NOVEL JAYANTAKA

N1

Jayantaka harus bertemu dengan seorang Guru Sufi Misterius. Dan proses penggemblengan pun terjadi. Ia tersedot ke dalam perang tanding antara kerajaan Nagur (Suku Simalungun) dengan Samudera Pasai yang masih berkerabat.

Takdirnya belum tunai jika belum menyerahkan benda pusaka Tatar Sunda ke kerajaan Matahari Timur.

 

Untuk Pembelian Novel Sejarah Bisa Menghubungi:

Marsaulina Pandiangan: 08129855181  

David: 081384527122

NOVEL SRIWIJAYA

N2

Tidak mudah menjadi bagian keluarga Lingkar Laksman. Wira puak Melayu ini telah bersumpah senantiasa melindungi wangsa Syailendra. Sementara tugas kemaharajaan Sriwijaya melayani 108 kadatuan Banjaran Nagara sungguh penuh resiko. Setiap tindakan selalu menuai reaksi positif dan negatif. Beruntung mereka dibimbing seorang Resi dan memiliki mandala penopang agar bisa tetap berjaya – sepanjang diindahkan! Rupanya dendam tujuh turunan keluarga Kandra Kayet masih terus membayangi keluarga Tandrun Luah (Lingkar Laksman). Tak ada pilihan, penghukuman mesti dituntaskan.

Untuk Pembelian Novel Sejarah Bisa Menghubungi:

Marsaulina Pandiangan: 08129855181  

David: 081384527122

 



Bronkhitis Sembuh dengan Meditasi, Melalui Teknik Berteriak – Voice Culturingdan Teknik Pernapasan Sempurna

Program Seni Memberdaya Diri ini Sangat Efektif untuk Menjaga Kejernihan Pikiran

dan Kestabilan Emosi. Dan Kesehatan adalah buahnya.

Mandi segar

Segar bagai mandi di pancuran


 

Sejak kecil saya memang memiliki riwayat kesehatan yang kurang baik. Saya sering mengalami keluhan fisik seperti mudah capek dan stamina kurang fit. Penyakit yang paling mengganggu yang pernah saya alami adalah bronkhitis. Bila sore hari tiba, saya yang masih kecil dilarang beraktifitas karena udara yang sedikit lembab dapat mengganggu sistem pernapasan, saya akan mudah sesak. Keadaan ini berlangsung hingga masa kuliah. Lalu saya mengikuti salah satu aliran Pencak Silat di Medan, yang menurut penuturan teman-teman dapat menyembuhkan sakit saya secara permanen.

 

Akan tetapi fisik saya tidak pernah terasa bugar dan fit seperti yang saya harapkan. Terlebih bila ada stres maka badan akan mudah lemah, selera makan tidak ada, dan kemudian lambung terasa perih.

 

Hingga suatu ketika saya,

bertemu dengan sebuah buku berwarna kuning dengan judul memikat: Seni Memberdaya Diri 1 dan Neo Zen Reiki. Pertemuan dengan buku istimewa ini terjadi di toko buku Gramedia Matraman, Jakarta Timur, tahun 1999.  Saya sangat antusias membuka lembar demi lembarnya. Karena apa yang saya cari selama ini tentang konsep Penyembuhan  bagi diri sendiri’ ternyata memang sangat memungkinkan, dan benar memang ada. Lewat program Seni Memberdaya Diri 1 dan Neo Zen Reiki (seperti judul buku) yang diperkenalkan Bapak Anand Krishna, saya akhirnya menemukannya.

 

buku-semedi-1

Buku Seni Memberdaya Diri 1

 

buku seni memberdaya diri revisi

Buku Seni Memberdaya Diri dan Neo Zen Reiki Revisi

 

Aha, ini dia!!!

Ini dia yang saya cari-cari. Tidak perlu lagi bergantung pada dokter dan segala macam obat-obatan.” Hari itu juga, saya bertemu dengan sebuah harapan! Betapa bersemangatnya saya ketika itu.

 

Hal yang lebih menakjubkan lagi, yang saya temukan dalam buku ini adalah, dijabarkannya apa itu yang disebut ‘bagian diri kita’, yang selama ini tidak pernah saya ketahui. Jelas saya tidak mengetahuinya karena memang tidak ada yang memberitahuku sebelumnya. Bahwa ternyata ‘diri kita’ terdiri dari berbagai lapisan kesadaran. Dan bahwa kesehatan kita dipengaruhi oleh banyak hal baik faktor internal maupun eksternal. Ujung-ujungnya mempengaruhi setiap lapisan: fisik, energi, emosi, intelejensia dan spiritual yang kita miliki. Berdasarkan lima lapisan kesadaran inilah, Bapak Anand Krishna merancang 5 latihan seperti yang ada di dalam buku yang sesuai dengan manusia Indonesia moderen. Latihannya mudah dipahami, apalagi bisa berlatih bersama di Anand Ashram Sunter, Jakarta. Dan latihan favorit saya adalah Speedy Relaxation, Voice Culturing dan Sistem Pernpasan Sempurna.  Kedua Latihan ini intensif saya lakukan di rumah juga. Sehingga hasilnya luar biasa.

 

Penyakit tidak serta-merta terjadi!

Penyakit yang menggerogoti fisik, mental-emosional kita tidak secara tiba-tiba hadir. Penyakit timbul sebagai akumulasi berbagai keluhan, kesalahan dan ketidaktahuan kita akan hakekat diri atau tubuh sendiri. ‘Rasa’ dalam berbagai rupa dan situasi secara tak sadar sering menyebabkan badan mengalami ketegangan. Emosi/rasa sering tidak terkendali, bahkan kita pendam lapis demi lapis. Rasa kesal, amarah, dendam dan cemburu semuanya kita tumpuk dan simpan. Ingin rasanya berteriak namun tidak bisa. Ingin rasanya marah tetapi masalah bisa makin besar. Tak jarang, cara pandang kita pun tidak jernih lagi. Pada akhirnya kita lupa bagaimana keadaan pikiran yang jernih itu. Bagaimana ‘rasa’ yang seimbang itu.

 

Celakanya, kita malah lebih sering menyalahkan dunia luar atas segala permasalahan yang kita hadapi.

 

Saatnya melakukan koreksi diri,

menoleh, melihat, meniti ke dalam diri. Karena jika pikiran, perasaan (MIND) kacau, maka pernapasan otomatis ritmenya tidak teratur. Badan akan sakit. Bila keadaan seperti ini, jelas bukan ‘kita’ lagi pemegang kunci kendali atas diri kita sendiri.

 

Buku ini memang unik. Saat itu belum ada buku di Indonesia yang membahas tentang “Siapa Diri Kita” segamblang dan sesederhana bahasa Bapak Anand Krishna, belum ada. Yang rumit disederhanakan. Yang tak terpikirkan selama ini ditunjukkan wujudnya sejelas kita bisa memandangnya dengan sangat dekat. Sungguh luar biasa pengalaman saya ketika itu. Saya semakin yakin akan penemuanku.

 

Apakah ada jaminan kita dapat memiliki hidup yang sempurna?

Tanpa duka, kegagalan, konflik, intrik dll., dalam kehidupan ini? Tentu tidak bukan? Lalu apakah kita harus mengutuki orang lain atas keberhasilan dan kebahagiaan mereka? Sementara kita terjebak dalam dunia kita yang serba tidak terkendali dan tidak bahagia? Hmmm… Berarti ini saatnya melakukan revolusi pemahaman tentang diri sendiri.

Aku bebas

Aku Bebas…

 

Dan saatnya membuktikan apa yang tertulis dalam buku…

Saya pun terkesiap, sedih, marah, dan akhirnya bahagia. Ternyata, ketika mengikuti program Meditasi Membersihkan Diri atau Seni Memberdaya Diri di Anand Ashram Jakarta, bagi saya, ibarat mandi di bawah pancuran air bening, segar dan menyejukkan. Emosi yang terpendam selama ini bisa dibersihkan. Amarah yang tersimpan selama ini bisa dimuntahkan. Rasa kesal yang selama ini tertahan, diteriakkan. Rasa rendah diri yang terbentuk selama ini dapat dikoreksi, dibenahi.

 

Perlahan-lahan dan pasti,

saya merasakan, mengalami perubahan-perubahan dalam hidup. Kelegaaan, kejernihan, kesegaran dan kebahagiaan dapat saya peroleh. Saya tidak skeptis terhadap kehidupan lagi. Saya tidak melihat kehidupan itu sepotong-sepotong lagi. Sudut pandang mulai utuh. Selamat tinggal conditioning masyarakat, lingkungan yang turut membentuk cara pandangku yang sempit. Sekarang, berkat mandi di bawah pancuran program Seni Memberdaya Diri, saya bisa menjadi ‘tuan’ atas diri saya, meski pun kesadaran ini masih kesadaran awal. Sekarang saya tidak menggantungkan urusan kesehatan fisik, emosi dan intelektual saya terhadap orang lain lagi. Sebuah prospek yang menjanjikan bukan?

 

Badan kita akan selalu kotor, berkeringat, kena debu; emosi kita akan selalu terganggu keseimbangannya; kejernihan pikiran kita akan selalu berfluktuasi. Tapi kegiatan “mandi” untuk membersihkan diri menjadi kebutuhan utama bagi saya. Adakah diantara kita yang dapat meniadakan ‘kegiatan mandi dan makan’ yang merupakan kebutuhan utama dan mendasar bagi kita? Tentu tidak bukan? Demikian juga dengan ‘program pembersihan diri dan pemberdayaan diri’ ini bagi saya.

 

Kita tidak lagi rentan dan rapuh

akibat berbagai pengaruh situasi kehidupan yang serba kompleks yang terjadi di tengah masyarakat. Dampaknya, saya tidak lagi mudah terjebak dalam permainan emosi, tidak lagi mudah terpengaruh pasang surut rasa kesal, amarah, cemburu, pikiran picik yang dipicu oleh dunia luar. Sebab saya sekarang memiliki kebiasaan “mandi” di bawah pancuran Meditasi – Seni Memberdaya Diri – yang menyegarkan setiap kali saya melakukannya.

 

Kita tidak dapat meniadakan semua pengaruh buruk dunia luar,

akan tetapi kita pun tidak usah terjebak dengan permainan pikiran dan emosi yang justru berasal dari dalam diri. Sekarang saya memiliki “Pancuran” untuk membersihkan diri setiap hari. Tidak perlu ke gunung atau lembah untuk  berburu ‘air pancuran khusus’ untuk membersihkan diri. Betapa melegakannya khabar gembira ini bukan?

 

Anda masih ingat perasaan lega, sejuk, segar setiap usai mandi? Nah, itulah manfaat program Seni Memberdaya Diri dan Neo Zen Reiki… Dan Anda pun berhak mencoba Meditasi Membersihkan Diri ini.

 

Salam, Horas, Diatetupaterimakasih.