan terlalu tergantung dengan mind yang bersifat suka-tidak suka, insting hewani dan egois.

 

Jadi, Apakah Pikiran Negatif Bisa Dihilangkan?

Mungkin pertanyaan ini perlu kita lihat kembali. Daripada bertanya, “Bagaimana agar saya tidak pernah mempunyai pikiran negatif?”, akan lebih baik bila kita bertanya: “Bagaimana agar saya tidak lagi menjadi tawanan dari pikiran pikiran dan perasaan negatif saya?”

Pertanyaan kedua membuka ruang yang berbeda. Kita tidak lagi berperang dengan Mind tapi melampauinya. Namun, sebelum itu, kita mesti mulai belajar memahaminya dulu. Kita mulai melihat pola-pola lama yang selama ini berjalan otomatis, berulang. Dan ketika kesadaran bertumbuh, kita sudah memiliki pilihan yang sebelumnya mungkin tidak terlihat. Sehingga kita tidak perlu terjebak dalam pemikiran, imajinasi, khayalan, rasa negatif lainnya, dan inilah yang disebut banyak orang sebagai ruminasi, kegiatan mental yang muncul berulang-ulang dan otomotis.

Inilah yang saya pahami dari perjalanan mengenal diri: tujuan latihan bukan menjadi manusia yang tidak pernah memiliki pikiran negatif. Tetapi, tujuannya adalah menjadi semakin sadar terhadap apa yang terjadi di dalam diri, sehingga kita tidak harus selalu mengikuti setiap pikiran dan perasaan yang muncul.

Pada akhirnya, mungkin bukan pikiran negatif yang harus kita kalahkan. Tapi, bagaimana memperlambat lajunya, membuat jarak dengannya. Dan Pelajaran lanjutannya adalah mengurangi muatan atau isi dari memori pikiran dan perasaan negatif itu. Dan saya sudah mengalami dan membuktikannya sendiri lewat praktik Metode Meditasi Holistik NSE selama 25 tahun lebih.

 

Mari Mulai Mengenal Diri

Pikiran negatif adalah bagian dari pengalaman manusia. Kita tidak perlu malu karena mengalaminya. Kita juga tidak perlu terus-menerus memusuhinya. Yang dapat kita lakukan adalah membuat jarak dengannya, mengurangi muatan atau isinya agar ia tidak memiliki daya memengaruhi kita dengan kuat. Setelah ini, masih ada pelajaran dan perjalanan lanjutannya. Kita akan melanjutkan pembahasan ini pada artikel selanjutnya.

Ya, ketika pikiran muncul, jangan langsung percaya. Ketika emosi datang, jangan langsung bereaksi. Berhenti sejenak. Amati napas. Tarik napas – buang napas. Santai relaks… Silakan minum air putih yang cukup dulu. Silakan berjalan beberapa menit dulu. Duduk Santai dulu. Atir napas. Lalu, rasakan apa yang sedang terjadi.

Dari sana, perlahan kita belajar bahwa pikiran hanyalah salah satu bagian dari pengalaman kita. Dan ketika kita mulai melihatnya dengan kesadaran – munculnya peran buddhi/inteligensi, kita akan menemukan sesuatu yang sangat berharga, bahwa: kita tidak harus menjadi apa yang sedang kita pikirkan. Mungkin di situlah perjalanan mengenal diri sendiri benar-benar dimulai.

Nah sekarang, apakah Anda ingin bebas dari pengaruh atau belenggu pikiran dan perasaan negatif Anda?

 

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan 

 

  1. Apakah pikiran dan perasaan bisa benar-benar berhenti?
    Tidak perlu dipahami sebagai sesuatu yang harus dihentikan sepenuhnya. Selama kita hidup, pikiran dan perasaan tetap menjadi bagian dari diri. Yang dapat berubah adalah hubungan kita dengannya: dari selalu terbawa menjadi mampu mengamati dan memilih respons yang lebih bertanggung jawab, dewasa, sadar.

 

  1. Apakah meditasi dapat membuat pikiran dan perasaan selalu tenang?
    Melakukan latihan meditasi bukan jaminan bahwa kita tidak akan pernah marah, cemas, kecewa, atau gelisah. Perubahan yang lebih penting adalah meningkatnya kesadaran terhadap apa yang terjadi di dalam diri, sehingga kita dapat mengenali gejolak lebih awal dan tidak selalu langsung bereaksi.

 

  1. Kalau pikiran negatif tetap muncul, apa yang harus dilakukan?
    Jangan langsung melawan atau menghakiminya. Sadari bahwa pikiran itu sedang muncul, perhatikan perasaan yang menyertainya, dan beri ruang sebelum bereaksi. Dari sini kita mulai belajar memahami pola diri.

 

 

 

Artikel Relevan: