NOVEL JAYANTAKA

N1

Jayantaka harus bertemu dengan seorang Guru Sufi Misterius. Dan proses penggemblengan pun terjadi. Ia tersedot ke dalam perang tanding antara kerajaan Nagur (Suku Simalungun) dengan Samudera Pasai yang masih berkerabat.

Takdirnya belum tunai jika belum menyerahkan benda pusaka Tatar Sunda ke kerajaan Matahari Timur.

 

Untuk Pembelian Novel Sejarah Bisa Menghubungi:

Marsaulina Pandiangan: 08129855181  

David: 081384527122

NOVEL SRIWIJAYA

N2

Tidak mudah menjadi bagian keluarga Lingkar Laksman. Wira puak Melayu ini telah bersumpah senantiasa melindungi wangsa Syailendra. Sementara tugas kemaharajaan Sriwijaya melayani 108 kadatuan Banjaran Nagara sungguh penuh resiko. Setiap tindakan selalu menuai reaksi positif dan negatif. Beruntung mereka dibimbing seorang Resi dan memiliki mandala penopang agar bisa tetap berjaya – sepanjang diindahkan! Rupanya dendam tujuh turunan keluarga Kandra Kayet masih terus membayangi keluarga Tandrun Luah (Lingkar Laksman). Tak ada pilihan, penghukuman mesti dituntaskan.

Untuk Pembelian Novel Sejarah Bisa Menghubungi:

Marsaulina Pandiangan: 08129855181  

David: 081384527122

 



 Memunculkan yang Terbaik dalam Diri Anak

(Seri Tulisan Anand Krishna tentang Pendidikan yang Holistik – tulisan ke-2)

buku bringing the best

 

Penjelasan Tujuan Pendidikan ini dikutip dari Buku:

Bringing the Best in the Child, diterbitkan Anand Krishna Global Co-Operation, 2016, halaman 41-47.

 

 MEMUNCULKAN YANG

TERBAIK DALAM DIRI ANAK

  

“Pendidikan yang tertinggi adalah, bukan yang memberi

informasi belaka namun yang membuat hidup kita

selaras dengan semua makhluk.”

 

~Rabindranath Tagore

 

oe-school-5

One Earth School, Bali

 Tragedi terbesar saat ini adalah, pendidikan telah menjadi komoditas. Layaknya barang atau komoditas perdagangan – pendidikan pun diperjualbelikan. Dan, kalau sudah menyangkut jual-beli, maka kita tidak bersaing dengan penjual lain yang menawarkan produk serupa. Kompetisi tidak sehat ini telah melahirkan sejumlah sekolah. Ada sekolah yang “dibangun” secara eksklusif bagi si kaya, ada pula sekolah yang dibangun bagi si miskin, dan yang jumlahnya paling besar, bagi mereka yang ada di tengag-tengah, sekolah untuk yang biasa-biasa saja.

SETELAH MEMPELAJARI SISTEM EDUKASI DAN SEKOLAH YANG ADA SEKARANG saya merasa sangat, sangat sedih bahwa tujuan pendidikan – “untuk apa” mendidik – telah hilang, benar-benar terlupakan.

Pendidikan, seperti yang kita semua tahu, dimaksudkan untuk “memunculkan yang terbaik yang ada dalam diri anak”. Tapi, apa yang terbaik yang ada dalam diri anak itu? Ya, yang ada “dalam diri” anak, bukan “dari seorang” anak.Yang terbaik dari “dalam diri” anak tidak ada kaitannya dengan potensi bawaan seorang anak. Hal terbaik dalam diri anak sama halnya seperti…

anak-anak bermain

YANG TERBAIK YANG ADA DALAM DIRI MANUSIA ini tidaklah sama seperti “potensi tersembunyi” dalam diri anak yang kelak membuatnya menjadi dokter yang baik, insinyur yang masyhur, penulis produktif, politisi yang waras, atau seorang professional sukses di bidang tertentu. Profesi dan kesuksesan semacam itu hanya membuatnya layak disebut anggota masyarakat dan memastikan hidup mereka berkecukupan.Kesuksesan materi dan pencapaian semacam itu bukanlah “yang terbaik” yang bisa dicapai oleh manusia dan dari diri manusia.

Coba renungkan…

Apa hal terbaik yang Anda lihat dari Gandhi? Apa hal terbaik yang Anda lihat dari Martin Luther King, Jr.? Apa hal terbaik yang Anda lihat dari Nelson Mandela?

Saya sengaja memilih ketiganya, sebab ketiganya sama-sama belajar ilmu hokum, ketiganya juga adalah para pengacara.Tapi, apakah kita mengingat mereka karena profesi itu? Tidak ada masalah dengan profesi tersebut, tidak sama sekali. Tapi, apakah profesi itu yang membuat mereka terkenal? Pertanyaan yang sama dapat juga ditujukan kepada Vivekananda, Krishnamurti, Baba, Soekarno, Nehru – atau, para pemimpin terbaik lainnya – sebagian dari mereka tidak tamat SMA, contohnya Baba dan Krishnamurti. Vivekananda, yang menjadi sumber inspirasi bagi Bapak bangsa kita, Bung Karno, dan para Pendiri Republik lainnya, adalah mahasiswa yang drop-out.Namun, kita mengenang mereka dengan penuh penghormatan, kenapa?

YANG TERBAIK DALAM DIRI MEREKA ADALAH KEMANUSIAAN MEREKA. Ya, kita harus senantiasa ingat bahwa yang terbaik dalam diri anak, yang terbaik dari seorang anak manusia – dari dalam diri setiap orang – adalah kemanusiaan kita.Apakah kita menghargainya, apakah kita menaruh sikap hormat pada baju manusia yang kita pakai; atau kenyataannya justru meremehkan dan melecehkannya?

Jangan salah paham, saya tidak mengatakan mendidik seorang anak, seorang siswa di bidang sains dan seni tidaklah penting, tidak sama sekali. Kemampuan di bidang itu juga dibutuhkan, tapi jangan sampai kita lupa, bahwa jika seorang anak tumbuh menjadi dokter, pengacara, insinyur, politisi, sebagi anggota parlemen – apa pun itu – tanpa kemanusiaan – maka ia hanya akan menjadi seorang monster, yang meneror lingkungannya untuk kepentingannya sendiri. Tidak lebih.

Kiranya, jangan sampai kita salah memahami “yang terbaik’ yang ada dalam diri anak hanya sebatas keahlian tertentu atau sekedar potensi saja.Yang terbaik dari dalam diri anak adalah sisi manusiawi dalam dirinya, kemansiaan.Ini sangat, sangatlah penting – untuk diingat.

Kita butuh sekolah, institusi pendidikan, perguruan tinggi dan universitas yang dapat memberikan kita dokter yang manusiawi, pebisnis manusiawi, industrialis manusiawi, dan yang terpenting dari semua itu adalah, kita butuh guru yang manusiawi, yang membantu memekarkan…

Toleransi manusia

YANG TERBAIK YANG ADA DALAM DIRI SEORANG ANAK, YAITU KEMANUSIAAN MEREKA! Kemanusiaan harus dipahami sebagai aroma dasarnya, keharuman yang mendasari semuanya. Segala macam jenis keahlian, kebolehan di bidang sains, dan seni semata-mata dipelajari hanya untuk menambah kemanusiaan yang memang sudah ada dalam diri anak, dan tidak ada komprominya dengan keahlian yang ia kuasai. Dengan kata lain, profesi, status social, dan seterusnya haruslah manusiawi.

Ingat, pendidikan bukanlah tujuan.Mentor saya selalu mengingatkan kita, bahwa “tujuan akhir Pendidikan adalah Karakter”.Akhir dari atau tujuan pendidikan bukanlah mencetak para pengemis peminta-minta pekerjaan.Pendidikan juga bukan hanya untuk mencari sesuap nasi, tapi mengarahkan kita untuk hidup sesuai dengan kodrat kemanusiaan kita, untuk hidup sebagai manusia bermartabat. Ya, pendidikan adalah untuk kehidupan – untuk bisa hidup sepenuhnya dan memuliakan segala bentuk kehidupan!

 

Renungan 1

Paus Francis (1936 – …)

Dari Pidato yang disampaikan di Universitas Katolik

Juli 2015, Quito Ekuador

 

paus Francis

“Pendidikan adalah hak sekaligus keistimewaan yang tidak hanya berupa pengetahuan dan keterampilan belaka, tapi juga rasa tanggung jawab untuk sesame dan bumi.

“tuhan tidak hanya memberi kita hidup, tapi juga memberi kita bumi, memberi kita semua ciptaan. Tuhan menciptakan pria dan wanita untuk satu sama lain serta memberi mereka potensi besar. Tapi ia juga memberi mereka dan memberikan setiap orang sebuah misi untuk menjadi bagian dari karya kreatif-Nya.

“Tuhan menciptakan dunia dan segala isinya, bukan agar Ia bisa melihat pantulan Diri-Nya, namun justru untuk bisa berbagi.Penciptaan adalah anugrah untuk dibagikan.

“Tempat di mana Tuhan memberi kesempatan bagi umat manusia untuk melatih kreativitas dan membangun komunitas yang saling peduli dan saling menjaga satu sama lain. Kita tidak hanya diundang untuk bisa berbagi dalam karya penciptaan dan kemudian mengolahnya ssaja, tapi juga membuatnya terus tumbuh dan berkembang. Di saat yang sama, kita dipanggil untuk peduli, untuk melindungi, dan menjadi wali-Nya.

“Mengupayakan keseimbangan dan bersikap hati-hati pada bumi adalah hal yang penting dan mendesak mengingat bahaya yang telah kita timpakan padanya, karena sikap kita yang tidak bertanggung jawab dan menyalahgunakan sumber daya yang telah dihadiahkan pada kita.

“Hanya memikirkan kepentingan diri, konsumerisme, ambisi pada uang dan kekuasaan, kurangnya rasa hormat pada apa yang sudah ditentukan Tuhan untuk semua ciptaan, termasuk pada umat manusia, menyebabkan dampak negative pada manusia dan lingkungan.

“Sama hanlnya bahwa manusia dan sekitarnya, keduanya bisa saling “memerosotkan” satu sama lain, pun bisa dibilang bahwa keduanya juga bisa saling mendukung dan dapat membawa ke perubahan yang lebih baik. (Kita) tidak bisa lagi menutup mata atas apa yang terjadi di sekitar (kita) ataupun berpura-pura seakan-akan hal itu tidak menimbulkan dampak pada kehidupan kita. Adalah sangat mendesak bagi kita untuk senantiasa merenungkan dan membicarakan tentang keadaan yang sedang kita alami kemudian mengambil tindakan nyata.

“Tanpa tindakan nyata, maka kita bagaikan Qabil yang ada di Kitab Perjanjian Lama, yang membunuh saudaranya Habil, dan saat Tuhan menanyai Qabil di mana gerangan Habil, demikian ia menjawab, “Memang hanya aku seorang yang harus menjaga saudaraku?” Saya pun bertanya-tanya, apakah jawaban kita akan sama seperti, “Memang hanya aku seorang yang harus menjaga saudaraku?”

“Kita telah menerima bumi ini sebagai warisan, anugrah, amanah. Ada baiknya kita coba bertanya pada diri kita: Dunia macam apa yang kelak akan kita wariskan? Makna dan arah hidup macam apa, yang akan kita sematkan dalam kehidupan kita? Mengapa kita semua berada di sini?

“Pertanyaan semacam itu seharusnya menjadi bagian dari sebuah proses pendidikan. Kiranya bantuan apa yang dapat kita berikan agar pendidikan mereka menjadi sebuah tanda akan sebuah tanggung jawab dalam menjawab semua tantangan saat ini, terutama tentang masalah lingkungan dan kebutuhan kaum papa?”

(Sumber: Catholic Herald, 2015)

 

Ada 4 tulisan menarik Anand Krishna lagi dalam buku ini, silahkan kunjungi: www.booksindonesia.com