NOVEL JAYANTAKA

N1

Jayantaka harus bertemu dengan seorang Guru Sufi Misterius. Dan proses penggemblengan pun terjadi. Ia tersedot ke dalam perang tanding antara kerajaan Nagur (Suku Simalungun) dengan Samudera Pasai yang masih berkerabat.

Takdirnya belum tunai jika belum menyerahkan benda pusaka Tatar Sunda ke kerajaan Matahari Timur.

 

Untuk Pembelian Novel Sejarah Bisa Menghubungi:

Marsaulina Pandiangan: 08129855181  

David: 081384527122

NOVEL SRIWIJAYA

N2

Tidak mudah menjadi bagian keluarga Lingkar Laksman. Wira puak Melayu ini telah bersumpah senantiasa melindungi wangsa Syailendra. Sementara tugas kemaharajaan Sriwijaya melayani 108 kadatuan Banjaran Nagara sungguh penuh resiko. Setiap tindakan selalu menuai reaksi positif dan negatif. Beruntung mereka dibimbing seorang Resi dan memiliki mandala penopang agar bisa tetap berjaya – sepanjang diindahkan! Rupanya dendam tujuh turunan keluarga Kandra Kayet masih terus membayangi keluarga Tandrun Luah (Lingkar Laksman). Tak ada pilihan, penghukuman mesti dituntaskan.

Untuk Pembelian Novel Sejarah Bisa Menghubungi:

Marsaulina Pandiangan: 08129855181  

David: 081384527122

 



Sistem Pendidikan Mesti Ikut Mengolah Otak

Secara Tepat sebagai Hardware Pikiran Manusia

(Seri Tulisan Anand Krishna tentang Pendidikan yang Holistik – tulisan ke-5)

 

oe-school-5

One Earth School, Bali

Masih dari buku: Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan, Anand Krishna & Dr. Bambang Setiawan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010, halaman 39 – 58. Secara panjang lebar, Anand Krishna membahas tentang makna Evolusi Manusia, Otak Manusia, Pendidikan, dan DNA.

Jadi kita disadarkan  bahwa sistem pendidikan itu mesti Holistik, tidak melihat manusia sebagai mahkluk yang ‘rendah’ dalam pengertian sempit. Sesungguhnya manusia itu dalam evolusinya menuju Manusia Sempurna. Nah, untuk mengetahui apa hubungan antar “Otak dan Pendidikan” secara khusus, maka mari kita simak tulisan berikut. Namun jika masih penasaran silahkan membaca buku ini secara utuh. 

buku-neo-spirituality

Buku Neospiritual and Neuroscience

“Otak Manusia dan

Pendidikan


Belajar banyak, tahu banyak;

tahu banyak, ingat banyak.

Ingat banyak, lupa banyak;

lupa banyak, ngerti sedikit.

 

Ngerti sedikit, lupa sedikit;

lupa sedikit, ingat banyak.

Ingat banyak, tahu banyak;

Yo wis, untuk apa susah payah belajar segala?

 

(Sumber: Kitab Kebijakan Si Goblok)

   

Manipulasi Neo-Cortex

Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, kedua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting-insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagian Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di”manipulasi”.

Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orangtua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya.

Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Oleh karena itu, hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat.

Pengertian “manipulasi” di sini hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita semua telah mengalami “manipulasi” serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun.

 

Manipulasi Positif

Adalah pendidikan yang bersifat menambah dan memperluas wawasan. Pendidikan yang membebaskan dan memajukan. Pendidikan yang berlandaskan budi pekerti yang pernah kita peroleh tempo doeloe. Pendidikan yang berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Ajaran yang menciptakan kedamaian dalam hati, mengembangkan cinta dalam diri dan menunjang keharmonisan dengan alam dan antara sesama makhluk hidup inilah yang disebut manipulasi positif.

Secara singkat, tiga kalimat di bawah ini menjelaskan muatan positif dalam otak manusia:

  1. Heart that Beats for World Peace: Hati (bukan jantung, tetapi psikis/jiwa) yang Berdetak untuk Kedamaian Dunia. Bukan sekadar kedamaian diri, bukan pula kedamaian keluarga atau kelompok tertentu. Bukan kedamaian golongan atau umat tertentu, tetapi kedamaian dunia.
  2. Life that Expresses Love: Hidup yang mengekpresikan Cinta-Kasih. Bukan cinta terhadap sesuatu, atau seseorang atau sekelompok orang saja. Bukan pula cinta terhadap dunia, tata surya, atau bahkan alam semesta, tetapi cinta saja, titik. Berarti, siapa pun dia, termasuk mereka yang barangkali tidak setuju dengan kita atau bahkan menjelek-jelekkan atau memusuhi kita.
  3. Thoughts, Speech and Words, which are Harmonious: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan yang Selaras. Berarti yang kita ucapkan dan yang kita lakukan sesuai dengan pikiran kita. Kita tidak berpura-pura, tidak munafik. Kita tidak menipu orang dengan memperlihatkan wajah palsu atau senyuman plastik. Ini juga berarti bila pikiran, ucapan, dan tindakan kita selaras dengan alam semesta. Kita tidak mencelakakan siapa pun, termasuk lingkungan hidup, dengan pikiran, ucapan, serta tindakan kita.

Peace, Love, and Harmony – Kedamaian, Kasih-Sayang (Cinta Sejati), dan Keselarasan (Harmoni) – inilah tolok ukur Manipulasi yang positif dan berguna bagi hidup.

 

Manipulasi Negatif

Sungguh patut disayangkan bahwa saat ini lebih banyak manipulasi negatif yang terjadi/dilakukan terhadap otak anak-anak kita. Hal ini dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja karena kebodohan dan ketidaktahuan. Sistem pendidikan yang mengajarkan perpisahan, entah karena agama, suku, ras, bahasa, status sosial, warna kulit dan sebagainya memberi muatan negatif pada otak anak-anak kita. Pendidikan yang memisahkan adalah pendidikan yang tidak sesuai dengan kinerja alam. Karena alam ini tidak terpisah-pisah. Alam merupakan suatu kesatuan.

Antony de Mello (1931-1987), seorang rohaniawan sejati, pernah berkelakar, “Suatu ketika saya berada dalam pesawat dan saat itu kami sedang melintasi perbatasan Amerika Serikat dan Kanada. Kemudian terdengar suara pilot dari cokpit, ‘Bila Anda melihat jendela sebelah kiri, saat ini kita sedang berada persis di atas perbatasan Amerika Serikat dan Kanada.’” Kemudian Romo Tony (demikian panggilan akrab beliau) melanjutkan, “Saya pun berusaha melihat ke bawah lewat jendela. Ternyata saya tidak melihat perbatasan itu.”

Perbatasan adalah buatan manusia. Bila kita berada di darat, kita bisa melihat perbatasan. Barangkali ada Pos Imigrasi dan Bea Cukai buatan manusia. Namun dari ketinggian, batas tersebut tak terlihat lagi. Apa maksudnya? Pendidikan yang memecah belah adalah pendidikan yang bermuatan negatif. Bila anak-anak kita diberi pendidikan seperti itu maka celakalah mereka. Dan celakalah masa depan bangsa, maupun dunia.

Sayangnya, pendidikan seperti inilah yang saat ini diperoleh anak-anak kita. Pendidikan yang melemahkan dan merusak kemanusiaan diajarkan melalui nilai-nilai yang sempit. Bukannya memahami diri sebagai sesama manusia, anak-anak kita saat ini justru memperoleh pelajaran yang memisahkan mereka, sesama anak bangsa, atas dasar agama dan sebagainya.

oe-school-10

One Earth School, Bali – Memainkan Permainan yang Melibatkan Orangtua Siswa

—————————————————————————————————-

Pendidikan Berkesadaran

 “Nak, kalau besar mau jadi apa?

“Ah, jadi politisi seperti papi saja.”

 

“Lho, jadi politisi itu susah zaman sekarang,

saingan makin berat, lahan basah tetap segitu aja.”

 

“Ya, pintar-pintar dong, Pi.”

“Maksudmu, Nak?”

“Apa susahnya kering dijadikan basah?”

“Nggak ngerti aku, Nak…”

“Ah, Papi. Aku malu punya ayah seperti papi.

Gampang Pi. Sebarkan gosip lahan kering itu

lebih basah dari yang terbasah.

“Maka semuanya akan balik bertarung

untuk lahan kering. Tinggal kita caplok

lahan-lahan basah mereka.”

“Wah, anak papi hebat juga!”

“Namanya juga politik, Pi… diplomasi.”

 

(Sumber: Kitab Kebijakan Si Goblok)

 

Pendidikan Kita Saat Ini

Dengan dalih memotivasi anak supaya menjadi pintar, kita menciptakan perlombaan dalam segala bidang. Segala sesuatu termasuk pelajaran agama dan keagamaan dinilai dengan angka. Padahal, urusan angka dan hitung-menghitung itu adalah urusan Otak Bagian Kiri. Sementara urusan keagamaan, nilai-nilai agama atau Spiritualitas adalah urusan Otak Bagian Kanan. Semuanya diputar balik, sehingga kehilangan makna.

Contoh terbaik sistem pendidikan adalah yang dianut Negara Finlandia. Kata-kata kunci pendidikan di sana adalah Quality (Mutu), Efficiency (Efisiensi), Equity atau Equality (Kesetaraan) dan Internationalisation (Berwawasan Internasional/Kemanusiaan). (Sumber:www.edu.fi/English). Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh PISA (Programme for International Student Assesment) terhadap 40 negara yang bergabung dalam OECD ( Organisation for Economic Co-operation and Development) dan diberitakan oleh BBC (http://news.bbc.co.uk/2/hi/education/4073753.stm) pada akhir tahun 2004 terlihat bahwa:

  1. Bidang Matematika: Finlandia No. 1 sedangkan Indonesia No. 40 (terakhir)
  2. Bagian Kesetaraan Gender: Finlandia No. 1 sedangkan Indonesia No. 40 (terakhir)

Kedua hal tersebut mewakili dua bagian utama Neo-Cortex, yaitu Belahan Kiri dan Belahan Kanan. Matematika jelas berada dalam ruang lingkup belahan kiri dan kesetaraan gender (kemanusiaan) merupakan ruang lingkup belahan kanan. Silahkan menilai sendiri mutu dan kondisi pendidikan di Indonesia!

 

Dampak Negatif Perlombaan

Zaid Ali Alsagoff, seorang peneliti dari International Medical University (IMU) di Malaysia menulis (Sumber:http://zaidlearn.blogspot.com/2009/09/finnish-education-system-rocks-why.html) sebagai berikut:

Finland don’t rank student or schools, and they don’t emphasize on standardize nationwide examination that drive student, teachers and parent nuts. Actually, ranking of schools and students is a disaster (if you ask me), if you really want to encourage universities, colleges, schools, students, and teachers to openly share, learn, discuss, reflect, and collaboratively innovate. 

for example, If I want to be higher ranked than you, then probably I would want to keep some of the juice stuff secret from you. Otherwise, you might overtake me, and if the government is nasty, give me less fund to innovate further. However, if ranking is put aside, we can instead focus on transforming the education system, nurturing dynamic learning clusters, and becoming a learning nation together.’”

Finlandia tidak menetapkan ranking bagi siswa maupun sekolah, dan mereka pun tidak melakukan standarisasi pendidikan lewat ujian negara yang hanya memusingkan para siswa, guru, dan orang tua. Sesungguhnya, bila kita ingin mendorong perguruan tinggi, akademi, sekolah, siswa, dan para guru untuk berbagi, belajar, berdiskusi, melakukan refleksi secara terbuka, dan berinovasi bersama, maka penetapan ranking bagi sekolah dan siswa adalah malapetaka (demikian, bila saya boleh berpendapat).

Sebagai contoh, untuk memperoleh ranking yang lebih tinggi dari Anda, maka saya akan merahasiakan beberapa hal dari Anda. Jika tidak, maka saya akan terkalahkan dalam perlombaan. Jika penguasa bertindak tidak adil maka pihak (lembaga/individu) tertentu yang disukainya akan diberi dana, sedangkan yang tidak disukai pasti tidak diberi dana supaya tidak dapat berinovasi dan kalah dalam perlombaan. Namun, bila sistem ranking ditiadakan maka kita dapat mencurahkan seluruh energi untuk mengubah sistem pendidikan, melestarikan dinamika (perubahan) pembelajaran dan bersama-sama menjadi bangsa yang berpendidikan.’

Sayang sekali, di negeri kita tercinta pendidikan masih menjadi perlombaan. Bahkan pembacaan kitab-kitab suci pun dikonteskan, dijadikan perlombaan dan pemenangnya diberi hadiah.

 

Desentralisasi Pendidikan

Masih mengutip Alsagoff asal Malaysia:

’In addition, the Finnish education system is rather decentralized and schools are given a degree of freedom (independence) to develop their own curriculum. The problem with having a centralized system and curriculum is that if you get it wrong, the whole country will suffer. Also, with a top-down model, it is difficult to quickly innovate and spark changes to the curriculum that is needed to deal with the increasingly disruptive learning world that we are experiencing today. However, in a decentralized system, schools can easily change and adapt as they learn, and also they have more freedom to explore and try out new things, without needing to worry about ranking of this and that.’

’Sistem Pendidikan Finlandia tidak terpusat dan setiap sekolah memiliki kebebasan untuk mengembangkan kurikulumnya sendiri. Karena kelemahan sistem pendidikan yang terpusat adalah jika satu berbuat salah maka semuanya ikut berbuat salah dan seluruh bangsa menderita. Dengan sistem yang diterapkan dari atas ke bawah, kita tidak dapat segera melakukan penyesuaian sesuai dengan  dinamika yang terjadi dalam dunia pendidikan. Sebaliknya, dalam sistem yang tidak terpusatkan, lembaga pendidikan dapat segera melakukan perubahan dan penyesuaian sambil jalan (belajar) dan bebas untuk mencoba hal-hal yang baru, tanpa dipusingkan oleh ranking segala.’

“Sayang sekali, kita masih berwawasan kuno, sempit dan malah mengagung-agungkan sistem pendidikan Amerika dan lulusan Harvard. Padahal para ekonom lulusan Harvard itu pula yang berulang kali gagal memprediksi krisis ekonomi dan menyebabkan malapetaka global. Kita mengeluarkan banyak biaya untuk mengirimkan anak-anak kita ke Amerika Serikat, padahal sistem pendidikan di sana sudah bobrok dan saat ini mereka malah mengadopsi sistem pendidikan Singapura (Sumber: Channel News Asia, 06 Mei 2009 http://www.channelnewsasia.com/stories/singaporelocalnews/view/427402/1/.html).

Sayang beriku kali sayang, para pejabat kita pun (dari yang berada di tingkat bawah tapi korup hingga yang berada di tingkat atas tapi tidak jelas bila korup atau tidak) merasa bangga bila berhasil menyekolahkan anak-anak mereka di Amerika Serikat. Karena tidak cukup mewakili wawasan dan kesadaran, kita lupa bahwa sistem pendidikan berbasis budi pekerti yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara (1889-1959) adalah sistem pendidikan yang paling tepat dan merangsang setiap bagian dari otak kita.

 

Penghargaan terhadap Guru

Alsagoff juga berpendapat bahwa keberhasilan Finlandia tidak dapat dipisahkan dari mutu para pendidiknya, para guru, “… teacher profession is highly valued in Finland.”

“Jika para guru tidak berkecukupan dan mesti menjadi tukang ojek (seperti yang sering kit abaca), apa yang dapat diharapkan dari mereka? Jika para guru harus turun ke jalan dan menuntut kenaikan gaji, hal itu memalukan kita semua, yaitu pemerintah, orangtua murid, dan seluruh bangsa.

Seorang pejabat dari Departemen Pendidikan Nasional berpidato yang intinya adalah kita tidak perlu khawatir karena pemerintah sudah mendapatkan sumbangan, bantuan, atau apa pun sebutannya bagi “sedekah” dari salah satu negara yang tidak memiliki sumber alam kecuali minyak yang sebentar lagi akan habis pula. Sedekah itu akan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan para guru. Wow, hebat! Ratusan guru yang hadir bertepuk tangan. Mereka bahagia. Jika kualitas guru kita (saya sengaja tidak menggunakan huruf “G” besar) seperti ini dan terbiasa dengan sedekah dan mengemis dari bangsa yang tidak mempunyai apa-apa padahal kita memiliki segalanya, sumber alam yang berlimpah, biodiversitas yang menempatkan kita pada urutan kedua setelah Brazil, apa yang dapat diharapkan dari mereka? Seperti apa kualitas siswa kita? Dan calon pemimpin bangsa seperti apa yang dapat diharpakan?

Seorang Guru adalah “ia” yang menerangi kegelapan “jiwa” yang disebabkan oleh ketidaktahuan dan ketidaksadaran. Masih adakah para guru seperti itu? Sayang sekali saat ini banyak guru yang hanya berprofesi sebagai pengajar. Mereka lupa akan makna Guru dan kemuliaan jabatan itu. Mereka bukanlah pendidik, tetapi hanya pengajar biasa yang bekerja semata untuk memperoleh gaji. Jika keadaan ini tidak segera diubah, bangsa Indonesia akan jatuh dalam sumur gelap kebodohan dan ketidak sadaran tanpa dasar.

 

Evolusi Kesadaran yang Mandeg

Rasanya bangsa kita memang sedang mengalami kemandegan kolektif. Selama beberapa dasawarsa terakhir, kita sama sekali tidak mengalami evolusi kesadaran. Kita memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sering dikaitkan dengan kepercayaan, memenuhi kebutuhan insting secara berlebihan, atau menekannya secara paksa. Berpesta pora atau berpuasa ria secara berlebihan, keduanya memuaskan insting, tetapi sama sekali tidak menunjang kesadaran.

Ada kalanya kepuasan insting malah merusak kesehatan dan mencelakakan diri sendiri. Seperti yang terjadi ketika menahan nafsu makan selama berjam-jam kemudian yang terpikirkan hanya makanan. Dan ketika diberi makan, kita menjadi rakus, cenderung makan melebihi kebutuhan. Apalagi jika orang yang berhasil menahan lapar itu diiming-imingi dengan janji dan angin surga, dia akan menjadi budak insting. Limbic Section yang bersifat hewani akan menjadi majikannya. Dan Neo-Cortex yang bersifat manusiawi justru dininabobokan.

Pikiran-pikiran kritis yang muncul dari Neo-Cortex – seperti “Apakah dengan menahan lapar kau akan masuk surga? Lagi pula apa itu surga? Adakah orang balik dari surga dan memberi tahu ihwal surga? Adakah seorang yang memiliki pengalaman pribadi yang dapat dipertanggungjawabkan?” – akan ditentang oleh lembaga-lembaga kepercayaan. Orang yang mempertanyakan akan dicap “tidak beriman”, “tidak berTuhan”, “tidak berkepercayaan”, “ateis”, dan seringkali malah diperkarakan. Tidak jarang pula pihak penguasa mendukung lembaga-lembaga tersebut demi kepentingan politik dan posisi mereka. Dengan cara-cara seperti inilah, kemanusiaan dalam diri kita dibunuh secara teratur dan terencana. Maka terhentilah evolusi kesadaran yang seharusnya terjadi.””

 

Arsip:

 

https://www.davidpurba.com/anand-krishna-makna-dan-tujuan-pendidikan/

https://www.davidpurba.com/anand-krishna-memperbaiki-sistem-pendidikan-kita/

PENDIDIKAN, EVOLUSI SPIRITUAL DAN OTAK MANUSIA