NOVEL JAYANTAKA

N1

Jayantaka harus bertemu dengan seorang Guru Sufi Misterius. Dan proses penggemblengan pun terjadi. Ia tersedot ke dalam perang tanding antara kerajaan Nagur (Suku Simalungun) dengan Samudera Pasai yang masih berkerabat.

Takdirnya belum tunai jika belum menyerahkan benda pusaka Tatar Sunda ke kerajaan Matahari Timur.

 

Untuk Pembelian Novel Sejarah Bisa Menghubungi:

Marsaulina Pandiangan: 08129855181  

David: 081384527122

NOVEL SRIWIJAYA

N2

Tidak mudah menjadi bagian keluarga Lingkar Laksman. Wira puak Melayu ini telah bersumpah senantiasa melindungi wangsa Syailendra. Sementara tugas kemaharajaan Sriwijaya melayani 108 kadatuan Banjaran Nagara sungguh penuh resiko. Setiap tindakan selalu menuai reaksi positif dan negatif. Beruntung mereka dibimbing seorang Resi dan memiliki mandala penopang agar bisa tetap berjaya – sepanjang diindahkan! Rupanya dendam tujuh turunan keluarga Kandra Kayet masih terus membayangi keluarga Tandrun Luah (Lingkar Laksman). Tak ada pilihan, penghukuman mesti dituntaskan.

Untuk Pembelian Novel Sejarah Bisa Menghubungi:

Marsaulina Pandiangan: 08129855181  

David: 081384527122

 



 Tanpa HUTA ADAT/HUTA BONA/DESA ADAT

Jati Diri dan Eksistensi Simalungun akan Punah

 

Huta Adat Simalungun

(bagian pertama)

Pendahuluan

PERNAHKAH KITA BERPIKIR bahwa perhelatan Seni Tradisi Budaya Simalungun yang selama ini kita lakukan dan nikmati, ternyata semuanya terkonsentrasi di ranah panggung? Sepertinya hanya lewat ‘panggung’-lah kita dapat bertemu, menyapa seni tradisi Simalungun – tanpa panggung kita tak dapat menyaksikannya.

Betul, kita orang Simalungun selalu tak terpuaskan rasa ‘rindu’-nya untuk menyaksikan keunikan, keindahan seni tradisi budaya Simalungun yang dipergelarkan, seperti pesona Gonrang yang tak tergantikan, Taur-taur yang menghanyutkan, Tor-tour yang menggoda, Teater Tradisional, uhir, pinar dll.. Ya, kita sangat menikmati pertunjukan seperti itu, dimana pun dilangsungkan. Kita rindu akan semua itu. Tetapi faktanya, semua pergelaran tersebut hanya dapat kita nikmati bila ada perhelatan khusus saja. Tentu tidak ada yang salah dengan semua ini. Akan tetapi, apakah demikian idealnya? Apakah benar Rumah Seni Tradisi Simalungun memang hanya di atas panggung?

Di sisi lain. Sadarkah kita bahwa ada ‘titik jenuh’ proses regenerasi dari sesama Pegiat Seni Tradisi Simalungun kepada pewarisnya?

Kekhawatiran ini semakin diperparah lagi dengan nikmatnya ‘seni pop’ Simalungun yang lagi ngetrend. Sehingga apa yang kita maksud Seni Tradisi Budaya Simalungun klasik semakin jarang terlihat dan dipertontonkan. Sebabnya, mereka sendiri semakin sedikit jumlahnya – yang betul-betul fasih menguasai kekayaan, ketrampilan Seni Tradisi Simalungun – seperti yang dikawatirkan sang Maestro Taralamsyah Saragih sejak lama.

Adanya ‘titik jenuh’, ‘semakin sedikitnya pegiat seni’, ‘maraknya musik pop Simalungun’, dan‘tidak adanya maestro yang tersisa’, telah menyempurnakan situasi menuju ‘lampu merah’ kepunahan seni tradisi budaya klasik Simalungun. Kok bisa?

Sampai kapan kita akan membiarkan kondisi seperti ini? Betulkah tidak ada yang terlupakan? Jangan-jangan kita malah turut berkontribusi membiarkan proses menuju kepunahan tersebut tanpa kita sadari. Tapi, tunggu dulu… tulisan ini bukan hendak membahas kisah kepunahan seni tradisi kita tersebut. Dan sebaliknya, tulisan ini justru bertujuan hendak menyampaikan gagasan atau solusi bagi Simalungun. Apakah itu?

 

Sesungguhnya Ada 3 Elemen Penting
yang Mesti Diperhatikan…

 

TIGA ELEMEN INI MESTI BERTEMU DAN MENYATU sehingga Seni Tradisi Budaya Simalungun dapat terlindungi dan terpelihara dengan baik. Ya, menurut penulis tiga hal ini mesti kita sadari keberadaannya:
1. BUDAYA – seni tradisi – Simalungun itu sendiri,
2. PEGIAT budaya – seni tradisi,
3. HUTA BONA dan atau TANAH ULAYAT sebagai LOCUS/RUANG/RUMAH SEJATI seni tradisi Simalungun.

 

Catatan untuk poin 3: realitanya persyaratan yang satu ini sangat sulit terpenuhi. Idealnya unsur yang satu ini disebut Huta Adat – Masyarakat Hukum Adat Simalungun (MAS). Berita gembiranya, di Simalungun keberadaan Tanah Ulayat sebagai modal menuju bangkitnya Masyarakat Hukum Adat masih ada – masih eksis.

Poin satu dan dua sudah kita ketahui akan keberadaannya. Dan sudah kita ketahui pula bila hubungan antara Seni Tradisi Budaya Simalungun dan Pegiatnya – Seniman pewaris – semakin ‘sepi’ interaksi, ekpresi dan jumlah pendukungnya. Situasi ini disebabkan banyak faktor, dan di antaranya ada 2 faktor penentu menurut penulis, yakni:

  1. Simalungun tidak memiliki Maestro Seni Tradisi Budaya lagi sekaliber Taralamsyah – yang telaten dalam hal wawasan, ketrampilan dan kemampuan dokumentasi.
  2. Hingga kini Simalungun belum memiliki Huta Adat dan atau Tanah Ulayat yang khusus dihuni, didedikasikan bagi komunitas Seniman Simalungun.

Semoga kita tidak melupakan sejarah. Bahwa Seni Tradisi Budaya Simalungun itu lahir dari dan oleh masyarakat agraris yang diwarnai, dijiwai kearifan lokalnya. Para maestro Seni Tradisi Simalungunlah yang meletakkan pondasi serta menghasilkan seni tradisi sehingga kita dapat mengenalnya sampai sekarang. Pencapian luhur atas ‘rasa’ mereka telah menghasilkan cita-rasa, keunikan seni tradisi budaya Simalungun. Kita harus mengakui keluhuran hasil karya mereka. Dan betul, cita-rasa adalah soal kehalusan budi, soal kehalusan rasa itu sendiri.
Bila Simalungun kini tidak memiliki seorang pun Maestro Seni Tradisi, maka kerugian besar telah kita derita. Masyarakat Simalungun patut menyesal bila hal tersebut sudah terjadi. Sebab, begitu banyak pengetahuan dari keluarga aristokrasi Simalungun sebagai Pusat, Simbol, Benteng Kebudayaan dan Peradaban Simalungun telah hilang dan punah. Jika kita mengungkit hal ini maka kita akan teringat kisah pembunuhan tak manusiawi yang dilakukan Barisan Harimau Liar (BHL) – kejadian tersebut dikenal sebagai “Revolusi Sosial” tahun 1946-1947. Hilang dan lenyaplah beberapa literatur, pengetahuan, ketrampilan budaya sewaktu istana raja-raja Simalungun dibakar dan raja-raja serta keluarganya banyak yang dibunuh tanpa alasan yang masuk akal.

 

Masih Adakah Harapan untuk Menyelamatkan
Seni Tradisi Budaya Simalungun yang Rapuh?

JAWABNYA: ADA! Jika wilayah Sipukkah Huta Halak Simalungun begitu luas meliputi Kabupaten Simalungun, Kodya. P. Siantar, serta beberapa desa di Serdang Bedagai, Tebing-Tinggi dll., maka pastilah masih ada huta/desa yang masih dihuni marga tertentu Simalungun dan tetap menikmati, melakoni seni tradisi Simalungun hingga sekarang, bukan? Seperti huta yang dulu dipukkah oppungta marmarga Damanik, Purba, Saragih, Sinaga, Girsang dll.. Tanah marga ini dapat disebut Tanah Ulayat – sederhananya. Tanah Ulayat seperti itu masih memiliki sawah, pekuburan, atau ladang atas nama suatu marga.

Nah, tanah seperti ini dapat berpotensi menjadi Locus, Ruang, Rumah Sejati bagi seni tradisi budaya Simalungun. Sejatinya, harapan itu masih ada….

Desa Adat

(Foto: Imajinasi sebuah Huta Bona Simalungun) 

 

Yang Dibutuhkan Hanya Niat, Keterbukaan Hati
dan Pikiran Halak Simalungun…

UNTUK MENERIMA KENYATAAN seperti yang kita sampaikan pada bab pendahuluan di atas, maka peran niat, keterbukaan hati dan pikiran Halak Simalungun adalah sangat menentukan. Kenyataan bahwa Budaya Simalungun telah tercerabut dari akarnya bukanlah isapan jempol belaka. Berita buruknya, perlahan-lahan dapat pula menujua kepunahan, raib selamanya dari muka bumi bila tidak segera kita atasi. Saatnya kita berhenti menyalahkan siapa pun dan apa pun dalam konteks ini. Biarlah para sejarawan melakukan tugasnya. Dan di sini, kita mencoba mengetuk hati nurani semua halak Simalungun bila masih ingin mempertahankan seni tradisi budayanya maka perlu upaya yang sistematis dan melibatkan banyak pihak untuk mengatasinya. Yang jelas prasyarat untuk menyelamatkannya masih ada, masih eksis meski dengan kadar yang tidak sempurna.

Budaya dan kebudayaan Simalungun serta Seniman Simalungun mesti disediakan RUANG agar mereka dapat hidup secara alami di komunitasnya, di habitatnya. Agar seni tradisi budaya tersebut dapat membumi, bahkan menjadi warna kehidupan para pegiat, penyokongnya dalam keseharian. Sehingga para pegiat seni tradisi dapat kembali bertani, berladang, meramu, melakukan ekonomi kreatif. Sehingga mereka dapat melakukan penggalian, pendalaman, serta ekspresi yang tak terbatas dari kegiatan berkeseniannya tanpa terpisah dari buminya. Tugas mereka di bidang tata adat pun dengan sendirinya akan berfungsi.

Dahulu, huta-huta yang dihuni khusus komunitas/keluarga seniman sangat dilindungi pihak kerajaan. Ide inilah yang mesti kita hidupkan…

 

Setidaknya, Simalungun Harus

Membangun ‘Sebuah’ Huta 

YANG KITA MAKSUD adalah setidaknya di antara ratusan huta yang dimiliki Suku Simalungun, sebenarnya, salah-satu darinya dapat kita rancang dan dedikasikan bagi komunitas/keluarga Seniman Simalungun agar Budaya, Pegiat hidup menyatu secara alami di sebuah Huta Seni.

Marilah kita sebut huta seni itu sebagai Huta Bona. Artinya, Huta Bona adalah merupakan sebuah huta yang didedikasikan, dirancang, direkayasa suku Simalungun itu sendiri untuk mengumpulkan 3 unsur: Budaya, Pegiat dan Ruang – Huta Bona – tersebut. Huta Bona artinya huta mula, pelopor untuk melakukan penyelamatan Budaya dan kebudayaan Simalungun. Sehingga seni tradisi budaya Simalungun tidak lagi seperti anak tanpa orangtua dan tanpa rumah – gelandangan kesana- kemari, yang hanya dapat kita temukan di panggung-panggung yang sepi. Semoga kesadaran ini mendorong hita sebagai Halak Simalungun, keturunan Sipukkah Huta, Sijolom Suhul Ni Piosu untuk bersepakat mendedikasikan sebuah huta yang kita miliki menjadi Huta Bona yang memiliki peran yang sangat penting.

Patutlah Simalungun berbahagia karena KESEMPATAN itu masih ada.

Dari Huta Bona – Huta Mula inilah idealnya, haroan bolon demi penyelamatan Budaya dan Kebudayaan Simalungun dapat bermula… (bersambung).
Semoga kita tergugah. Horas! Jayama Simalungun!

———————————————————————————–
*David Ezsar Purba, penulis novel sejarah Jayantaka, Sang Ksatria Pamalayu dan Kemaharajaan Sriwijaya.